Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 20.4 ° C

Rasa Setia Kawan, Satu Gajah Tergelincir 10 Ekor Lainnya Ikut Mati

Huminca Sinaga
MENURUT penelitian gajah memiliki rasa empati untuk saling menolong.*/ANTARA
MENURUT penelitian gajah memiliki rasa empati untuk saling menolong.*/ANTARA

SEPEKAN lalu 7 Oktober 2019, Thailand digemparkan dengan kematian 11 ekor gajah liar di dekat air terjun. Pada awalnya, para petugas menemukan enam ekor gajah yang mati. Dua hari kemudian, tubuh lima gajah lainnya ditemukan dekat hilir sungai.

Penjaga taman di Taman Nasional Khao Yai menduga bahwa gajah-gajah ini mati saat melakukan misi penyelamatan. Selama ini, gajah dikenal sebagai hewan yang memiliki rasa setia kawan. Ketika melintasi Haew Narok, air terjun setinggi 150 meter, seekor anak gajah tergelincir dan yang lainnya ikut tergelincir saat berusaha menyelamatkan anak gajah tersebut.

Kematian 11 ekor gajah ini memang tidak terlalu mengancam eksistensi spesies gajah di dunia. Namun, hal menarik yang disoroti oleh seluruh dunia adalah pengorbanan para gajah untuk menyelamatkan sesamanya.

Benarkah gajah merasakan empati dan mampu mempertaruhkan hidup mereka untuk anaknya? Dan apa makna dari kejadian ini bagi gajah yang selamat?

Dr. Joshua Plotnik dari Hunter College City University telah mempelajari gajah liar di Thailand selama lebih dari satu dekade. Ia mengatakan kepada BBC bahwa manusia tidak boleh berasumsi jika tidak ada saksi mata yang menyaksikan kejadian tersebut. Meskipun demikian, dia juga menambahkan, “Masuk akal sekali jika gajah menyelamatkan sesamanya sebisa mungkin jika berada dalam bahaya.”

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gajah dapat mendeteksi bahaya dan mengkoordinasikan tindakan mereka untuk melakukan penyelamatan. Akan tetapi, Dr. Plotnik meragukan bahwa gajah-gajah ini sengaja terjun dari air terjun dalam kondisi yang membahayakan. Kemungkinan besar ini adalah murni kecelakaan.

Insting membantu

Seorang spesialis perilaku gajah dari University of Veterinary Medicine di Vienna bernama Dr. Rachel Dale membenarkan bahwa gajah memiliki insting untuk membantu gajah lainnya ketika dalam bahaya, “meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri”. Selain penolong, gajah juga merupakan hewan yang sangat pintar. Kemungkinan besar mereka telah memperkirakan risiko yang akan dihadapi sebelum terjun untuk menyelamatkan anak gajah tersebut.

Bhichet Noonto, pemimpin Proyek Koeksistenesi Manusia dan Gajah,mengatakan bahwa kondisi taman sangat mengkhawatirkan ketika insiden ini terjadi. Air terjun Haew Narok dikenal sangat berbahaya bagi gajah yang ingin melintas, terutama saat musim hujan datang.

Pada tahun 1992, delapan ekor gajah mati setelah jatuh dari air terjun yang sama. Saat itu, petugas taman menyaksikan langsung ketika induk gajah ikut melompat untuk menyelamatkan anaknya. Seekor sapi pun diduga jatuh dari tebing itu pada tahun 1987.

Untuk mencegah kejadian tersebut terulang, para petugas taman membangun pilar beton agar hewan menjauh dari beberapa lokasi berbahaya di Taman Nasional. Nampaknya, upaya ini belum menjadi solusi. Pasalnya, para gajah bisa mencari jalan hingga ujung pilar pembatas.

Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tumbuhan (DNP) berasumsi bahwa gajah-gajah ini sedang mencari tumbuhan tertentu yang hanya tumbuh setiap setahun sekali. Mereka berani mengambil risiko yang berbahaya untuk mendapatkan tananman tersebut. Kemungkinan lain adalah para gajah mencari jalan keluar untuk menghindari interaksi dengan manusia.

“Sifat gajah bermacam-macam. Ada yang sopan, nakal, dan baik, seperti halnya manusia. Ketika para gajah keluar dari rute yang biasa dilalui, mereka berisiko mengalami kecelakaan,” jelas direktur DNP Songtham Suksawang.

Trauma

Keajaiban lainnya adalah dua ekor gajah ditemukan selamat dari kejadian mengerikan itu. Induk dan anak gajah ini terjebak diantara bebatuan yang licin di dasar air terjun. Para petugas taman memastikan keduanya aman dan selamat.

Jika gajah benar merasakan empati dan penolong, apa maknanya bagi gajah yang selamat? “Hewan ini cerdas, ramah dan berempati,” jelas Dr. Plotnik. “Saya berasumsi mereka akan mengalami trauma seperti kita semua.”

Masih belum diketahui hubungan antar gajah yang mati dalam kejadian naas ini. Jika pemimpin kawanan mati, para gajah yang selamat akan lupa dengan pengetahuan penting tentang habitat mereka.

Gajah hidup mengandalkan pengetahuan yang diturunkan antar generasi seperti halnya manusia. Dr. Dale menjelaskan dampaknya akan terlihat dalam waktu yang sangat lama. Gajah bisa saja mengalammi perubahan perilaku dan rute perjalanannya.

Meskipun demikian, petugas taman yakin dua ekor gajah ini dapat bertahan hidup dan belajar dari pengalamannya untuk menghindari mara bahaya.

Dilansir dari BBC News, Noonto berharap dua gajah ini dapat bersatu kembali dengan anggota keluarganya yang berada di taman nasional. Jikapun tidak, mereka mungkin bergabung dengan kelompok gajah lainnya.

 “Mereka bisa bertahan hidup dan beradaptasi,” ujar Noonto. “Mungkin mereka akan bertemu dengan gajah jantan dan membuat anggota keluarga baru.”

Daya pikat

Gajah memiliki daya pikat tersendiri. Meskipun ukurannya besar, mereka adalah hewan yang lembut dan hidup bersama keluarganya. Gajah bisa terlihat senang dan juga sedih. Wajar jika insiden di Khao Yai ini membuat masyarakat dunia merasa berempati.

“Manusia pandai melakukan segala cara untuk bertahan hidup,” kata Dr. Plotnik. “Apa yang kita lakukan belum pasti menyelematkan spesies lain untuk bertahan hidup. Melihat insiden ini dari sudut pandang manusia tidak akan membantu kita mengetahui apa yang hewan rasakan.”

Mengesampingkan perasaan dan berbagai asumsi, sudah saatnya para peneliti mencari solusi untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

Dr. Plotnik menjelaskan bahwa kejadian ini memang tergolong langka. Ini menjadi peringatan bahwa bagi hewan sebesar gajah pun, “alam liar merupakan tempat yang tidak aman”.

Tubuh gajah rencanaya akan diangkat, diperiksa, dan dikuburkan di taman nasional. Kematian mereka akan diperingati setiap tahun dalam suatu upacara yang diadakan di taman tersebut.

“Pihak taman nasional sangat bersedih. Mereka tidak ingin kejadian ini terjadi lagi,” ungkap Noonto, “Peristiwa yang sangat emosional bagi masyarakat Thailand.” (DN-Job/Huminca Sinaga)***
 

Bagikan: