Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Kongres Ansor Sebagai Momentum Pengembalian Semangat Kaderasisasi

Wilujeng Kharisma
YOGYAKARTA, (PRLM).- Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DI Yogyakarta Habib Hilal mengungkapkan bahwa Kongres XV GP Ansor kali ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan semangat kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

"GP Ansor merupakan tonggak kaderisasi Nahdlatul Ulama, yang bersambung dengan lembaga dan banom (badan otonom) di organisasi para kiai. Sudah jelas bahwa kaderisasi di organisasi Ansor untuk menerjemahkan ide-ide pendirian NU serta mengawal kepentingan pesantren, sebagai basis kader NU," katannya di Pesantren Ki Ageng Pandanaran, Rabu (25/11/2015).

Hilal mengatakan, ada Kongres GP Ansor yang digelar Pesantren Pandanaran Yogyakarta, 25-28 November 2015 dapat berlangsung damai dan tertib. "Sebagai panitia dan tuan rumah, kami sangat berharap Kongres GP Ansor kali ini berlangsung khidmah, apalagi berlokasi di Pesantren Pandanaran yang menjadi salah pilar pesantren di Yogyakarta. Kita juga harus ingat, kota Yogyakarta sebagai City of Tolerance, memiliki etika dan sopan santun yang perlu menjadi acuan peserta kongres. Intinya, kami mengucapkan selamat datang bagi peserta kongres di kota ramah budaya ini," ungkap Hilal.

Hilal mengingatkan, rangkaian agenda Pra-Kongres sudah berlangsung di beberapa lokasi dengan mengusung ide-ide untuk pembenahan GP Ansor. "Salah satunya adalah usulan formatur. Sudah banyak cabang dan wilayah yang menolak, karena ini tidak sesuai dengan semangat organisasi kader.

“Pembentukan formatur bukan sesuatu yang salah, akan tetapi tidak cocok untuk organisasi kader semacam Ansor. Saya berharap, agar pembentukan formatur sebagai tim musyawarah ditunda dulu, untuk menghormati hak suara para kader," ucapnya.

Habib Hilal berharap, kader-kader unggulan dari pesantren dapat muncul sebagai pemimpin Ansor. "Ibaratnya, NU kan didirikan dari rahim pesantren, oleh para kiai yang alim sekaligus muharrik. Jadi, kita perlu memberi ruang bagi para kader pesantren, yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus sebagai penggerak. Jadi, harus dua-duanya dapat. Kalau hanya penggerak, itu kurang tepat untuk kondisi sekarang," ungkapnya.

Menurutnya, kongres kali ini dapat mencerminkan semangat sekaligus marwah (martabat) Ansor sebagai organisasi kader. Sejumlah nama kandidat ketua umum juga sudah beredar di publik, antara lain Abdussalam Shohib (Pengasuh Pesantren Manbaul Ma'arif, Denanyar Jombang), Yaqut Cholil Qoumas (FKB DPR RI), Munadi Herlambang (pengurus PP GP Ansor), Hery Azumi (mantan Ketua PB PMII), dan beberapa kandidat lain. (Wilujeng Kharisma/A-147)***
Bagikan: