Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

Penurunan Populasi Ancam Perekonomian Seoul

Tim Pikiran Rakyat
WARGA bermain di aliran Sungai Cheonggyecheon, Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu.*/AFP
WARGA bermain di aliran Sungai Cheonggyecheon, Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu.*/AFP

KOTA Seoul, ibukota Korea Selatan, tak pernah terkesan sebagai kota yang sepi penduduk. Di setiap bloknya, terdapat gedung komersial dan apartemen yang dibangun tinggi menjulang. Jalanan kota pun dipadati berbagai kendaraan dari pagi hingga malam sehingga menjadi pemandangan yang sudah biasa.

Akan tetapi, di balik kesan ramai dan padat, pembuat kebijakan justru harus bergelut dengan fakta bahwa populasi penduduk Seoul semakin menurun. Tercatat, lebih banyak orang meninggal daripada angka kelahiran.

Dilansir laman Channel News Asia, Selasa, 8 Oktober 2019, pada tahun 2010, populasi penduduk Seoul mencapai angka tertinggi yaitu 10,5 juta orang. Akan tetapi, dalam beberapa tahun ke depan, jumlah penduduk diprediksi akan menurun hingga kurang dari 10 juta penduduk sehingga Seoul bisa saja kehilangan statusnya sebagai kota megapolis.

Penurunan populasi tersebut bertolak belakang dengan upaya pemerintah Seoul dalam mempresentasikan kota ini sebagai tempat yang dinamis dan nyaman untuk dikunjungi maupun ditempati. Pemerinta telah menambah berbagai fasilitas dan atraksi, serta berinvestasi besar-besaran untuk menjadikan Seoul sebagai pusat industri musik K-pop.

Akan tetapi, masalah lain yang dihadapi adalah jumlah penduduk lansia yang lebih banyak dibandingkan penduduk berusia muda. Selama bertahun-tahun, penduduk yang tinggal di negara maju cenderung memiliki umur panjang, tetapi hanya memiliki sedikit anak.

Pemerintah setempat mulai berupaya untuk mendorong angka kelahiran, di antaranya dengan menyediakan fasilitas pengasuh anak gratis dan memberikan cuti wajib bagi para orang tua. Upaya tersebut belum memberikan perubahan yang signifikan. Menurut data statistik yang dirilis bulan lalu, tingkat kelahiran di Korea Selatan justru mencapai rekor terendah.

GRUP vocal asal Korea Selatan, BTS.*/DOK. SOOMPI

Penurunan populasi jadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi

Menurut analisis dari International Monetary Fund, banyaknya penduduk lansia dapat menaikkan anggaran untuk dana pensiun dan layanan kesehatan. Namun, pemerintah Korea Selatan melihat perubahan ini sebagai ancaman bagi pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Amerika, Paul Krugman, menyatakan bahwa pertumbuhan populasi yang lebih lambat seharusnya menjadi sesuatu yang baik. Tetapi, untuk mendapat keuntungan dari kondisi tersebut, harus ada kebijakan yang tidak lazim. Jika pertumbuhan ekonomi terhenti karena penurunan populasi, maka investasi baru akan berkurang.

Pada September 2019, Kementerian Keuangan Korea Selatan mengumumkan beberapa rencana untuk menangani penurunan populasi. Utamanya untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan mencegah kekurangan tenaga kerja.

Salah satu rencananya adalah menyalurkan dana untuk menopang usaha kecil dan menengah. Rencana ini juga mendorong para orang tua untuk tetap membuka usaha dan bekerja, meskipun sudah melewati masa pensiun.

Kementerian juga akan melonggarkan undang-undang imigrasi Korea Selatan bagi orang asing. Persyaratan bagi mereka yang ingin tinggal lebih lama di Korea Selatan akan dipermudah.  Melirik sektor imigrasi adalah solusi terbaik untuk menangani masalah penurunan populasi.

Pemerintah akan memudahkan jalan bagi banyak imigran legal yang ingin bekerja dan tinggal secara permanen. Upaya ini dapat menjadi solusi untuk masalah kekurangan tenaga kerja dan menopang pertumbuhan ekonomi dan populasi.***

Bagikan: