Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32.2 ° C

Spesies Misterius Mirip Manusia Bernama Denisovan

Huminca Sinaga
GAMBARAN spesies mirip manusia yang bernama, Denisovan.*/MAAYAN HAREL/THE GUARDIAN
GAMBARAN spesies mirip manusia yang bernama, Denisovan.*/MAAYAN HAREL/THE GUARDIAN

YERUSALEM, (PR).- Spesies misterius yang diduga berkerabat dekat dengan manusia kini telah terungkap. Para peneliti menggunakan DNA kuno dari fosil tulang jari untuk merekonstruksi penampilan spesies yang dinamakan Denisovan ini.

Seperti dilansir The Guardian, Jumat 20 September 2019, penemuan ini dianggap sebagai terobosan menarik dan luar biasa yang belum pernah terungkap dalam penelitian sebelumnya. Para ilmuwan menemukan fakta bahwa Denisovan memiliki kesamaan dengan Neanderthals, walaupun memiliki kepala yang lebih lebar dan rahang yang lebih menonjol.

"Ternyata memang benar Denisovan lebih menyerupai manusia Neanderthal ketimbang manusia modern. Tapi yang paling membuat kami takjub adalah perbedaan antara Denisovan dengan spesies manusia lainnya," ujar Liran Carmel, seorang anggota tim peneliti di Universitas Ibrani, Yerusalem. 

"Penemuan ini dapat menjelaskan berbagai pertanyaan mengenai Denisovan. Misalnya bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan mereka dan jejak genetik yang tersisa pada manusia modern," tambahnya.

Denisovan diperkirakan telah hidup di sebagian besar wilayah Asia puluhan ribu tahun yang lalu. Namun, belum ada yang mengetahui sosok mereka hingga saat ini.

Spesies tersebut pertama kali terungkap pada tahun 2010 ketika fosil tulang jari ditemukan di gua Denisovan di pegunungan Altai Siberia. Sejak saat itu, beberapa bagian tubuh lainnya ditemukan seperti tiga gigi besar dan tulang rahang bawah.

Bagian-bagian tersebut dapat memperkirakan gambaran parsial dari manusia Denisovan. Tes genetika menunjukkan bahwa Denisova adalah kerabat dekat Neanderthal. Nenek moyang manusia diperkirakan kawin dengan Denivosa sekitar 15.000 tahun lalu. Hasil perkawinan ini ditemukan pada 6% DNA orang Melanesia modern dan penduduk asli Australia. Sementara itu, pada orang Asia Timur, penduduk asli Amerika, dan Polinesia hanya terdapat sedikit jejak manusia Denisovan dalam DNA mereka.

Ilmiah

Carmel beserta rekannya David Gokhman menggunakan suatu pendekatan ilmiah yang dapat mengungkap gambaran spesies Denisovan. Mereka mulai menganalisis "metilasi" DNA pada Denisovans, Neanderthal dan manusia modern. Metilasi merupakan proses kimiawi yang melibatkan penambahan gugus metil dalam molekul DNA. Gugus metil ini bekerja seperti tombol volume yang dapat menaikkan atau menurunkan aktivitas gen.

Dengan membandingkan "pola metilasi" dari tiga populasi manusia purba, para peneliti menemukan gen aktif pada Denisovan. Gen ini sama aktifnya dengan manusia modern dan Neanderthal. Selain itu, ketiga gen juga menunjukan perbedaan yang sangat kentara.

Berbekal data tersebut, para peneliti kemudian mengakses database medis yang memuat informasi mengenai gangguan genetik manusia, terutama gangguan kerangka dan aktivitas gen. Dari sini mereka mengetahui bagaimana pola aktivitas gen pada Denisova yang dapat membantu para peneliti untuk merekonstruksi penampilan mereka.

Dikutip dari Guardian, Gokhman dan Carmel mengidentifikasi 56 bagian anatomi Denisovan yang berbeda dari manusia modern dan Neanderthal. Perbedaan tersebut diantaranya panggul dan tengkorak yang lebih lebar. Analisis yang diterbitkan dalam Cell juga menunjukan lengkungan gigi yang lebih panjang dan rahang yang lebih besar.

"Mungkin yang paling mengejutkan adalah tengkorak mereka yang sangat lebar. Lebih lebar dari manusia modern dan manusia purba," ucap Gokhman. Temuan ini menambah kecurigaan bahwa tengkorak manusia yang baru-baru ini ditemukan di Xuchang, Cina, adalah milik spesies Denisovan.

Membantu polisi

Keunikan spesies Denisovan membantu para ilmuwan untuk memahami cara mereka beradaptasi dengan kondisi tempat tinggalnya dan peran gen mereka dalam kehidupan manusia saat ini, jelas Gokham.

Para ilmuwan mengakui bahwa penelitian ini belum bisa menunjukan hasil yang akurat mengenai spesies Denisovan. “Semua informasi mengenai Denisovan ada dalam DNA kita. Kita hanya perlu belajar cara membacanya. Genetik berkembang dengan pesat dan saya pikir cepat atau lambat penelitian selanjutnya akan mengungkap semuanya,” jelas Gokham.

David Reich, seorang ahli genetika Harvard yang telah meneliti DNA manusia purba secara luas, mengatakan, "Ini adalah studi yang sangat orisinal dan menarik. Bukan hanya temuan spesifik, tapi teknik pendekatannya juga menjadi terobosan yang luar biasa.”

Ketika ditanya apakah DNA dapat membantu polisi merekonstruksi wajah orang-orang yang dicari, Gokhman menambahkan, “Tentu saja bisa, tetapi masih jauh untuk merealisasikannya. Pendekatan kami baru langkah awal untuk mencapai tujuan tersebut.” (DN-Job)***

Bagikan: