Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Sebagian cerah, 25 ° C

Pemimpin ISIS Tewas dalam Serangan AS, Presiden Turki Yakin Itu Membawa Perdamaian Dunia

Huminca Sinaga
PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan.*/REUTERS
PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan.*/REUTERS

ANKARA, (PR).- Tewasnya pemimpin jaringan kelompok Da'esh yang juga dikenal dengan nama ISIS, menandai titik perubahan dalam perang gabungan melawan terorisme. Hal itu diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Minggu, 27 Oktober 2019, waktu setempat.

"Turki akan terus mendukung upaya antiteror-seperti yang telah dilakukannya pada masa lalu," tulis Erdogan di Twitter, seperti dilaporkan Kantor Berita Turki Anadolu dan dikutip Antara, Senin, 28 Oktober 2019.

"Setelah membayar harga yang sangat mahal dalam perang melawan Da'esh, PKK/YPG, dan organisasi teror lain, Turki menyambut baik perkembangan ini," ujarnya menegaskan.

Ia menambahkan bahwa ia yakin, perjuangan menentukan melawan terorisme sejalan dengan semangat persekutuan. Itu akan membawa perdamaian buat semua manusia.

Abu Bakr Al-Baghdadi, yang memimpin organisasi teror Da'esh saat kelompok itu itu merebut banyak wilayah Irak dan Suriah, tewas dalam satu serangan AS pada malam hari di bagian barat-laut Suriah. Hal itu diumumkan Presiden AS, Donald Trump, Minggu, waktu setempat

Trump menyatakan terima kasih kepada Turki, Rusia, Suriah, dan Irak atas kerja sama mereka dalam penyerbuan itu. Ia juga menyebut Ankara "luar biasa" dan menyatakan pasukan AS "terbang di atas" sebagian wilayah Turki selama misi tersebut.

Di bawah kepemimpinan Al-Baghdadi, Da'esh menyebar ke wilayah luas Irak dan Suriah mulai 2013. Ia mengklaim pembentukan "kekhalifahan" di wilayah itu sebagaimana direncanakannya.

Da'esh melancarkan serangan yang menjangkau jauh ke luar kubu wilayah utamanya. Organisasi tersebut juga mendirikan afiliasi lokal di wilayah lain saat Da'esh menyiarkan video penghukuman mati melalui internet.

Al-Baghdadi telah menjadi sasaran utama bagi pemerintah Barack Obama dan Trump. Pemerintah AS bahkan menjanjikan hadiah 25 juta dolar AS (sekitar Rp350 miliar) bagi yang bisa menangkap Baghadi.

Saat koalisi pimpinan AS merebut kembali wilayah yang pernah dikuasai kelompok teror tersebut, Al-Baghdadi makin berada di dalam bayang-bayang. Ia jadi jarang mengeluarkan pesan audio yang sudah direkam sebelumnya buat para pengikutnya.

Operasi penyerbuan disaksikan Trump di Gedung Putih

Sementara itu, dilansir BBC, operasi penyerbuan ke markas ISIS di Idlib pada akhir pekan lalu disaksikan langsung oleh Trump di Gedung Putih. Dia menggambarkan operasi tersebut seperti "menyaksikan film", dengan helikopter-helikopter perang mengitari tempat itu.

Trump mengatakan, helikopter yang mengangkut pasukan khusus bertolak dari lokasi yang tidak disebutkan setelah pukul 17.00 waktu di Washington DC (23.00 waktu Suriah), pada Sabtu, 26 Oktober 2019. Saat itu pula, Trump dan pejabat AS lain berkumpul di Situation Room, Gedung Putih.

Helikopter itu terbang sekitar satu jam dan 10 menit pulang pergi. Sementara operasi di lokasi penyerbuan berlangsung sekitar dua jam.

Para pejabat mengatakan kepada media AS bahwa pada Minggu pagi, 27 Oktober 2019, di Suriah, pasukan khusus menyasar satu tempat kecil di luar desa Barisha di Provinsi Idlib, Suriah. Lokasinya sekitar lima kilometer dari perbatasan Turki. Idlib adalah markas terakhir kelompok yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad itu.***

Bagikan: