Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Soal LRT, Jokowi tak Mau Rapat-Rapat Lagi

Arie C. Meliala
PRESIDEN Joko Widodo memimpin rapat terbatas membahas soal pembangunan infrastruktur transportasi perkotaan di Kantor Presiden, Selasa, 29 Maret 2016.*
PRESIDEN Joko Widodo memimpin rapat terbatas membahas soal pembangunan infrastruktur transportasi perkotaan di Kantor Presiden, Selasa, 29 Maret 2016.*

JAKARTA, (PR).- Presiden Joko Widodo meminta pembangunan moda transportasi masal perkotaan dipercepat. Jokowi berharap rapat terbatas membahas LRT hari ini menjadi rapat terakhir dan semua permasalahan dapat diselesaikan.

"Rapat LRT ini sudah rapat yang ke-5, jangan ada tambahan rapat lagi. Harusnya sore ini sudah rampung semuanya karena kita ingin mempercepat pembangunan LRT, baik yang ada di Jakarta, di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), maupun di Palembang, dan juga di Bandung Raya. Ini bisa kita selesaikan semuanya," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa, 29 Maret 2016.

 

Jokowi mengatakan Jakarta sudah mulai dibangun Mass Rapid Train (MRT) dan LRT untuk Jakarta-Depok-Bekasi serta Palembang. Disamping itu, juga dibangun kereta cepat atau high speed train (HST) Jakarta-Bandung. Pembangunan trasnportasi masal ini momentumnya sangat tepat karena bersamaan dengan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

"Kita harapkan nantinya betul-betul terintegrasi dari MRT-nya, LRT-nya, busway-nya, ke bandara, dengan commuter line, kemudian juga dengan HST, sambung lagi ke LRT di Bandung Raya," katanya.

Jokowi mencatat, Jakarta dalam satu tahun kehilangan Rp 28 triliun rupiah yang diakibatkan oleh kemacetan. Sementara biaya yang hilang Jakarta-Bandung Rp 7 triliun akibat kemacetan. "Jadi secara hitung-hitungan makro negara, setiap tahun berarti kita kehilangan kurang lebih Rp35 triliun setiap tahun. Jadi, ini mutlak diperlukan pembangunan karena kita tidak ingin kehilangan uang yang percuma karena adanya kemacetan," kata Jokowi.

Dia meminta agar semua permasalahan pembangunan sarana dan prasarana LRT dapat diselesaikan, seperti masalah penetapan trase, speksifikasi teknis sarana kereta api LRT, masalah pembiayaannya, pilihan sumber daya penggeraknya, masalah perizinan penggunaan ruang serta masalah persinggungan fly over dan trase jalur LRT.

Prinsip utamanya, kata Jokowi, aspek efisiensi, efektivitas dari investasi, aspek  keamanan, aspek keterpaduan, aspek konektivitas dan pengembangan sistem transportasi masal di masa-masa yang akan datang harus diperhatikan. Jokowi juga mnginginkan ada integrasi dengan bandara (airport).

"Kita lihat yang di Palembang sudah dari airport. Yang di sini pun nanti, saya tidak tahu apakah sebaiknya LRT-nya yang ke airport, karena kereta api juga sudah atau mungkin HST-nya yang sampai ke airport. Tetapi semuanya mestinya dikalkulasi, dihitung, sehingga ini menjadi alternatif-alteratif bagi masyarakat untuk memakai moda transportasi apa yang disenangi," katanya.***

Bagikan: