Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Stok Kosong Bukan Alasan RS Terima Sembarang Vaksin

Arie C. Meliala
MANTAN Direktur PT Kimia Farma Bidang Trading and Distribution Tatat Rahmita Utami dalam Diskusi "Vaksin Palsu, Korban Asli" di Mentang, Jakarta, Sabtu, 16 Juli 2016.*
MANTAN Direktur PT Kimia Farma Bidang Trading and Distribution Tatat Rahmita Utami dalam Diskusi "Vaksin Palsu, Korban Asli" di Mentang, Jakarta, Sabtu, 16 Juli 2016.*
JAKARTA, (PR).- Stok vaksin di rumah sakit sedang kosong, bukan alasan pembenaran rumah sakit menerima tawaran vaksin dari pihak-pihak yang menawarkan. Apalagi distributor vaksin yang resmi tidak banyak bahkan importis vaksin yang mahal pun jumlahnya hanya sedikit. Sehingga tidak ada alasan rumah sakit tidak tahu dari mana vaksin diterima.

"Saya tekankan kan vaksin itu distributornya nggak banyak, sedikit. Apalagi yang mahal, cuma ada beberapa distributor besar di Indonesia yang ditunjuk, karena ini impor. Jadi kalau ada distributor lokal lalu dia menawarkan vaksin luar negeri, mestinya dokter curiga dong, RS curiga dong, itu vaksin asalnya dari mana. Harusnya mereka nanya dong, Itu yang poin saya," kata mantan Direktur PT Kimia Farma Bidang Trading and Distribution Tatat Rahmita Utami ditemui usai Diskusi "Vaksin Palsu, Korban Asli" di Menteng, Jakarta, Sabtu, 16 Juli 2016.

Tatat mengatakan RS seharusnya mengecek benar atau tidaknya vaksin yang diterima. Apalagi rumah sakit memiliki manajemen penggunaan obat (MPO) yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Sehingga tidak ada alasan RS menerima obat atau vaksin tanpa melakukan pengecekan sebagai bentuk kontrol internal.

"Kalau RS yang bagus kan ada ada MPO. Nah MPO ini kan ada farmasinya, ada apotekernya jadi mereka mengecek. Kira-kira ini obat siapa distributornya. Mereka selalu tahu distributor ini betul terdaftar atau nggak. Pasti bisa dicek. Hari gini masak tidak bisa," kata Tatat.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi juga menyoroti MPO di rumah sakit. Bagi RS, menurut Tulus, obat sesuatu yang sangat krusial sehingga ibarat penerbangan, tidak bolah ada yang gagal. Artinya pengawasan obat di rumah sakit tidak jalan. Padahal peran mengecek obat ini sangat penting untuk mengetahui obat layak atau tidak.

"Kalau ada vaksin palsu yang kemudian masuk itu kan ada persoalan persoalan dalam manajemen pengelolaan obat itu. Artinya ada keterlibatan manajemen karena terbukti ada kontrak RS dengan rekanan tertentu yang ditandatangani direktur RS. Artinya ada kesengajaan RS itu memang menggunakan vaksin palsu," kata Tulus.***
Bagikan: