Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 23.1 ° C

[Laporan Khusus]: Menengok Inisiatif-inisiatif Nol Sampah dari Asia

Tri Joko Her Riadi
Pusat Daur Ulang dan Edukasi Masyarakat Mulia Buddha Tzu Chi. Penang, Malaysia.*/TRI JOKO HER RIADI/PR
Pusat Daur Ulang dan Edukasi Masyarakat Mulia Buddha Tzu Chi. Penang, Malaysia.*/TRI JOKO HER RIADI/PR

DI kantornya di Jalan Masjid Negeri, Asosiasi Konsumen Penang (CAP) menyediakan lahan yang cukup luas untuk berkebun. Bermacam jenis sayur tumbuh subur di sana berkat kompos yang diolah secara telaten. Kebun inilah model yang hendak dilipatgandakan CAP di beragam komunitas dan institusi pendidikan di Penang.

Kompleks kantor CAP yang hijau menceritakan dengan sendirinya seberapa kuat lembaga swadaya tersebut berkomitmen terhadap isu lingkungan. Seluruh sampah organik, baik daun kering maupun sisa sayur dan makanan, dikembalikan ke tanah. Untuk warga dan komunitas yang datang, dibagikan pengetahuan dan bibit tanaman.

Kepada puluhan jurnalis dan pegiat lingkungan yang berkunjung, Minggu, 13 Oktober 2019 siang, Saraswathi Odian, salah satu staf CAP, menceritakan bagaimana mereka dalam beberapa tahun terakhir terus belajar tentang pemilahan sampah sejak dari sumber. Sebagian dari mereka pergi ke Filipina, yang lain ke India. Di kedua negara, para staf CAP mempelajari teknik dan sistem pemilahan sampah di berbagai jenjang.

“Secara rutin kami datang ke komunitas-komunitas dan sekolah-sekolah, membagikan pengalaman dan mengajak bekerja sama. Saat ini sudah ada 20 sekolah di Penang yang berkomitmen menerapkan pemilahan dan pengomposan,” kata Saraswathi.

Selain kebun dan wadah pengomposan, di kantor CAP bisa ditemui sebuah bangunan unik. Namanya Rumah Cacing. Di sinilah para staf CAP mengembang-biakkan cacing untuk dibagikan ke warga yang memerlukannya untuk memperbaiki kesuburan tanah mereka.

“Salah satu kunci pemilahan sampah adalah kerja bersama. Ada hubungan timbal-balik yang baik. Jika kita melakukannya sendiri-sendiri, semua akan terlihat terlalu berat,” ujar Saraswathi.

Tidak jauh dari kantor CAP, para relawan sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing di Pusat Daur Ulang dan Edukasi Masyarakat Mulia Buddha Tzu Chi. Ada yang memandu warga yang hendak menaruh sampah dari rumah mereka ke belasan karung dan kontainer yang tersedia. Yang lain memisahkan plastik dari kantong kemasan makanan ringan. Di sudut lainnya, seorang perempuan tua menekuni tumpukan koran bekas. Lembar-lembar koran yang rusak didaur ulang, sementara mereka yang masih
utuh dimanfaatkan lagi.

Keluarga-keluarga, seringkali bersama anak-anak mereka, silih-berganti datang ke Pusat Daur Ulang ini dengan membawa sampah dari rumah mereka. Di sini, mereka memilah sampah secara mandiri sesuai dengan kantong yang tersedia. Ada kantong untuk botol plastik, koran, hingga sampah sulit, seperti kaset bekas, komputer, dan piranti elektronik lainnya. Sejak dini, anak-anak dikenalkan dengan kebiasaan memilah seperti ini.

Dalam satu hari, Pusat Daur Ulang menerima rata-rata 3 ton sampah. Setelah dipilah, sampah diambil oleh perusahaan daur ulang. Dana yang diterima Yayasan digunakan sepenuhnya untuk kegiatan-kegiatan karitatif bagi warga.

Siow Eik Kwang adalah salah satu relawan yang saat ini menjadi penanggung jawab Pusat Daur Ulang. Bergabung dengan Tzu Chi sejak 17 tahun lalu, ia merasa menemukan arti hidup yang baru lewat kerja melayani masyarakat.

Tanpa mendapatkan bayaran barang satu sen, Siow menghabiskan berjam-jam waktunya untuk tidak hanya memastikan layanan daur ulang berjalan lancar, tapi juga menjadi tuan rumah bagi kunjungan belajar atau pelatihan.

“Yang terbaik adalah gerakan nol sampah. Ketika masyarakat nanti sudah melakukannya, tempat seperti ini (pusat daur ulang) tidak diperlukan lagi,” katanya.

Produksi sampah setiap warga Penang diketahui sekitar 1,1 kilogram per hari. Sekitar 1,800 ton sampah diangkut ke tempat pembuangan akhir Pulau Burung setiap harinya. Kebijakan pemisahan sampah sejak dari sumber, lengkap aturan penjatuhan sanksi berupa denda dan ancaman pidana, dimulai pada Juni 2017 lalu. Pada 2017, tingkat daur ulang di Penang tercatat di angka 43 persen, atau lebih dari dua kali lipat dari rata-rata nasional 21 persen.

Kisah sukses dari San Fernando

Inisiatif baik di Penang ditemukan juga di kota-kota lain di Asia. Apa yang terjadi di kota San Fernando, Filipina, seringkali disodorkan sebagai kisah sukses penerapan kebijakan nol sampah. Per 2018, tingkat pemilahan sampah di kota berpenduduk 306 ribu jiwa tersebut mencapai 80 persen. Duit pemerintah yang dialokasikan untuk mengelola sampah anjlok dari sebelumnya sekitar Rp 20 miliar menjadi hanya Rp 9,4 miliar.

“Penghematan itu bisa kami manfaatkan untuk membangun sektor layanan publik lainnya, seperti pendidikan dan kesehatan,” tutur Wali Kota San Fernando Edwin Santos yang hadir sebagai salah satu narasumber utama di Konferensi Kota Nol Sampah ke-2 di Penang.

Menurut Edwin, ada setidaknya dua kunci keberhasilan program nol sampah di San Fernando. Pertama, aturan di Filipina, termasuk di tingkat nasional, memiliki semangat pemilahan sampah. Dengan amanat yang tegas seperti ini, pemerintah lokal relatif lebih mudah menerjemahkannya sesuai kondisi daerah masing-masing.

Kunci kedua terletak pada kemauan politik. Ketika gerakan nol sampah dimulai di San Fernando dengan menggandeng Yayasan Mother Earth, Filipina, Edwin menjabat Wakil Wali Kota. Setelah dirinya terpilih menjadi orang nomor satu, ia tidak lantas menghilangkan program-program wali kota sebelumnya sebagaimana umum terjadi di mana-mana. Edwin justru memperkokoh pemrioritasan pemerintah San Fernando pada kebijakan nol sampah.

Selain San Fernando, beberapa kota lain di Asia mengirimkan delegasi mereka ke konferensi. Dari Thiruvananthapuram, India, sang wali kota bercerita tentang langkah-langkah pemerintah dan warga merintis gerakan pemilahan sampah. Menerapkan kebijakan Protokol Hijau, kota ini berupaya keras mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Yang menarik, penerapan aturan ini menghasilkan kegiatan-kegiatan olah raga besar, seperti turnamen kriket, yang ramah lingkungan.

Cerita tentang inisiatif baik juga datang dari Seoul (Korea Selatan), Kamikatsu (Jepang), dan Kathmandu (Nepal). Para utusan memaparkan bukan saja capaian, tetapi juga tantangan-tantangan yang dihadapi. Konferensi merupakan wadah bagi mereka untuk bertukar pengalaman, sekaligus memetik pelajaran baik yang bisa dibawa pulang ke kota masing-masing.

Dari Bandung, Wali Kota Oded M. Danial datang sebagai narasumber utama konferensi. Ia banyak berkisah tentang langkah terbaru pemerintah menyokong gerakan nol sampah lewat penerbitan Peraturan Wali Kota tentang pembatasan penggunaan kantong plastik. Oded juga membagikan kisah tentang Pendopo, rumah dinasnya, yang ia jadikan percontohan penerapan pemilahan sampah sejak dari sumber.

Tidak hanya tampil sebagai narasumber, Oded pun mengikuti seluruh rangkaian acara selama tiga hari di Penang. Pada Senin, 14 Oktober 2019 petang, ia bergabung bersama ratusan orang menonton screening tertutup film dokumenter berdurasi lebih dari 1,5 jam. Keesokan harinya, Oded ikut dalam kunjungan lapangan ke beberapa lokasi pemilahan sampah di Penang.

“Mumpung ada di sini, saya ingin belajar sebanyak-banyaknya,” ucapnya.

Beragam inisiatif baik yang muncul di kota-kota di Asia adalah kabar menggemberikan yang menumbuhkan harapan. Dijadikan keputusan politik, praktik nol sampah tidak berhenti menjadi gerakan individual. Dampak yang dihasilkan lebih besar.

Namun sebagaimana kita semua tahu, masalah sampah bukan hanya urusan Asia. Ia seluas bulatan bumi ini.***

Bagikan: