Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Len Digandeng MRT Jakarta Optimalkan Konten Lokal

Ai Rika Rachmawati
PRESIDEN Joko Widodo melihat alat bor terowongan di lokasi proyek bawah tanah MRT Jakarta, Kamis, 23 Februari 2017.*
PRESIDEN Joko Widodo melihat alat bor terowongan di lokasi proyek bawah tanah MRT Jakarta, Kamis, 23 Februari 2017.*
BANDUNG, (PR).- PT Len Industri (Persero) digandeng PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta untuk mengembangkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bidang fasilitas pengoperasian kereta api Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ibu kota tersebut. Bagi Len, kerja sama tersebut memiliki nilai strategis untuk transfer pengetahuan terkait sarana transportasi perkotaan, sedangkan bagi MRT Jakarta menjadi upaya untuk meningkatkan konten lokal.

"Target Len adalah memiliki kompetensi lengkap untuk membangun sarana transportasi perkotaan. Dengan kerja sama ini, kami bisa memperlajari teknologi terbaru," kata Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Zakky Gamal Yasin, usai Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan PT MRT Jakarta, di kantor Len, Jalan. Soekarno Hatta, Bandung, Rabu 1 Maret 2017.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Direktur Operasional 1 PT Len Industri (Persero) Tri Andayani dan Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Agung Wicaksono. PT MRT Jakarta merupakan BUMD pelaksana sekaligus operator MRT Jakarta.

Saat ini pembangunan MRT Jakarta sudah memasuki konstruksi fase 1 lintas koridor Lebak Bulus sampai dengan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Panjang MRT tersebut sekitar 16 km dan terdiri dari 7 stasiun elevated serta 6 stasiun underground.

Agung mengatakan, kerja sama tersebut dijalin dengan Len karena SDM BUMN tersebut sudah diakui keandalannya, melalui sertifikasi IRSE (Institution of Railway Signal Engineer), yang merupakan Asosiasi Profesi Signal & Telekomunikasi Kereta Api Dunia. Kerja sama pengembangan SDM tersebut akan berlangsung selama dua tahun ke depan.

"Kami akan bersinergi, khususnya dalam membangun kapasitas dan kompetensi SDM MRT agar siap untuk menghadapi periode pengoperasian dan maintenance jangka panjang. Semoga kerja sama ini bisa langkah awal yang baik untuk kerjasama pembangunan Perkeretaapian Mass Rapid Transit Nasional,” ujar Agung.

Dalam kerja sama tersebut, menurut dia, walaupun jumlah tenaga kerja yang akan mengoperasikan MRT tahap pertama berjumlah sekitar 400 orang, namun yang akan ditingkatkan kapasitasnya adlaah 25-30 orang. Mereka akan untuk menjalani pelatihan di PT Len.

Melalui kerja sama tersebut, Agung mengaku berharap, pada pembangunan MRT Jakarta fase kedua akan lebih banyak penggunaan komponen lokal. Salah satunya adalah sistem persinyalan dari PT Len.

Konten lokal

Agung mengakui, saat ini penggunaan konten lokal dalam pembangunan MRT Jakarta belum optimal. Ia mengatakan, hal itu terjadi karena hingga saat ini pemerintah belum mengeluarkan aturan pasti terkait jumlah penggunaan unsur lokal tersebut.

Ia menilai, pemerintah perlu menetapkan jumlah pasti komponen lokal yang harus digunakan dalam pembangunan yang dikerjasamakan dengan Jepang tersebut. Menurut dia, pada pembangunan fase pertama konten lokal memang sudah digunakan, tapi belum menyeluruh.

"Untuk konstruksinya banyak komponen lokal yang sudah digunakan. Akan tetapi, untuk persinyalan dan sarana keretanya belum. Lebih banyak Jepangnya. Komponen lokal Indonesia masih minim," tutur Agung.

Ia menatakan, penggunaan komponen lokal sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri Indonesia, terutama jika ingin menjadikan MRT sebagai program pembangunan strategis. Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah perlu mengarahkan penggunaan komponen lokal dengan menerbitkan aturan pastinya.

"Pemerintah harus mengarahkan berapa persen komponen lokal yang harus digunakan," katanya.

Ia mengakui, saat ini pemerintah sudah mengeluarkan aturan terkait penggunaan komponen lokal. Akan tetapi, belum diatur setiap paket. "Ke depan perlu diatur untuk setiap paketnya," tutur Agung.

Ia mengatakan, saat ini pembangunan konstruksi fisik MRT fase pertama tersebut sudah mencapai 67 persen. Sementara sistem persinyalan dan sarana perkeretaapiannya baru 27 persen. Kendati demikian, ia mengaku optimistis, target pengoperasian pada Maret 2019 akan terkejar.***
Bagikan: