Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

I-Khanom, Bioskop Aman untuk Perempuan di Garis Perang

Huminca Sinaga
SEORANG pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film di Kabul, Afghanistan.*/AP
SEORANG pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film di Kabul, Afghanistan.*/AP

SEBAGIAN besar bioskop di Kabul hanya dibuka bagi penonton pria dan cenderung menayangkan film Bollywood dari Pakistan dan India. Bagi para pemuda Afganistan, menonton bioskop menjadi suatu kegiatan langka untuk megekspresikan kegembiraan di khalayak umum, seperti dengan sorak-sorai dan berdansa bersama.

Sementara itu, bagi para perempuan, bioskop menjadi tempat yang sangat ditakuti karena didominasi oleh penonton pria.

"Saya tidak bisa membayangkan seorang perempuan Afghanistan merasa nyaman duduk di ruangan gelap dengan ratusan pria," ujar Jonathan Saruk, seorang fotografer yang telah mendokumentasikan bioskop-bioskop di Kabul, seperti dilaporkan The Guardian, Selasa, 2 Oktober 2019.

Di tahun ini, seorang pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film.

Arti dari nama bioskop sendiri adalah Lady Moon, berarti sebuah kota yang konon didirikan oleh Alexander Agung.

Di malam pembukaannya, bioskop ini memutar film karya Sharbanoo Sadat yang berjudul The Orphanage. Film ini diputar di depan penonton yang sebagian besarnya adalah perempuan. Kebanyakan dari mereka belum pernah menonton film itu sebelumnya

"Pergi ke bioskop menjadi hal yang tabu, terutama bagi perempuan," kata manajer I-Khanom, Shahim Nadery. Dia mengatakan, kebanyakan orang tua tidak akan membiarkan anak perempuannya pergi menonton ke bioskop.

Bangkit dari kehancuran

I-Khanom merupakan ekspansi dari sebuah pusat kebudayaan bernama Book City Cultural Centre. Sebelumnya, sebuah kafe dan galeri seni juga berhasil didirikan.

Ketika banyak perempuan di Kabul merasa tidak aman saat berada di luar rumah pada malam hari, Book City memiliki reputasi sebagai tempat yang aman bagi para perempuan untuk melakukan berbagai kegiatan budaya di sana.

Pada 2014 lalu, seorang pria melakukan serangan bom bunuh diri ketika berlangsungnya acara pemutaran film di Pusat Budaya Prancis di Kabul. Peristiwa ini menewaskan beberapa orang dan melukai setidaknya 15 orang.

Tempat tersebut dulunya sangat ramah bagi para pembuat film dan penonton perempuan. Dengan adanya peristiwa tersebut, budaya perfilman di Afghanistan seakan ikut hancur.

SEORANG pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film di Kabul, Afghanistan.*/AP

I-Khanom merupakan upaya untuk bangkit kembali dari kehancuran tersebut. Bioskop ini dibuka khusus bagi penonton perempuan setiap hari Selasa sore.

Sementara itu, Jumat dikhususkan untuk para keluarga dengan anak-anak. Sebagian besar penonton adalah para mahasiswa dari fakultas seni di Universitas Kabul, salah satu kampus sinematografi di Afganistan.

“Untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat, memang butuh waktu. Demi mencapai titik itu, kami terus melakukan yang terbaik,” kata Nadery.

Dia menambahkan, meskipun hanya ada satu penonton, pihaknya tetap mempersiapkan aula agar penonton perempuan merasa aman untuk datang.

Mendukung industri perfilman di Afghanistan

Tim I-Khanom berharap bioskop tersebut dapat mendukung industri perfilman di Afghanistan. Bioskop pernah berkembang pesat sekitar tahun 1960-an dan 1970-an.

SEORANG pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film di Kabul, Afghanistan.*/REUTERS

Ketika Soviet datang menyerbu Afganistan di tahun 1979, aturan sensor film diberlakukan lebih ketat. Kemudian, saat Taliban berkuasa, produksi dan menonton film dilarang sepenuhnya. Para staf dari Afgan Film Institute mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan arsip film saat itu.

“Budaya sinema bukanlah hal yang baru, justru budaya ini terlupakan," ucapnya.

Seorang penonton tua sempat bercerita kepada Nadery tentang pengalamannya menonton film. Kala itu, ruangan bioskop tidak dilengkapi dengan tempat duduk, sehingga para penonton berdiri saat menyaksikan pemutaran film.

“Cerita ini seolah memberi kesan betapa tersesatnya kita," kata Nadery.

Donasi asing

Dilansir Guardian, para pembuat film di Afghanistan saat ini bergantung pada anggaran dari organisasi asing. Alhasil, film yang diproduksi seringkali hanya ditampilkan di luar negeri.

“Kami ingin memberikan kesempatan bagi para pembuat film untuk melihat bahwa film Afghanistan memiliki pasar di masyarakat Afghanistan sendiri,” tutur Nadery.

SEORANG pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film di Kabul, Afghanistan.*/AP

Di bulan Agustus lalu, I-Khanom menjadi salah satu tuan rumah untuk festival film Afganistan di Kabul. Acara tersebut berlangsung selama 10 hari dalam rangka merayakan 100 tahun kemerdekaan Afghanistan. Sebanyak 100 film Afganistan dan Iran diputar di bioskop I-Khanom.

“Orang-orang di Afghanistan suka bioskop,” ucap Aqal Pais, sebagai penyelenggara festival tersebut.

“Ketika masyarakat Kabul datang untuk membeli tiket, mereka seolah lebih hidu," ujarnya menambahkan. 

Waktu mungkin sedikit berubah, tetapi Afghanistan masih berada di tengah pahitnya perang saudara yang tiada akhir. Menurut laporan PBB, jumlah warga sipil yang terbunuh mencapai angka yang mengejutkan.

Pada 22 September lalu, setidaknya 40 warga sipil dilaporkan tewas saat menghadiri sebuah pesta pernikahan. Serangan ini terjadi akibat pasukan khusus Afghanistan salah sasaran saat mencoba untuk menggempur tempat persembunyian Taliban.

Nadery berharap, I-Khanom dapat memberikan secercah harapan baru ditengah situasi yang suram tersebut.

Kami ingin menyediakan suatu alternatif dan sumber hiburan bagi masyarakat. Meskipun lima menit saja, mereka bisa melupakan rasanya tinggal di negara yang sedang berperang," katanya.***

Bagikan: