Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Langit umumnya cerah, 21.6 ° C

Raja Salman, Sang Penjaga Dua Kota Suci yang Peduli kemanusiaan

Sekitar 81 tahun lalu, dunia telah kehadiran seorang pemimpin besar dunia bernama Salman bin Abdulaziz al-Saud. Ia lahir dari Rahim seorang keturunan bangsawan Al Sudairi, Hassa binti Ahmad al-Sudairi, pada 31 Desember 1935 di Riyadh. Sedangkan ayahandanya bernama Raja Abdulaziz bin Abdulrahman al Saud.

Salman kecil begitu lekat kehidupannya dengan nuansa religius. Dia mulai menimba ilmu di sekolah yang didirikan ayahandanya Abdulaziz sebagai wadah pendidikan bagi para Pangeran Saudi, Prices School di Riyadh. Di sekolah itu, Salman ditempa dengan pendalaman ilmu agama dan juga sains modern. Ia kemudian, melanjutkan pendidikannya di Perancis yang turut memberikannya banyak perspektif yang semakin luas.

Semenjak kecil, Salman telah terbiasa dengan hidup di lingkungan yang berdisiplin tinggi. Maka tak heran, Ia bisa menjadi penghafal alquran pada usia 10 tahun pada 22 Juli 1945. Bahkan, Raja Salman juga dikenal sebagai seorang yang selalu mampu hatam alquran 3 kali dalam tiap bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilaporkan Arab News.

Raja Salman tumbuh dewasa dengan semakin cakap. Di antaranya, Ia telah mulai diberi kepercayaan untuk memegang amanah di kursi pemerintahan. Posisi pertama yang Ia laksanakan adalah menjadi Wakil Gubernur Riyadh pada 1954. Kemudian, Ia juga menjabat sebagai Gubernur di ibukota Saudi pada 1955 hingga 1960. Salman ditunjuk menjadi Wakil Perdana Menteri kedua sekaligus menjabat sebagai Menteri Pertahananan Saudi pada 5 November 2011. Setelah kematian kakaknya, Nayef bin Abdulaziz, Salman kemudian dinobatkan sebagai calon pewaris tahta kerajaan Saudi.

Cinta Alquran

Meskipun disibukkan dengan berbagai tanggungjawabnya sebagai Raja Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman tidak lantas mengabaikan kecintaannya kepada Alquran. Selain menjadi hafiz, Ia juga aktif dalam upayanya mendorong pendalaman agama generasi muda negaranya. Hal itu dibuktikan ketika Ia mulai menginisiasikan lomba menghafal Al-quran bertajuk “Prince Salman Prize for Quran Memorization” untuk anak-anak baik laki-laki ataupun perempuan di seantero Saudi Arabia pada 1989.

Perhelatan akbar yang diambil dari nama Raja Salman itu, digelar rutin setiap tahun di bawah naungan Kementerian Urusan Islam, Wakaf, dan Dakwah. Tujuannya, tak lain adalah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alquran pada generasi muda serta dapat semakin mempererat persaudaraan umat Islam melalui ayat suci Al-quran.   

Penjaga Dua Kota Suci dan Peduli kemanusiaan

Penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah atau Khodimul Haromain, merupakan julukan yang bersejarah yang disematkan kepada para Sultan Ayyubiyah, para sultan Mesir Mamluk dan para Sultan Utsmaniyah. Kemudian, julukan tersebut kembali digunakan oleh para raja Arab Saudi. Hal tersebut tak lain untuk menggambarkan peran Raja Arab sebagai penjaga Mekkah dan Madinah, dimana disana terdapat dua masjid suci yang terjaga bagi Umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Raja Arab Saudi yang pertama mendapat gelar Khodimul Haromain adalah Fahd bin Abdul Aziz pada 1986. Raja Fahd mengganti istilah “Paduka Yang Mulia” menjadi “Penjaga Dua Kota Suci”. Selanjutnya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz sebagai pengganti Raja Fahd juga menggunakan gelar tersebut pada 2015.  

Raja Salman adalah raja ketujuh Arab Saudi setelah menggantikan Raja Abdullah yang telah wafat. Ia resmi memerintah Saudi pada 23 Januari 2015.  

Raja Salman selain berjasa di bidang agama, Ia juga berjasa sebagai penyokong utama terhadap kegiatan filantropi yang telah membantu negara-negara muslim miskin di dunia. Di antaranya seperti Somalia, Sudan, Bangladesh, Bosnia-Herzegoniva dan Afganistan.

Ia terkenal sebagai seorang raja yang dermawan, karena setiap kunjungannya Ia selalu mendonasikan jutaan bahkan miliar dana guna kemajuan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat di negeri tersebut.

Raja Salman aktif dalam mendukung Syaikh bin Baz Foundation, memimpin dewan pengawas Pusat Penelitian Madinah. Selain itu, Ia juga menjadi ketua dari King Salman Centre for Disability Research yang juga peduli terhadap peningkatan kualitas hidup para difabel. Hal itulah, yang membuat Raja Salman sempat mendapat banyak pujian di PBB.

Ia bahkan mendapat banyak penghargaan atas kepeduliannya dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Di antaranya adalah Penghargaan dari The Handicapped Children Association untuk pelayanan terhadap  kemanusiaan di Arab Saudi (1995), The United Nations Shield atas kontribusi penanggulangan kemiskinan di dunia (1997), The Bahrain Award untuk kinerja kemanusiaan (2008) dan sederet lainnya. (Nurul Nur Azizah)***

Bagikan: