Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Berawan, 25 ° C

Stress di Balik Kotak Bento

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

SETIAP tahun, sekitar lima miliar kotak makan siang (bento) dibuat oleh para ibu di Jepang.

Dikenal dengan sebutan bento, kotak makanan ini biasanya berisi nasi, sayuran, daging, dan makanan lainnya. Baik anak-anak maupun orang dewasa biasa membawa bento ke sekolah atau tempat kerja. Faktanya, lebih dari 70% dari lima miliar bento dibuat untuk orang dewasa, karena terbilang lebih murah dan lebih sehat, dibandingkan makanan cepat saji.

Dilansir BBC, Rabu, 16 Oktober 2019, para ibu memiliki tanggung jawab besar untuk membuat bento yang menarik bagi anak-anak mereka. Namun, membuat bento setiap hari menjadi kegiatan yang mengundang stres dan tekanan, terutama jika sang ibu adalah pekerja.

Bento bukan hanya sekedar sisa makanan semalam yang dijadikan bekal. Bento menekankan presentasi makanan yang menarik, salah satunya dengan membuat chara-ben. Chara-ben adalah makanan yang dibentuk seperti karakter tertentu, misalnya hewan dan manusia. Sebenarnya, tidak ada aturan khusus dalam membuat chara-ben, tetapi kegiatan ini menunjukkan dedikasi ibu untuk membuat bento terbaik bagi anaknya.

“Kotak bento adalah ekspresi cinta seorang ibu untuk anaknya. Para ibu berkomitmen dengan waktu dan pikiran untuk menciptakan kotak makan siang yang sehat, inovatif, dan indah,” kata Barbara Holthus, wakil direktur Institut Jerman untuk Studi Jepang di Tokyo.

Simbol status

Kata "bento" pertama kali diperkenalkan pada Zaman Edo yang berlangsung sekitar tahun 1600 hingga 1867. Kotak bento dulu terbuat dari kotak yang dipernis dan didekorasi dengan indah. Orang-orang biasa membawanya ke teater dan acara rekreasi lainnya seperti piknik. Saat itu, bento menjadi simbol kekayaan dan status.

Di era modern ini, unsur estetika pada bento masih tetap ditekankan, meskipun mobilitas masyarakat Jepang semakin cepat dan tekanan dari lingkungan semakin tinggi.

Seorang ibu bernama Risako Kasahara sering mengunggah gambar kotak makan siang putrinya ke media sosial. “Awalnya sangat menegangkan,” katanya. "Tapi saya sudah belajar beberapa trik sebelumnya. Jika saya lupa menanak nasi, saya akan segera merebus mi atau pasta,”

"Prinsip saya adalah memasukkan lima warna, seperti merah, kuning, hijau, hitam dan putih,” jelas Risako kepada BBC.

“Saya pernah membuat chara-ben saat anak-anak masih kecil. Mereka malah tidak tega memakan karakternya. Sejak saat itu saya berhenti membuatnya," ungkapnya sambil tertawa.

Dikutip dari BBC, chara-ben termasuk fenomena yang relatif baru di tahun 2000-an. Setiap kali anak membawa sandwich ke sekolah, guru pasti akan bertanya apakah orang tuanya sedang sakit hingga tidak bisa membuat bento. Risako Kasahara menegaskan bahwa “yang penting adalah mengemas bento dengan sebaik mungkin. Jika anak-anak membawa makanan yang terlihat seperti makanan dari toko, kami pasti akan ditegur oleh sekolah.”

Tidak hanya di sekolah, tekanan juga berasal dari media sosial.

Budaya malu

Pengguna media sosial bisa berkomentar tanpa ampun. Seorang komedian bernama Highheel Momoko mendapat komentar bahwa karakter bento yang dibuatnya terlihat seperti mayat.

Mendapat ejekan dari orang lain adalah hal sangat dikhawatirkan oleh masyarakat Jepang. Mereka sangat menjunjung tinggi reputasi. Ruth Benedict, seorang antropolog Amerika menggambarkan bahwa Jepang menganut “shame society” atau masyarakat yang malu jika ketahuan melakukan kesalahan. Konsep ini bertentangan dengan “guilt society” di Amerika, di mana orang tidak mau melakukan hal yang salah meskipun tidak terlihat oleh orang lain.

Masyarakat Jepang sendiri mengaku mereka sangat takut dikritik dan dikucilkan jika berbuat salah. Banyak sejarawan percaya, konsep ini berawal sejak Zaman Edo, ketika penduduk desa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari lima keluarga. Mereka diharapkan bisa saling membantu dan bertanggung jawab atas perilaku setiap anggota kelompok. Jadi, jika satu orang melanggar aturan, semua orang dalam kelompok mendapat hukuman.

Alat komunikasi

Kotak makan siang tidak hanya dibuat untuk anak kecil di Jepang. Menurut sebuah survei baru-baru ini, banyak siswa sekolah menengah atas (usia 15 hingga 18 tahun) masih membawa kotak makan siang buatan ibunya ke sekolah.

Menurut Risako, membuat bento sama dengan membangun hubungan antara ibu dan anak.

“Di usia remaja, anak biasanya menjadi pemberontak dan sering kali tidak mau bicara dengan orang tuanya. Melalui makanan inilah, mereka masih bisa merasakan cinta dan juga bersyukur,” jelasnya. "Saya juga selalu bertanya kepada putri saya, makanan apa yang paling ia sukai untuk bekal makan siangnya. Bento bisa menjadi alat komunikasi juga."

Penelitian menunjukkan bahwa di Jepang sebagian besar pekerjaan rumah tangga masih dilakukan oleh ibu. Meskipun demikian, para ayah mulai membantu ibu menyiapkan kotak makan siang. Hiroto Okada, misalnya, membuat bento untuk putranya yang berusia 10 tahun selama enam bulan terakhir. Dia berencana untuk terus membuatnya hingga putranya berusia 18 tahun. Hiroto sendiri tidak peduli penilaian orang tentang chara-ben buatannya, yang terpenting putranya tidak mengonsumsi makanan berpengawet dari toko.

Meskipun ayah mulai terlibat dalam pekerjaan rumah, keinginan untuk membuat bekal makanan yang sempurna masih dirasakan oleh ibu.

Pada dasarnya, semua ini bukan soal membuat  bento yang terbaik. Tetapi, tentang bagaimana menjadi ibu yang "sempurna" sesuai dengan standar yang ada. Jepang tengah menghadapi masalah soal penurunan angka kelahiran. Sudah saatnya tekanan sosial semacam ini segera dihilangkan. (DN-Job/Huminca Sinaga/"PR")***

Bagikan: