Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Teknologi Mentransformasi Layanan Kesehatan di Afrika

Huminca Sinaga
Drone Zipline mengangkut muatan medis untuk pasien di Afrika. Pada bulan Mei 2019 lalu, Layanan Darah Nasional Afrika Selatan (SANBS) mulai menggunakan drone untuk mengangkut stok darah bagi wanita melahirkan.*/CNN
Drone Zipline mengangkut muatan medis untuk pasien di Afrika. Pada bulan Mei 2019 lalu, Layanan Darah Nasional Afrika Selatan (SANBS) mulai menggunakan drone untuk mengangkut stok darah bagi wanita melahirkan.*/CNN

BERDASARKAN data bank dunia, kawasan Afrika Sub-Sahara rata-rata memiliki layanan kesehatan terburuk di dunia. Sekitar 25 persen dari jumlah kasus kematian dan disabilitas di seluruh dunia dialami oleh masyarakat di sana. Ironisnya, dunia hanya menyumbang 1 persen aliran dana kesehatan dan 3 persen pekerja kesehatan di Afrika

Infrastruktur yang buruk membuat akses ke perawatan medis yang paling dasar pun menjadi sulit. Untungnya, teknologi terbaru dapat menangani permasalahan ini. Drone, aplikasi handphone dan loker otomatis dapat menyediakan obat-obatan vital bagi banyak orang di Afrika.

Pada bulan Mei 2019 lalu, Layanan Darah Nasional Afrika Selatan (SANBS) mulai menggunakan drone untuk mengangkut stok darah bagi wanita melahirkan. Menurut Amit Singh, Kepala Pengendali drone, upaya ini juga bisa mengurangi tingkat kematian wanita saat melahirkan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 295.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat gangguan kehamilan dan persalinan di tahun 2017. Sekitar dua pertiga diantaranya dialami oleh para wanita di Afrika sub-Sahara.

"Sebagian besar disebabkan oleh lambatnya penyediaan stok darah bagi pasien. Transportasi tradisional sangat lambat karena infrastruktur jalan yang buruk dan jarak tempuh yang sangat jauh,” kata Singh kepada CNN Business, Kamis, 17 Oktober 2019 waktu setempat. 

Layanan drone dapat mengatasi masalah ini, meskipun masih menjalani rangkaian tes dengan Otoritas Penerbangan Sipil. Pesawat nirawak dapat bertahan dalam kondisi cuaca apa pun, dan hanya membutuhkan permukaan datar seluas lima meter persegi untuk mendarat. Tentunya, ini jauh lebih kecil daripada landasan helikopter.

Rencana SANBS ini menyusul keberhasilan Zipline, sebuah perusahaan rintisan California yang menyalurkan darah dan vaksin ke wilayah terpencil Rwanda pada tahun 2016. Pada bulan April, Zipline memperluas operasinya ke Ghana. Mereka mengaku sudah melayani 13 juta orang di seluruh dunia.

Pemesanan lewat aplikasi

Cara kerja drone ini dimulai dengan pemesanan melalui aplikasi. Setelah diproses, produk medis yang tersimpan di pusat distribusi Zipline dikemas dan diterbangkan dengan drone dalam waktu 30 menit ke tempat tujuan. Selanjutnya, produk medis akan diterjunkan dari langit dengan parasut.

"Layanan pengiriman kami yang tepat waktu dan instan dapat mengurangi waktu pengiriman dari beberapa jam atau hari menjadi beberapa menit," kata Naa Adorkor Yawson, seorang eksekutif di Zipline, Ghana.

Drone.*/CNN

Perusahaan rintisan ini mengaku telah mengumpulkan 225 juta Dolar AS (Rp 3,2 triliun) sejak didirikan. Mereka berencana untuk memperluas daerah cakupannya di seluruh Afrika, Asia selatan dan tenggara, serta Amerika. Target mereka adalah melayani 700 juta orang dalam lima tahun ke depan.

Konsultasi jarak jauh

Meskipun infrastrukturnya buruk, jumlah pengguna internet seluler di Afrika sub-Sahara bertambah pesat. Menurut GSMA, operator telekomunikasi dunia, koneksi smartphone di wilayah tersebut mencapai 302 juta pengguna pada tahun 2018. GSMA memperkirakan jumlahnya akan meningkat menjadi hampir 700 juta pada tahun 2025 nanti.

Alhasil, aplikasi yang menyediakan konsultasi dan diagnosis medis mulai bermunculan di seluruh benua Afrika.

Suatu aplikasi yang dikembangkan di Afrika Selatan bernama Hello Doctor menyediakan berbagai informasi penting mengenai kesehatan, anjuran medis, serta berkonsultasi langsung dokter dengan biaya langganan 55 rand (Rp 52 ribu) sebulan.

Aplikasi lainnya seperti Omomi membantu wanita hamil dan para ibu di Nigeria memantau kesehatan anak mereka dan berkonsultasi dengan dokter berdasarkan opsi pembayaran dan langganan. Konsultasi satu kali dikenakan biaya 200 naira (Rp 7.900), sedangkan langganan bulanan ke platform online dihargai 2.000 naira (Rp 79 ribu).

Suatu aplikasi dan perangkat untuk mendiagnosis malaria sedang diuji secara klinis di Uganda. Perusahaan Matibabu telah mengembangkan suatu klip yang dapat mendiagnosis malaria tanpa sampel darah. Sinar merah pada klip yang dijepitkan pada jari dapat mendeteksi plasmodium atau parasit penyebab malaria dalam sel darah merah. Hasil diagnosis dapat dilihat melalui aplikasi pada smartphone.

Brian Gitta, salah satu pembuat aplikasi, menjelaskan bahwa tes darah di klinik kesehatan biasanya memakan waktu yang lebih lama. "Kami melakukan diagnosis dua menit saja. Sementara tes darah di klinik mencapai 15 hingga 30 menit," katanya kepada CNN Business, sambil menambahkan bahwa Matibabu memiliki tingkat akurasi sebesar 80%.

Loker pintar

Waktu tunggu yang lama sering kali menjadi masalah bagi klinik umum. Di tahun 2014, setelah diagnosis tuberkulosis, Neo Hutiri harus menghabiskan tiga jam setiap Jumat untuk mengambil obat dari klinik.

Pengalaman ini menginspirasinya untuk mengembangkan Pelebox, sistem loker pintar yang dapat menyimpan obat untuk pasien dengan penyakit kronis.

Ketika obat sudah siap, pasien akan menerima pesan SMS berisi kode unik untuk membuka loker.

"Pelebox memungkinkan pasien menerima obat mereka hanya dalam 22 detik tanpa harus antre berjam-jam di klinik umum," ujar Hutiri kepada CNN Business.

Hutiri berharap loker ini dapat mengurangi beban staf rumah sakit, agar mereka lebih fokus menangani pasien kritis. Sejauh ini, 13 loker telah beroperasi di Gauteng, suatu provinsi di Afrika Selatan. Ia berharap jumlah ini akan terus bertambah menjadi 50 loker, untuk mencapai target 1.000 pengguna dalam lima tahun ke depan.***

Bagikan: