Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

UWRF 2016 Hadirkan 150 Penulis dan Pegiat Seni dari 20 Negara

Catur Ratna Wulandari
DARI kiri ke kanan: sastrawan Seno Gumira Ajidarma, sutradara Wregas Bhanuteja, pegiat hak asasi manusia Kanada Anastasia Lin, novelis dan jurnalis investigasi Korea Selatan Suki Kim, Direktur Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) Janet DeNeefe, dan pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana hadir pada konferensi pers UWRF 2016 di Restoran Indus, Jalan Sanggingan, Ubud, Bali, Rabu 26 Oktober 2016. UWRF tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-13 dan digelar pada 26-30 Oktober 2016 di Ubud, Bali.*
DARI kiri ke kanan: sastrawan Seno Gumira Ajidarma, sutradara Wregas Bhanuteja, pegiat hak asasi manusia Kanada Anastasia Lin, novelis dan jurnalis investigasi Korea Selatan Suki Kim, Direktur Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) Janet DeNeefe, dan pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana hadir pada konferensi pers UWRF 2016 di Restoran Indus, Jalan Sanggingan, Ubud, Bali, Rabu 26 Oktober 2016. UWRF tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-13 dan digelar pada 26-30 Oktober 2016 di Ubud, Bali.*
DENPASAR, (PR).- Setelah menghadapi upaya penyensoran tahun lalu, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) kembali digelar. UWRF ke-13 kali ini menghadirkan 150 penulis, seniman, penampil, dan advokat dari 20 negara.

"Tahun lalu memang sangat menantang. Tahun yang menarik buat kami. Tahun ini kami tetap membicarakan isu penting," kata penggagas dan Direktur UWRF Janet DeNeefe pada konferensi pers yang menandai dimulainya UWRF 2016 di Restoran Indus, Jalan Raya Sanggingan, Ubud, Bali, Rabu 26 Oktober 2016.

Tahun lalu, UWRF harus membatalkan sesi diskusi yang membahas peristiwa 1965. UWRF terancam batal jika sesi itu tetap digelar. Panitia akhirnya membatalkan sesi itu.

UWRF tahun ini mengambil tema "Tat Tvam Asi. I am You, You are Me". Makna Tat Tvam Asi pada intinya sama dengan Bhinneka Tunggal Ika, kesatuan dalam keberagaman.

"Dunia ini sebenarnya satu. Lahir dari satu dan yang banyak menjadi satu lagi dalam proses yang panjang," kata pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, Ketut Suardana.

Menurut dia, dalam kondisi dunia yang penuh konflik, Tat Svam Asi menjadi spirit untuk membangun kesadaran keragaman bangsa, budaya, dan agama. Kesadaran itu penting untuk membangun dunia yang lebih baik.

"Semoga pesan ini bisa disebarkan dibawa pulang ke negara masing-masing," kata Ketut.

Penulis Seno Gumira Ajidarma mengatakan, festival seperti UWRF berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang lebih terbuka. Terbuka pada berbagai gagasan dan diskusi.

"Sekarang kita punya komunikasi yang lebih baik tapi secara kualitas, kita masih perlu banyak belajar," kata Seno.

Beberapa pembicara yang hadir akan membagikan pengalaman, tak hanya soal sastra dan literasi tapi juga soal hak asasi manusia, aktivisme, dan lainya.

Beberapa pembicara asing yang akan hadir ialah Suki Kim, jurnalis investigasi dan novelis berdarah Korea yang tinggal di Amerika Serikat. Ia akan membagikan kisahnya saat melakukan penyamaran ke Korea Utara. Hadir pula Anastasia Lin, aktris Kanada yang kini menjadi pegiat hak asasi manusia.

Sementara dari Indonesia akan hadir beberapa penulis ternama seperti Eka Kurniawan, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan Agustinus Wibowo. Hadir pula beberapa jurnalis senior seperti Desi Anwar dan Endy Bayuni.

UWRF tahun ini diramaikan beberapa nama dari dunia perfilman di antaranya Joko Anwar dan Slamet Rahardjo. Hadir pula sutradara muda Wregas Bhanuteja, sutradara "Prenjak". Film pendek itu baru saja memenangi penghargaan film pendek terbaik di Cannes Film Festival 2016.

Sampai 30 Oktober 2016, UWRF menggelar puluhan kegiatan yang tersebar di beberapa lokasi di Ubud.***
Bagikan: