Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Umumnya cerah, 31.7 ° C

Hormon Dalam Tulang Bantu Atasi Panik

Huminca Sinaga
KERANGKA tulang manusia.*/LIVESCIENCE
KERANGKA tulang manusia.*/LIVESCIENCE

KERANGKA tubuh ternyata melakukan tugas lebih dari sekedar menahan bobot tubuh kita. Sebuah laporan terbaru yang diterbitkan pekan lalu di jurnal Cell Metabolism, menunjukkan bahwa organ dari sistem rangka tubuh menjadi yang pertama akan merespon, dengan cara melawan bahkan lari ketika tubuh berada dalam bahaya. 

Seperti dilansir laman Pop Science, Dokter Ernestina Schipani yang juga merupakan profesor ilmu ortopedi dari University of Michigan menyebutkan bahwa ini adalah studi yang revolusioner.

Laporan tersebut, kata Schipani, benar-benar mengubah pemahaman manusia mengenai sistem saraf simpatik untuk respons "melawan atau lari", dengan menunjukkan bahwa fungsi tulang sangat penting.

Sebelumnya, Schipani dan komunitas ilmiah lainnya mengira itu adalah adrenalin, atau hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal, menjadi hormon yang memulai perlawanan saat seseorang mengalami stress. Akan tetapi, menurut penelitian baru yang diuji coba pada tikus ini, respons dari stres akut tidak mungkin terjadi tanpa hormon yang disebut osteocalcin, yang diproduksi di dalam tulang.

Julian Berger,  kandidat PhD genetika di Columbia University dan penulis pertama penelitian tersebut, mengatakan bahwa ketika timnya menghambat produksi osteocalcin pada sejumlah tikus, dan kemudian memaparkan mereka pada stresor, yang berbau urin rubah, mereka tampaknya tidak mengalami gangguan secara tepat. "Ini hampir seperti seseorang merampokmu, tetapi kamu mengabaikannya dan hanya mengambil Snickers bar," katanya.

Satu dasarwarsa lalu

Publik mungkin akan terkejut ketika mengetahui bahwa tulang dapat menghasilkan hormon yang berdampak pada sistem saraf. Lebih dari satu dasawarsa lalu, para ilmuwan berpikir bahwa tulang pada dasarnya mirip dengan apa yang mereka lihat, yakni tulang sebagai tabung hampa yang terbuat dari kalsium yang dirancang untuk menahan seluruh tubuh kita. 

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian baru ini, sistem rangka kita sebenarnya dapat mengubah cara manusia bereaksi terhadap lingkungan di sekitar. 

Para peneliti tidak perlu mengungkap peran osteokrin ketika membuat kita diamputasi; mereka hanya berusaha mencari tahu kondisi tulang yang menghasilkan osteokrin tersebut. 

Apabila stres akut adalah pemicu utamanya, mereka memutuskan untuk menyelidiki dengan tepat bagian apa yang digunakan osteocalcin pada saat panik.

Ketika kerangka tubuh melepaskan osteocalcin, itu akan mematikan sistem saraf parasimpatis, sehingga juga dikenal sebagai sistem saraf "istirahat-dan-cerna". Ketika aktif secara normal, ini akan mendorong tubuh untuk beraktivitas seperti biasanya.

Namun, ketika hal-hal tidak normal terjadi, misalnya dirampok, maka sistem saraf simpatik sebagai gantinya, akan mengalihkan energi ke arah (secara teoritis) tindakan untuk penyelamatan jiwa. 

Adrenalin

Adrenalin masih sering dikaitkan dengan terjadinya stres pada diri kita karena adanya hormon kortisol. Mereka akan aktif dan mempertahankan respon "melawan-atau-lari" dari sistem saraf simpatik. Tapi ini hanya bisa terjadi setelah osteocalcin parasimpatisnya terhenti.

Hal ini seperti "Ketika Anda memiliki mobil, Anda perlu menekan pedal gas dan melepaskan kaki Anda dari rem pada saat yang bersamaan," kata Berger.

Schipani mengatakan, jika melihat apa yang dilakukan osteocalcin dan apa yang dilakukan adrenalin, tampaknya memang ada banyak tumpang tindih. Bagaimana pun, adrenalin juga terlibat dalam pelepasan glukosa, meningkatkan denyut jantung, dan membuat banyak kontribusi lain untuk refleks melawan-atau-lari.

Meskipun ada beberapa teori tentang fungsi tulang, penelitian ini memberikan kepercayaan lebih pada satu gagasan: bahwa hewan menggunakannya sebagai perlindungan terhadap pemangsa. 

Penelitian sebelumnya mengenai peran osteocalcin telah membuktikan bahwa hormon yang dibuat di dalam tulang tersebut meningkatkan daya ingat, membantu untuk berlari lebih baik, dan memungkinkan tubuh mengambil energi yang lebih banyak. 

Untuk penelitian ke depan, peneliti harus mencari tahu sejumlah reaksi kimia yang tepat saat semua zat tersebut bergabung untuk menggerakkan perlawanan tubuh dan manuver mengelak (yang lebih sering terjadi adalah respons gagap, panik ketika menghadapi percakapan yang canggung.***

Bagikan: