Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 29.9 ° C

Simposium 1965 Sebagai Pintu Masuk Penyelesaian Kasus HAM

Muhammad Irfan
JAKARTA, (PR).- Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Panjaitan mengatakan tujuan digelarnya Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan sebagai pintu masuk penyelesaian kasus HAM di Indonesia. Menurut Luhut, sebagai bangsa yang besar, Indonesia perlu melihat kelemahan dan kekurangan yang ada serta berdamai dengan masa lalu untuk membangun masa depan bangsa yang lebih besar lagi.

"Kami sepakat dengan simposium ini. Pemerintah Indonesia akan menyelesaikan semua pelanggaran HAM dengan transparan, tanpa ada yang harus dikurang-kurangi," kata Luhut dalam Simposium Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin 18 April 2016.

Diakuinya mewujudkan simposium ini bukan proses mudah. Banyak pro kontra yang mengiringinya. Namun, semangat Presiden Joko Widodo yang menginginkan penyelesaian kasus HAM membuat simposium ini harus dilaksanakan. Luhut pun berharap pada simposium ini jangan terjadi benturan antara satu kelompok dengan kelompok lain.

"Katakanlah benar kalau itu benar. Katakanlah salah kalau itu salah. Kita harus berada dalam posisi bangsa besar. Jangan terus berburuk sangka," ucapnya.

Namun, melalui simposium ini bukan berarti negara harus meminta maaf secara mutlak kepada korban tragedi 1965. Luhut berpendapat, perlu pembahasan terang tentang siapa saja korbannya. Oleh karena itu, simposium ini diharap bisa membuka tabir yang selama ini menyekat persatuan bangsa.

"Kami tahu apa yang akan kami lakukan. Ini yang terbaik untuk negara kami. Saya pertaruhkan kredibiltas saya agar simposium ini berjalan lancar," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Lemhanas Agus Widjojo mengatakan simposium ini menggunakan pendekatan sejarah. Itu dipilih karena sejarah lebih obejktif dan komperhensif tentang prolog dan epilog yang terjadi pada 1965.

"Jadi kita seperti memutar film mengenai peristiwa 65, kita akan mendengarkan apa yang terjadi sebelum peristiwa dan setelah peristiwa tersebut," kata Agus.

Menurut dia peristiwa pembantaian besar itu, tidak turun tiba-tiba dari langit, ada sesuatu yang mendasarinya dan dilakukan secara sistemik. Agus pun mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa melihat masa lalu dan mengakui kesalahanya. Hasil dari simposium ini akan menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah untuk menyelesaikan tragedi tersebut.

"Forum ini bukan masalah benar atau salah. Tapi berbagi perbedaan versi kebenaran yang selama ini ada. Simposium ini berpusat pada proses rekonsiliasi," ucapnya.***
Bagikan: