Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Microsleep Bisa Sebabkan Kematian

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

TERTIDUR saat berkendara memiliki konsekuensi yang mengerikan tidak hanya bagi pengemudi, tetapi juga pengguna jalan lainnya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan siapa saja yang berisiko dan apa yang menyebabkannya.

Kurang tidur dikombinasikan dengan perjalanan jarak jauh adalah penyebab umum kecelakaan truk.

Sebuah laporan terbaru yang dilansir laman Deutsche Welle (DW), Kamis, 3 Oktober 2019, menunjukkan bahwa pengemudi truk di seluruh Eropa cenderung menderita obstructive sleep apnea (OSA). OSA merupakan gangguan pernapasan saat tidur yang membuat seseorang berhenti bernapas selama sesaat. Akibatnya, para pengemudi tidak mendapat waktu tidur yang cukup dan menjalani sebagian besar harinya menyusuri jalan raya.

Obesitas adalah faktor terbesar munculnya OSA. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh European Lung Foundation, lebih dari 70% partisipan memiliki berat badan yang berlebih sebagai akibat dari gangguan OSA.

Sulit dideteksi

Penyempitan pada saluran tenggorokan mengganggu pernapasan normal saat tidur. Siklus tidur seseorang dapat terganggu, karena di saat yang sama tubuh melepaskan hormon adrenalin dan menaikkan denyut nadi. Mendengkur menjadi salah satu gejala OSA.

OSA menyebabkan tidur tidak nyenyak dan pola tidur tidak teratur. Akibatnya, seseorang akan mudah lelah dan mengalami microsleep (fase tidur singkat)

"Microsleep sulit dideteksi," ujar Hans-Günter Weess, kepala departemen Sleep Medicie dari klinik Pfalzklinikum di Jerman barat.

Weess menambahkan gejala lain dari microsleep yaitu berkedip cepat, menguap, penglihatan kabur, dan lupa ingatan jangka pendek.

Masih dilansir laman DW, hasil penelitian dari pusat Intersom Cologne menunjukkan bahwa sekitar 30-50% kecelakaan di jalan raya di Jerman disebabkan oleh pengemudi truk yang tertidur sesaat saat berkendara.

Dikutip dari Deutsche Welle, Weess menjelaskan bahwa ini merupakan kecelakaan yang sangat fatal, karena "pengemudi tidak menyadari apa yang terjadi dan tidak dapat bereaksi."

"Kecelakaan mematikan akibat kurang tidur cukup sering terjadi. Bisa jadi dua kali lipat lebih sering  dibanding kecelakaan akibat si pengemudi mabuk," jelas Wess

Aturan

Undang-undang Uni Eropa mengizinkan sopir truk untuk mengemudi selama sembilan jam dalam sehari. Setelah empat setengah jam mengemudi, mereka diwajibkan beristirahat selama 45 menit. Setelah sembilan jam mengemudi, mereka juga harus beristirahat total selama 11 jam sebelum kembali berkendara.

Sejak tahun 2014, peraturan Uni Eropa menetapkan OSA sebagai faktor utama terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor. Meskipun faktor lain, seperti situasi monoton dan sedikit ruang gerak, juga membuat seseorang gampang mengantuk.

Peraturan baru ini merupakan langkah tepat yang diambil oleh Parlemen Eropa sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas tidur para pengemudi truk. Setiap libur akhir minggu, pengemudi truk dianjurkan untuk memesan hotel dan beristirahat di sana selama 45 jam sebelum melanjutkan pekerjaan.

Perusahaan juga harus memastikan para sopir pulang ke negara asalnya setidaknya sebulan sekali.***

Bagikan: