Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 20.2 ° C

Menolak Dimadu (8)

INGGIT Garnasih.*
INGGIT Garnasih.*
DALAM pengasingan di Ende pada 1938, Soekarno mendapat serangan penyakit malaria. Atas desakan Husni Thamrin, Soekarno dan keluarganya pada tahun itu juga dipindahkan ke Bengkulu.
 
Bermula dari kunjungan tokoh Muhammadiyah, Hassan Din dan keluarga  untuk meminta Soekarno mengajar di sekolah Muhammadiyah, Hassan Din sekaligus menitipkan putrinya, Fatma, agar dapat melanjutkan pendidikan ke RK Vakschool seperti Omi.
 
Sejak itu, Fatma berada di lingkungan keluarga Soekarno. Namanya pun dilengkapi Soekarno menjadi Fatmawati. Inggit menerimanya dengan senang sebagai teman Omi dan Kartika di rumah. Di sinilah benih prahara kemudian muncul.
 
Belakang hari, Soekarno tertarik kepada Fatma, lalu menyampaikan maksudnya kepada Inggit untuk menikahi Fatma. Alasannya, agar mendapat keturunan. Tapi Soekarno tidak ingin bercerai dengan Inggit yang sudah mendampinginya dalam perjuangan selama 20 tahun. Inggit tak ingin dimadu dan merelakan Soekarno menikahi Fatma. Inggit dengan anak-anaknya pulang ke Bandung.
 
Baru pada 29 Februari 1942, Inggit menerima surat cerai dari Soekarno lewat Haji Sanoesi (Solihat, Eha dkk, Disbudpar 2010). Dalam berbagai diskusi, sikap tegas Inggit itu disebutkan sebagai watak keteguhan hatinya.
 
Saya sendiri yang pernah bertemu dan berbicara dengannya, menganggap pendirian Inggit itu sebagai sikap sosok wanita multidimensi. Pada satu sisi, Inggit memiliki daya tarik, cantik, terkesan kharismatik, serta ulet. Pada sisi lainnya, Inggit memiliki sikap tegar dan teguh pendirian. (Syafik Umar/A-209)***
 
Bagikan: