Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

[Laporan Khusus]: Antara Plastik di Perut Ikan dan Kang Pisman

Tri Joko Her Riadi
SEEKOR burung kuntul (Bubulcus ibis) terbang dengan kaki tersangkut sampah plastik di kawasan konservasi Kampung Blekok, Situbondo, Jawa Timur, Minggu, 24 Maret 2019. Penemuan peneliti yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan 99 persen dari semua spesies burung laut cenderung menelan plastik pada 2050 nanti. */ANTARA
SEEKOR burung kuntul (Bubulcus ibis) terbang dengan kaki tersangkut sampah plastik di kawasan konservasi Kampung Blekok, Situbondo, Jawa Timur, Minggu, 24 Maret 2019. Penemuan peneliti yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan 99 persen dari semua spesies burung laut cenderung menelan plastik pada 2050 nanti. */ANTARA

HASIL riset para peneliti Amerika Serikat yang dipublikasikan pada 2015 lalu itu memang demikian mengguncang. Mereka menyebut 8 juta ton sampah plastik membanjiri laut setiap tahunnya. Indonesia menjadi negara penyumbang terbesar kedua setelah Tiongkok.

Total produksi sampah plastik di Indonesia ditaksir sekitar 3,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 1,29 juta ton di antaranya hanyut ke laut. Angka-angka yang muncul dalam riset yang dipimpin oleh Jenna Jambeck dari Universitas Georgia ini diperoleh dari penduduk pesisir saja. Belum lagi warga kota ikut diperhitungkan.

Selain Tiongkok dan Indonesia, negara-negara Asia tampil di daftar 10 besar pencemar laut. Berturut-turut ada Filipina, Vietnam, Sri Langka, Thailand, Malaysia, dan Bangladesh. Dua negara lain dalam daftar itu ada di Afrika, yakni Mesir dan Nigeria. Amerika Serikat, sang negara adi daya, ada di peringkat ke-20.

Lewat studi yang terbit di Science Magazine tersebut, para peneliti mengingatkan, tanpa tindakan drastis, akumulasi jumlah sampah plastik di laut pada 2025 bakal menumpuk hingga 155 juta ton. Jumlah ini, ironisnya, diperkirakan lebih banyak dari jumlah ikan. Sifat plastik yang sulit terurai memicu permasalahan serius karena hampir mustahil membersihkannya dari dasar lautan sedalam ratusan atau bahkan ribuan meter.

Kabar buruk yang dibawa riset ini semakin mengguncang kesadaran masyarakat ketika bermunculan foto atau video tentang dampak buruk sampah plastik di laut. Seorang peselancar yang melaju dalam gulungan ombak penuh sampah plastik. Seekor kuda laut yang menjepit tongkat pembersih telinga. Seekor kura-kura yang terperangkap dalam kantong keresek. Seekor kepiting yang terjebak dalam gelas plastik. Dan tentu saja, ikan-ikan yang ditemukan terkapar mati di pantai dengan sampah plastik di
perutnya.

Direktur Eksekutif Aliansi Global untuk Pengganti Insinerator (GAIA) Asia-Pasifik Froilan Grate mengamini bahwa sampah plastik merupakan permasalahan serius yang mulai mengancam kehidupan planet bumi. Namun, ia menyebut hasil riset yang menempatkan negara-negara asia sebagai pencemar utama laut terlalu bias. Selain sumber data yang patut dipertanyakan, potret besar masalah sampah global yang sebenarnya justru tidak muncul.

Menurut Froilan, negara-negara berkembang di Asia relatif mudah dilabeli kotor dan dicap sebagai sumber masalah. Namun, akar masalah sampah plastik global justru ada di Amerika Utara dan daratan Eropa yang disesaki dengan negara-negara maju. Sebagian besar sampah plastik yang ditemukan di pantai dan laut diproduksi oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang berkantor pusat di kedua benua.

Break Free From Plasctic, gabungan lembaga swadaya lintasnegara, melakukan audit merek global pada 2018. Sebanyak 10 ribu relawan dilibatkan dalam 239 aksi pungut sampah di 42 negara di enam benua. Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 187.851 buah sampah plastik dalam berbagai bentuk.

Menjaga transparansi dan keterlibatan warga, metodologi dan piranti audit dapat diakses secara daring. Di Indonesia, dilakukan lima kali aksi pungut sampah.

Dalam laporan yang dipublikasikan di situs Break Free From Plastic, terpampang nama-nama perusahaan yang disebut sebagai pencemar utama. Hampir semua merupakan korporasi multinasional yang memproduksi merek-merek terkenal. Bagi Froilan, penciptaan kemasan sachet adalah semata strategi bisnis mengeruk keuntungan lebih besar, dengan mengabaikan dampak buruknya bagi lingkungan.

Froilan bercerita bagaimana sebagai anak-anak, ia masih membawa sendiri wadah dari rumah ketika disuruh sang ibu memberi beragam keperluan dapur. Semua berubah dengan cepat dalam puluhan tahun terakhir. Saat ini semua produk, mulai dari perlengkapan mandi hingga memasak, tersedia dalam kemasan sachet. Sekali pakai, kemasan menjadi sampah plastik yang bisa berakhir di sungai atau laut.

“Gerakan pemilahan sampah secara individual tentu saja baik. Tapi kemudian kita tahu, ini tidak cukup. Insiatif nol sampah di skala kota tetap penting dikerjakan, namun kita juga harus memastikan agar perusahaan-perusahaan besar ikut berkontribusi menuntaskan masalah ini,” tutur lelaki Filipina tersebut.

Ada ilustrasi menggelitik untuk menggambarkan persoalan ini. Froilan menampilkannya dalam sesi diskusi dengan para jurnalis. Selama perusahaan multinasional tidak mau mengubah model pemasaran produk mereka, gerakan pemilahan sampah ibarat orang yang menguras air dalam bak dengan menggunakan gayung, sementara keran air dibiarkan terus terbuka.

SIDANG Jurnalis Asia-Tenggara tentang Polusi Plastik di Penang, Malaysia, petengahan Oktober 2019.*/TRI JOKO HER RIADI/PR

Kang Pisman, mau ke mana?

Di Indonesia, Bandung merupakan salah satu kota pertama yang memiliki peraturan yang mengusung semangat nol sampah, yakni Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pengurangan Kantong Plastik. Sayangnya, baru tahun 2019 ini, atau tujuh tahun kemudian, Perda tersebut memiliki aturan teknisnya.

Beragam inisiatif pegurangan sampah plastik lain juga pernah mampir di Kota Kembang ini. Bersama beberapa kota lain di Indonesia, Bandung menjadi percontohan penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di ritel pada 2016. Surat edaran berisi pelarangan penggunaan styrofoam juga pernah dibuat wali kota, namun tidak diketahui bagaimana kelanjutannya.

Menjabat sejak tahun lalu, Wali Kota Bandung Oded M. Danial menjadikan pemilahan sampah sejak dari sumber sebagai salah satu prioritas kerja lima tahun ke depan. Ia menamai gerakan tersebut dengan Kang Pisman, singkatan dari kurangi, pisahkan, dan manfaatkan. Dengan menggunakan istilah lokal, Oded berharap agar gerakan ini diterima dengan baik oleh warga.

Dalam banyak kesempatan, Oded menceritakan alasannya menjadikan pengolahan sampah sebagai prioritas kerja pemerintah. Ia tidak ingin tragedi longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah yang menewaskan lebih dari 140 orang, diikuti dengan lautan sampah yang membanjiri penjuru Kota Bandung, terulang.

“Kalau kita tidak selesaikan (sampah) di tempat kita sendiri, sejak dari sumber, sampah di Bandung jadi bom waktu,” katanya.

Gerakan Kang Pisman merupakan hasil kolaborasi Pemkot Bandung dengan beberapa komunitas pegiat isu lingkungan yang tergabung dalam Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS). Langkah awal dimulai dengan pembentukan beberapa Kawasan Bebas Sampah (KBS) sebagai percontohan. Saat ini tercatat ada 8 KBS dan 30 bank sampah induk.

Salah satu pegiat BJBS David Sutasurya menyatakan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bandung adalah penguatan regulasi. Berkaca dari kisah sukses di San Fernando, Filipina, dibutuhkan ketegasan aturan yang mengamanatkan pemisahan sampah sejak dari sumber. Juga otoritas pemerintah sebagai regulator pengolahan sampah.

“Selama ini ada kerancuan peran antara Pemkot dan PD Kebersihan. Pengalihan kewenangan secara bertahap mulai tahun depan diharapkan bakal mempertegas peran pemerintah sehingga memungkinkan pengawasan dan penindakan dilakukan secara lebih tegas,” katanya.

Tantangan lain yang tak kalah besar datang dari level regional dan nasional. Dengan produksi sampah saat ini rata-rata 1600 ton per hari, Bandung tetap membutuhkan TPA, setidaknya hingga kebijakan memilah sampah efektif menjangkau mayoritas rumah tangga. Bulan lalu, Pemkot menandatangani nota kesepahaman terkait rencana pengoperasian TPA Rergional Legoknangka. Setiap hari, sedikitnya 1.200 ton sampah harus dikirim oleh Bandung untuk menjalankan mesin penghasil energi.

Bagaimana menyandingkan keinginan ber-nol sampah dengan kewajiban mengirimkan 1200 ton sampah per hari ke TPA? Pulang dari Penang, Oded diharapkan punya jawaban yang mujarab.***

Bagikan: