Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 21.3 ° C

Untuk Penerbangan 20 Jam Tanpa Henti, Ini yang Perlu Diketahui Penumpang Pesawat

Huminca Sinaga
ILUSTRASI pesawat terbang.*/DOK. PR
ILUSTRASI pesawat terbang.*/DOK. PR

PENERBANGAN nonstop dengan rute terpanjang dari Australia ke London dan New York akan segera terealisasikan. Sebagai persiapan, maskapai dari Australia bernama Qantas melakukan penerbangan uji coba pada hari Jumat 18 Oktober 2019 waktu setempat

Dalam uji coba pertama ini, para peneliti memantau bagaimana tubuh manusia beradaptasi dengan perjalanan udara tanpa henti selama 19 hingga 20 jam.

Pesawat yang digunakan untuk uji coba perdana adalah pesawat Boeing 787-9 Dreamliner. Pesawat ini berangkat dari New York pada 18 Oktober dan dijadwalkan tiba di Sydney pada Minggu 20 Oktober 2019 pagi waktu setempat.

Pesawat ini mengangkut sekitar 40 hingga 50 penumpang, termasuk pilot, kru kabin, ilmuwan dan ahli medis. Tidak hanya kru Qantas, enam penumpang Frequent Flyer maskapai Qantas akan ikut serta dalam penerbangan uji coba ini.

Sebelumnya, Qantas mengumumkan bahwa rute penerbangan langsung dari tiga kota besar di Australia menuju London dan New York akan dibuka pada tahun 2023 mendatang.

Bjorn Fehrm, seorang analis aeronautika dan ekonomi di Leeham News, mengatakan kepada CNN Travel bahwa penerbangan jarak jauh terasa menarik bagi para penumpang.

Penerbangan jarak jauh terasa menarik bagi sebagian penumpang karena mereka tidak perlu transit, tidak perlu repot mengurus dokumen imigrasi dan ganti pesawat. Bjorn Fehrm, seorang analis aeronautika dan ekonomi di Leeham News, menambahkan, “Anda dapat beristirahat sepanjang perjalanan. Keesokan harinya Anda sampai dan langsung bisa memulai hari yang produktif.”

Tiket untuk penerbangan selama 19 jam ini rencananya dibandrol dengan harga yang lebih mahal, terutama bagi para wisatawan. “Pesawat yang melakukan transit memang lebih murah. Namun, ada juga penumpang yang siap membayar harga ekstra untuk naik pesawat yang langsung tiba ke tempat tujuan,” jelas Fehrm seperti dilansir CNN.

Uji coba kedua

Penerbangan uji coba berikutnya akan dilakukan pada bulan November 2019. Rute penerbangan dimulai dari London ke Sydney. Sementara itu, uji coba ketiga dijadwalkan terbang sebelum akhir tahun, dari New York ke London. Setelah penerbangan uji coba, pesawat akan mulai melayani penerbangan komersial.

Para peneliti dari Charles Perkins Centre, Universitas Sydney, Monash University, dan pusat penelitian pemerintah Australia akan meneliti dampak dari penerbangan panjang tersebut terhadap kesehatan penumpang dalam pesawat.

Setiap penumpang di kabin utama dipakaikan alat pemantau. Nantinya, para peneliti dari Charles Perkins Center akan mempelajari bagaimana variabel tertentu, seperti pencahayaan dan pola tidur dalam pesawat dapat mempengaruhi kesehatan dan jam tubuh para penumpang. Setiap penumpang juga diberikan sebuah buku harian untuk mencatat pengalaman mereka sebelum dan sesudah penerbangan. Selama perjalanan, para penumpang juga akan mencatat solusi mereka dalam mengatasi jet lag.

Pilot dan awak kabin juga akan dipantau dan diberikan catatan tidur harian. Kamera akan dipasang di ruang kokpit untuk memantau tingkat kesadaran pilot saat menerbangkan pesawat.

"Setiap orang memiliki pengalaman jet lag yang berbeda. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab utama jet lag dan kelelahan saat perjalanan. Penelitian ini dapat membantu kami untuk mengurangi efek samping dari penerbangan jarak jauh,” ujar Profesor Stephen Simpson, direktur akademik Charles Perkins Centre kepada CNN Travel.

Ilmuwan Universitas Monash bertugas untuk memantau tingkat melatonin awak pesawat sebelum, selama dan setelah penerbangan. Selain itu, mereka juga memeriksa data gelombang  otak para pilot melalui alat elektroensefalografi.

FOTO udara pesawat Boeing 737 MAX yang tidak terbang terlihat terparkir di Boeing Field di Seattle, Washington, Amerika Serikat, Senin 1 Juli 2019. Foto diambil tanggal 1 Juli 2019.*/REUTERS

Merancang peraturan

Informasi yang diperoleh dari penelitian ini kemudian akan dibagikan dengan Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil "untuk merancang beberapa peraturan terkait dengan penerbangan jarak jauh," kata Qantas dalam siaran pers.

"Banyak yang mempertanyakan soal kenyamanan dan kesehatan penumpang dan awak saat melakukan penerbangan jarak jauh. Melalui data yang kita peroleh dari uji coba ini, pertanyaan tersebut akan terjawab,” ujar Alan Joyce, CEO Qantas Group.

"Bagi para penumpang kuncinya adalah meminimalkan jet lag dan menciptakan suasana penerbangan yang tenang dan menyenangkan. Bagi para awak pesawat, penelitian ini akan menentukan metode terbaik untuk meningkatkan kesadaran mereka saat mereka bertugas, dan memaksimalkan waktu istirahatnya.”

Eileen McNeely, pendiri Harvard Sustainability and Health Initiative untuk NetPositive Enterprise (SHINE) dan profesor kesehatan lingkungan, mengatakan kepada CNN Travel bahwa dampak kesehatan pada penumpang hampir serupa dengan penerbangan jarak pendek tapi dengan intensitas yang lebih tinggi

"Kemungkinan besar penumpang akan mengalami hipoksia (kurangnya pasukan oksigen), dehidrasi, nyeri otot akibat kurang bergerak, kebisingan, jet lag, paparan radiasi kosmik dan terkontaminasi udara kabin. Kondisi ini menimbulkan ancaman yang lebih besar terutama bagi penumpang yang rentan dengan penyakit mendasar yang sudah menyebabkan masalah-masalah ini."

Bawa keuntungan

McNeely berpendapat bahwa penerbangan jarak jauh dengan pesawat yang lebih ringan dan efisien berdampak baik bagi kondisi lingkungan. Namun, pergerakan yang terbatas dapat membuat penumpang merasa pegal. Para penumpang disarankan untuk sering bangun, menggerakan tubuh, dan menambah asupan cairan karena tubuh mengalami dehidrasi.

"Penumpang berusia 60 tahun dan menderita kardiopulmoner (penyakit paru-paru atau jantung) disarankan untuk melakukan tes saturasi oksigen terlebih dahulu. Tes ini dilakukan untuk memastikan pasokan oksigen tambahan di dalam pesawat," tambahnya.

Pihak maskapai disarankan untuk terus memantau kesehatan awak pesawat dari waktu ke waktu.  Paparan radiasi kosmik dan kebisaingan dapat membuat mereka lelah, karena itu para awak harus dipastikan mendapat waktu yang cukup sebelum, selama dan setelah penerbangan.

Bagi sebagian orang, prospek penerbangan nonstop selama 19 jam mungkin terdengar tak masuk akal. “Inovasi ini mungkin belum terpikirkan di generasi pesawat sebelumnya. Ternyata secara ekonomi, penerbangan jarak jauh dapat membawa keuntungan bagi maskapai.” kata Fehrm kepada CNN.

Sebelumnya, maskapai Singapore Airlines telah membuka rute Singapura ke New York dan sebaliknya yang ditempuh selama 17 jam penerbangan.

"Sekitar 20.000 pesawat terbang setiap harinya, dan ada sembilan pesawat yang melakukan penerbangan jarak jauh. Penerbangan ini merupakan proyek prestise untuk kalangan tertentu. Tentunya, pengalaman yang didapat akan sepadan dengan biayanya,” tutupnya. (DN-Job/Huminca Sinaga)***

Bagikan: