Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya cerah, 27 ° C

LIPI Kembangkan Obat Malaria Berteknologi Nano

Siska Nirmala Puspitasari
JAKARTA,(PR).- Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan bahan baku obat malaria berbasis Artemisin Based Combination Therapy (ACT) dengan teknologi nano. Obat tersebut terbukti lebih efektif diserap oleh tubuh penderita malaria.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Yenni Meliana menuturkan, pengembangan obat tersebut dilakukan karena pengobatan malaria yang ada saat ini belum berjalan maksimal. Hal tersebut karena sejumlah lokasi sudah bukan daerah endemis malaria sehingga pasien tidak segera terdiagnosis sebagai pasien malaria.

“Kurangnya cakupan pengobatan malaria menggunakan ACT salah satunya dikarenakan beberapa lokasi yang sudah bukan daerah endemis malaria, seperti Jakarta dan sekitarnya,” tutur Yenni dalam Diskusi di Gedung Sasana Widya Sarwono, LIPI, Selasa 29 November 2016 seperti dilansir dalam rilis yang diterima "PR".

Dia menuturkan, kasus malaria yang datang dari daerah non endemis kerap kali terlengahkan, sehingga pasien tidak segera terdiagnosis sebagai pasien malaria.

Obat malaria berteknologi nano, dia menjelaskan, akan lebih efektif karena obat malaria bekerja lebih baik jika larut dalam air. Berbeda dengan obat malaria yang dikonsumsi dengan cara dimakan. “Caranya, dengan memperkecil ukuran kristal artemisinin ke dalam cakupan ukuran nanocrystal sehingga mudah larut dalam air,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, peningkatan kelarutan artemisinin dapat dilakukan dengan mendispersikan bahan obat itu dengan bahan pendispersi. Tujuannya, untuk meningkatkan kelarutannya di dalam air atau disebut nanodidpersi.

Hasil penelitian yang dilakukannya itu juga telah mendapatkan penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal-UNESCO For Women In Science National Fellowship Awards for Woman 2016.

Diketahui malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di tingkat global, termasuk Indonesia. Pada tahun 2015, WHO memperkirakan ada sekitar 214 juta kasus baru malaria, dengan kematian sekitar 438 ribu orang di seluruh dunia.

Beberapa wilayah di Indonesia yang telah dikategorikan sebagai daerah zona merah penderita malaria seperti Papua, Papua Barat Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tahun 2015 terdapat 209.413 kasus malaria di Indonesia. ***
Bagikan: