Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Sebagian cerah, 25 ° C

Bumi Over Kapasitas?

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

PADA tahun 1798, pendeta Inggris Thomas Malthus menerbitkan sebuah esai singkat yang provokatif berjudul An Essay on the Principle of Population. Buku ini menjadi viral (menurut standar abad ke-18) atas gagasannya yang menakjubkan bahwa "kekuatan populasi manusia jauh lebih besar dibandingkan kekuatan Bumi untuk menghasilkan berbagi kebutuhan bagi manusia." 

Malthus berpendapat, jika manusia terus bereproduksi, Bumi akan semakin habis. Dua abad berlalu sejak esai ini diterbitkan, tapi para ilmuwan masih bergulat dengan gagasan tersebut.

Sebagian besar sejarah mencatat bahwa populasi manusia masih sedikit di awal peradaban. Pada abad ke-12, jumlah populasi di Bumi sekitar 50 juta orang. 1.800 tahun kemudian, populasinya meningkat menjadi 200 juta orang. Baru ketika Revolusi Industri, populasinya semakin membeludak hingga dua kali lipat hanya dalam 150 tahun.

Dilansir laman PopSci Minggu, Malthus berpendapat bahwa manusia tidak akan mati karena kelaparan dan penyakit. Namun, seorang Malthusian bernama Paul Ehrlich memiliki pendapat lain. Dalam bukunya The Population Bomb (1968), Ehrlich meramalkan bahwa 4,4 miliar manusia akan menderita kelaparan masal dan terus mendatangkan malapetaka.

Kenyataan

Sekarang ini, jumlah penduduk dunia mencapai 7,6 miliar. Jumlah yang tak pernah terbesit dalam benak Malthus dan Ehrlich. Pada tahun 2050-an, jumlah ini diprediksi meningkat hingga mencapai 10 miliar penduduk. Pertanyaannya adalah: Bagaimana jutaan orang ini makan dan minum? Di mana mereka tinggal?

Jawabannya terdengar sederhana. Manusia akan mengonsumsi makanan dari hasil pertanian yang cukup untuk menghidupi 9 miliar orang di dunia. Manusia bisa minum air karena persediaannya masih melimpah.

Air menutupi sebagian besar planet Bumi. Namun, hanya 3 persennya merupakan air bersih dan hanya sepertiganya yang mudah didapat. Jika setiap tetes air hujan di atas tanah ditampung, puluhan miliar manusia bisa mendapat pasokan air untuk minum dan mandi. Kenyataannya, tentu sulit untuk menampung seluruh air hujan dan salju di dunia.

Saat ini, manusia menggunakan 86 persen air tawar hanya untuk mengairi stok makanan. Misalnya saja, perkebunan almond  di gurun California dan peternakan di Argentina. Kedua daerah tersebut sebenarnya tidak cocok untuk pertanian skala besar, alhasil petani di sana menghabiskan 12.000 miliar meter kubik air dari sebuah waduk kuno untuk mengairi kebun dan ternak.

Sektor pertanian menghadapi tantangan besar dari kondisi geografis. Sekarang ini, sekitar 1,5 hektar lahan per tahunnya habis digunakan untuk bercocok tanam.

Jika seluruh 37 miliar hektar lahan Bumi digunakan untuk pertanian, stok makanan akan berlimpah ruah untuk 25 miliar orang di dunia. Meskipun demikian, ada konsekuensi yang harus dihadapi. Lahan untuk tempat tinggal manusia akan habis, begitu pula dengan stok air tanah.

SALAH satu bagian kawasan Cagar Alam Kamojang yang telah digarap ­men­jadi lahan perkebunan di Garut, Kamis 17 Januari 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

Dampak negatif

Dikutip dari PopSci, oksigen di atmosfer tidak akan berkurang. Ganggang yang memproduksi gas oksigen tumbuh lebih subur di lautan bersuhu hangat. Namun, ledakan populasi dapat menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan. Pada tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa sembilan dari 10 orang menghirup udara yang tercemar.

Marco Springmann, seorang peneliti dari program Oxford's Future of Food, berpendapat bahwa "pertanyaan tentang populasi ini agak lucu." Sumber daya terbatas tetapi di satu sisi berlimpah ruah. Masalah sebenarnya terletak pada persediaan makanan yang tidak pada tempatnya.

Menurut Springmann, pertanyaan yang lebih pantas adalah bagaimana manusia dapat hidup secara berkelanjutan. Populasi manusia bisa saja mencapai jumlah 11 digit pada tahun 2050, tetapi puncak perubahan iklim bisa datang lebih cepat di tahun 2040. Suhu Bumi yang semakin meningkat dapat mempengaruhi pertanian, memicu migrasi massal dari daerah tropis, dan menghabiskan air.

Dalam sebuah studi The Lancet di tahun 2019, Springmann dan rekannya menggambarkan pola makan ramah lingkungan yang kaya akan biji-bijian dan kacang-kacangan. Menurutnya, jika semua orang mengadopsi pola makan tersebut, gas buang dari makanan akan berkurang meskipun jumlah populasi berlipat ganda.

Gagasan ini bertentangan dengan kebiasaan manusia yang suka mengonsumsi daging. Sejak 1850, Amerika Serikat telah menyumbang 5 miliar metrik ton karbon dioksida ke atmosfer. Setiap orang di Amerika menghasilkan jejak karbon lima kali lipat lebih banyak dari rata-rata orang pada umumnya. Masalahnya tentu terletak pada banyaknya jejak karbon daripada populasi manusia itu sendiri.

‘Kiamat’ sebelumnya telah berlalu tanpa ada bencana, tapi di masa depan tidak ada yang bisa menjamin. Dalam karyanya, Malthus hanya fokus pada berkurangnya sumber daya dan mengabaikan bencana akibat kelebihan emisi.

Suhu rata-rata global semakin meningkat sejak 56 juta tahun lalu. Terdapat  keraguan bahwa Bumi mampu menampung 10 miliar jiwa pada pertengahan abad ini. Manusia mungkin bisa bertahan hidup, tetapi seberapa layaknya kehidupan mereka nanti masih menjadi tanda tanya yang besar. (DN-Job/Huminca Sinaga)***

Bagikan: