Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Sequoia, Pohon Tertua di Dunia yang Terancam Punah

Huminca Sinaga
POHON sequoia di Sequoia National Park, Sierra Nevada, California.*/THE GUARDIAN
POHON sequoia di Sequoia National Park, Sierra Nevada, California.*/THE GUARDIAN

SEBAGIAN besar manusia memiliki banyak pengalaman hidup, seperti halnya pohon raksasa tertua yang bernama Sequoia. Berevolusi sejak zaman Dinosaurus, pohon Sequoia yang tumbuh di sepanjang pegunungan Sierra kini mencapai usia ribuan tahun.

Dengan kata lain, pohon ini menjadi saksi hidup ketika berbagai peristiwa besar terjadi. Dimulai dari jatuhnya kekaisaran Romawi hingga kemunculan diva Beyoncé.

Saat ini, eksistensi pohon Sequoia terancam punah akibat maraknya penebangan hutan, krisis iklim, serta kebakaran hutan yang semakin sering terjadi. Kini hanya tersisa beberapa pohon Sequoia yang tumbuh di 37 hutan kecil di Sierra. Sebagian besarnya tumbuh di  Taman Nasional Sequoia, yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai negara untuk melihat pohon terbesar di dunia ini.

Akan tetapi, tidak semua pohon Sequoia berada dalam perlindungan khusus seperti halnya di taman nasional. Demi melindungi masa depan spesies ini, organisasi konservasi alam sepakat untuk mengambil alih hutan Sequoia terbesar yang dimiliki oleh keluarga Rouch.

Kesepakatan ini disetujui setelah organisasi Save the Redwoonds dan pemilik hutan berdiskusi selama dua dekade lamanya. Keluarga Rouch adalah pemilik hutan Alder Creek. Tanah seluas 530 hektar ini mereka miliki sejak perang dunia kedua. Selain pohon Sequoia, Alder Creek juga merupakan rumah bagi pohon Stagg, pohon terbesar kelima di dunia.

Upaya konservasi

Keluarga Rouch menjual hutan tersebut seharga 15 juta dolar. Setelah kepemilikan diambil alih, pihak konservasi alam akan bekerja sama dengan ahli ekologi untuk melindungi pohon Sequoia dari efek pemanasan global.

“Hutan ini benar-benar sangat tua, dan kini kami diberi kesempatan untuk memperbaiki dan melindunginya,” ucap Sam Hodder, pimpinan organisasi Save the Redwoods.

Meskipun pohon Sequoia mampu beradaptasi dengan perubahan suhu, ancaman terbesar bagi spesies ini adalah kekeringan dan kebakaran hutan.

Ironisnya, usaha manusia selama bertahun-tahun untuk menemukan solusi atas kebakaran hutan terbilang sia-sia, sebab masalahnya justru semakin parah.

“Pohon Sequoia raksasa sebenarnya membutuhkan panas,” jelas Kristen Shive, seorang ahli ekologi hutan. Ketika pohon mendeteksi suhu panas di sekitarnya, biji pohon akan terbuka dan menyebarkan benih baru ke tanah yang subur.

Dilansir Guardian, Senin, 7 Oktober 2019, pohon Sequoia berevolusi selama jutaan tahun hingga dapat bertahan hidup dalam kondisi terbakar api kecil. Semakin pohon tumbuh besar, semakin ia tahan terhadap api.

“Namun, selama satu abad terakhir, manusia datang dan membakar hutan dimana-mana,” ujarnya.

Saat terjadi kebakaran, tumpukan ranting serta pohon-pohon kecil di sekitar Sequoia mempermudah api untuk menyebar hingga ke pucuk pohon. Panas seperti ini tidak dapat ditahan oleh Sequoia, akibatnya pohon akan mati.

Pekerjaan berat

Perubahan iklim juga mempersulit upaya pelestarian pohon Sequoia. Gelombang panas dan kekeringan menyebabkan hutan California semakin tandus dan lebih rentan terjadi kebakaran hutan.

Saat musim panas, Sequoia akan terancam dengan munculnya kumbang. Serangga ini akan mengikis batang pohon sambil menyebarkan jamur mematikan.

Pohon yang sehat biasanya tahan dengan serangan tersebut, tetapi pohon yang mengalami dehidrasi tidak akan mampu bertahan hidup. “Ada beberapa pohon Sequoia yang mati akibat kekeringan baru-baru ini,” ujar Anthony Ambrose, seorang ahli ekologi tanaman dari University of California.

Ambrose mengakui, memulihkan kondisi tanah sambil mengurus hutan tentunya menjadi pekerjaan yang berat. Dibutuhkan biaya yang besar untuk merampungkannya.

Berinvestasi dalam beberapa tahun ke depan

Organisasi Save the Redwoods berencana untuk berinvestasi dalam beberapa tahun ke depan, serta membangun jalan setapak di sepanjang hutan.

“Setelah semuanya siap, kami ingin sekali membuka akses kepada para pengunjung untuk datang ke hutan, hutan ini sangat berkesan. Pengunjung disajikan dengan aroma kayu manis, nuansa hijau padang rumput pegunungan Alpine, serta langit biru Sierra yang unik," ucap CEO Hodder.

“Saya yakin berjalan-jalan di dalam hutan ini akan membuat orang merasa lebih baik,” katanya menambahkan. Anggota keluarga Rouch pun setuju.

“Kami bertemu dengan banyak calon pembeli selama bertahun-tahun, tetapi saya pribadi sangat senang bisa menjual hutan ini ke organisasi Save the Redwoods,” ucap salah seorang anggota keluarga, Mike Rouch.

Dulunya, Kakek dan ayah Rouch menjalankan bisnis penebangan legal. Meskipun demikian, mereka membiarkan sebagian besar pohon Sequoia tumbuh.

“Tidak ada seorang pun di keluarga kami yang benar-benar ingin menebangnya,” kata Rouch.

“Alasan pertama, Sequoia memang memiliki kualitas kayu yang kurang bagus. Dan alasan lainnya adalah pohon tersebut enak dipandang dan indah. Ketika pohon ini punah, maka mereka akan punah selamanya," ujarnya.***

Bagikan: