Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Arcandra Tahar Diberhentikan Presiden

Sjafri Ali
MENTERI Sekretaris Negara Pratikno dan Staf Khusus Presiden, Johan Budi menyampaikan pemberhentian Arcandra Tahar selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Kantor Presiden, Jakarta, Senin 15 Agustus 2016.*
MENTERI Sekretaris Negara Pratikno dan Staf Khusus Presiden, Johan Budi menyampaikan pemberhentian Arcandra Tahar selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Kantor Presiden, Jakarta, Senin 15 Agustus 2016.*

JAKARTA, (PR).- Presiden Joko Widodo memberhentikan dengan hormat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar. Keterangan resmi pemerintah disampaikan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Senin 15 Agustus 2016 malam.

"Presiden memutuskan untuk memberhentikan dengan hormat saudara Arcandra Tahar dari posisi menteri ESDM," kata Pratikno. Menurut dia, keputusan yang diambil presiden setelah menyimak dinamika yang ada dan informasi dari berbagai sumber. Dengan diberhentikannya Arcandra, ia merupakan menteri dengan jabatan hanya 20 hari, menteri dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah Indonesia. 

Sebagai penggantinya, Luhut Binsar Pandjaitan yang sekarang menjabat Menko Maritim, kemudian ditunjuk presiden sebagai pejabat sementara Menteri ESDM. 

Sebelumnya, Ketua Umum Golkar Setya Novanto meminta semua pihak utamakan kepentingan bangsa dan negara terkait isu dwi kewarganegaraan Menteri ESDM Arcandra Tahar. "Terlepas dari isu itu, DPP Partai Golkar menghargai langkah pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo yang membuat kebijakan menempatkan orang-orang yang benar-benar ahli serta berpengalaman untuk menempati posisi menteri ESDM agar kinerja kementerian yang dipimpin akan bergerak cepat dan tepat sasaran,” tegas Novanto dalam keterangan tertulisnya pada wartawan di Jakarta, Senin 15 Agustus 2016.

Arcandra Tahar, kata Novanto, bukan orang Indonesia pertama yang dipanggil kembali ke Indonesia, sebagai menteri karena memiliki kemampuan, pemikiran, yang sangat berguna bagi bangsa dan negara. Melainkan sebelumnya Presiden Soeharto pada 1974, memanggil Bacharuddin Jusuf Habibie yang memiliki karier dan kehidupan yang sangat baik di Jerman untuk dijadikan sebagai Menristek RI.

Bahkan, saat itu kata Novanto, Habibie sudah ditawari menjadi warga negara kehormatan oleh Pemerintah Jerman, namun Habibie tetap memilih kembali ke tanah air untuk membangun Indonesia dengan ilmu pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya. "Jadi, saya melihat apa yang dilakukan oleh Arcandra Tahar 'mirip-mirip' dengan apa yang dilakukan oleh Habibie," ujarnya.

Terkait masalah kewarganegaraan ganda yang di isukan kepada Arcandra Tahar, Novanto berharap kita semua untuk mengembalikan kepada pemerintah dengan tetap mengedepankan kepentingan bangsa dan negara demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.***

Bagikan: