Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Peserta Simposium 1965 Teriaki Taufik Ismail Provokator

Muhammad Irfan
PENYAIR Taufik Ismail membacakan puisi di Simposium Nasional Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa, 19 April 2016. Penampilan Taufik cukup kontroversial dan mendapat berbagai respon dari peserta simposium.*
PENYAIR Taufik Ismail membacakan puisi di Simposium Nasional Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa, 19 April 2016. Penampilan Taufik cukup kontroversial dan mendapat berbagai respon dari peserta simposium.*
JAKARTA, (PR).- Ada peristiwa cukup menggagetkan di tengah Simposium Nasional Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa, 19 April 2016. Taufik Ismail, penyair kenamaan yang dikenal sebagai salah satu pendiri Manifes Kebudayaan di tahun 60-an didapuk untuk membacakan puisi.

Majunya tokoh yang sempat menolak Indonesia People Tribunal di Belanda 2015 lalu itu awalnya tak langsung disanggah oleh para audiens. Namun, puisinya berjudul "Angka Angka" yang bercerita tentang pembantaian komunis di 75 negara pada masa perang dingin dianggap memprovokasi dan menyindir para korban 1965 adalah dalan dari Gerakan 30 September.

"Dimana-mana ideologi ini gagal total. Di bawa ke Indonesia oleh Muso...," ucapnya setengah berteriak.

Ucapannya ini lantas mendapat sorakan dari hampir semua audiens. Ilham Aidit, putra DN Aidit yang berdiri di seberang Taufik pun berdiri dan meminta Taufik keluar.

"Keluar. Provokator," ucapnya.

Beberapa orang pun nampak kebingungan. "Rekonsiliasi nih kayak gini?," ucap salah satu peserta.

Nurlaela, dari Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Sulawesi Tengah, membenarkan jika puisi yang dibacakan Taufik memang bernada provokatif. "Sikap seperti itu kan tentunya merugikan keluarga korban untuk menuju proses rekonsiliasi dan menuntut rehabilitasi," ujarnya.***
Bagikan: