Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 24.7 ° C

Pesan Politik Lewat Kertas Rokok (7)

PELAJAR mengamati foto yang terpajang di salah satu ruangan di rumah Inggit Garnasih, Jalan Inggit Garnasih Nomor 8, Bandung.*
PELAJAR mengamati foto yang terpajang di salah satu ruangan di rumah Inggit Garnasih, Jalan Inggit Garnasih Nomor 8, Bandung.*
PADA masa-masa sulit, selain membuat bedak dan jamu, Inggit menjahit baju, menjual rokok, dan menjual pakaian. Tak hanya itu, Inggit juga menjadi agen cangkul dan sabun secara kecil-kecilan.
 
Sementara itu, Soekarno dipindahkan dari Penjara Banceuy, dekat Alun-alun Bandung ke Penjara Sukamiskin. Jika ke Banceuy jaraknya sekitar 3,5 kilometer, ke Sukamiskin menjadi sekitar 15 kilometer dari rumah di Jalan Ciateul Nomor 8, kediaman Inggit dan Omi.
 
Menurut Omi, Ciateul-Sukamiskin ditempuh dengan berjalan kaki, lalu disambung dengan naik delman. Pada masa itu, Soekarno tidak boleh dijenguk siapa pun kecuali istrinya, Inggit Garnasih. Tapi kalau ke Sukamiskin ia ditemani oleh Omi.
 
Walau begitu, kaum pergerakan tetap berkunjung ke Ciateul Nomor 8. Tak hanya berkunjung, secara diam-diam mereka menitipkan pesan untuk Soekarno di Sukamiskin. Berkunjung ke Ciateul Nomor  8 juga tidak begitu leluasa karena kerap diawasi polisi Belanda atau PID (Politieke Inlichtingen Dienst).
 
Inggit dengan setia menjenguk Soekarno yang biasa dipanggilnya dengan nama Engkus atau nama aslinya, Kusno. Inggit senantiasa membesarkan hati Soekarno. Ia diperkenankan membawa oleh-oleh makanan ringan serta rokok.
 
Rokok buatan Inggit digulung dengan kertas putih dan diikat dengan benang merah. Rokok itu dijualnya kepada orang tertentu atau kurir khusus. Lewat batang rokok itulah, kaum pergerakan dapat berkomunikasi dengan Soekarno di Penjara Sukamiskin.
 
Pada kertas rokok itu pula Inggit menuliskan pesan-pesan dari kaum pergerakan. Sebaliknya, Soekarno juga menulis balasan atau membuat pesan singkat di kertas rokok tersebut. Kaum pergerakan bersama kurir lainnya sudah menunggu pesan Soekarno itu di rumah Jalan Ciateul Nomor 8. Suasana itu berlangsung relatif ”aman” selama dua tahun, sampai Soekarno bebas dari Penjara Sukamiskin. (Syafik Umar/A-209)***
Bagikan: