Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sedikit awan, 20.1 ° C

Obesitas Lebih Parah dari Penyakit HIV

Huminca Sinaga
FOTO ilustrasi obesitas menjadi salah satu ancaman kematian.*/REUTERS
FOTO ilustrasi obesitas menjadi salah satu ancaman kematian.*/REUTERS

NAIROBI, (PR).- Suatu wabah penyakit diam-diam menyerang warga Afrika dan dianggap lebih parah dari penyakit HIV. Dari 20 negara dengan pertumbuhan obesitas tercepat, hampir setengah di antaranya adalah negara-negara di Afrika. Alhasil, masalah kesehatan di benua tersebut semakin meningkat.

Dilansir laman Deutsche Welle, Minggu 15 September 2019,  Afrika seringkali digambarkan sebagai benua yang masyarakatnya menderita kelaparan dan kemiskinan. Tampaknya potret ini mengalami perubahan. Obesitas kini menjadi tantangan kesehatan yang sangat besar, terutama pada masyarakat kelas bawah dan menengah di kota-kota besar. Obesitas pada orang dewasa mengalami kenaikan yang signifikan terutama di delapan dari 20 negara di Afrika.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mendeskripsikan obesitas atau kelebihan berat badan sebagai akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebih yang dapat berisiko pada kesehatan manusia. Kelebihan lemak di bagian tubuh tertentu dapat memicu munculnya penyakit seperti diatabetes, penyakit jantung atau bahkan stroke. Selain itu, bisa juga memicu kanker seperti kanker payudara, usus besar, ginjal, ovarium dan lainnya.

Bagi sebagian besar penduduk Afrika, memiliki perut buncit berarti menunjukan status kaya raya dan makmur, tetapi tentu saja itu salah. Terlepas dari tumor perut atau penyakit lain, perut buncit sebenarnya merupakan tanda gizi buruk dan kurang berolahraga. Faktanya, penyebab kematian lebih banyak diakibatkan oleh obesitas daripada kekurangan berat badan. 

Beban berat

Masalah obesitas menjadi beban berat bagi sektor kesehatan yang tengah bergelut dengan masalah penyakit menular di Afrika. Obesitas merupakan salah satu penyebab utama diabetes tipe 2 yang diderita oleh sebagian besar masyarakat di Afrika. 

Pada tahun 2018, The Lancet Journal on Diabetes & Endocrinology mengungkapkan bahwa kelaziman diabetes di Afrika meningkat sebanyak 129% sejak tahun 1980. Terlebih lagi, beban ekonomi untuk menangani diabetes diperkirakan akan bertambah menjadi hampir $ 60 miliar (Rp 840 triliun) pada tahun 2030 di Afrika sub-Sahara.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa kelebihan lemak di sekitar pinggang dapat mengganggu efektivitas insulin. Insulin merupakan hormon penting yang diproduksi pankreas untuk mengatur kadar gula dalam tubuh, dihasilkan dengan cara memecah glukosa dan merubahnya menjadi energi. Tubuh yang kelebihan berat badan dapat menghambat proses metabolisme ini dan meningkatkan risiko terkena diabetes.

Baru-baru ini, sekelompok peneliti menyatakan bahwa supermarket lah yang menyebabkan krisis obesitas di Afrika. Masyarakat kelas menengah lebih suka membeli makanan olahan yang mengandung gula dan lemak daripada mengonsumsi makanan segar dan sehat.

ILUSTRASI obesitas.*/INDEPENDENT

Kebijakan pemerintah

Untuk menangani masalah obesitas, masyarakat perlu kembali ke pola makan yang sehat. Contoh makanan sehat di antaranya sayuran, kacang, buah dan sejenisnya. Alih-alih mengonsumsi burger dan minuman ringan, lebih baik diganti dengan daging ikan, sayuran dan buah-buahan.

Salah satu cara efektif dalam menangani obesitas adalah melalui kebijakan pemerintah. Di Afrika Selatan, misalnya, pemerintah menetapkan pajak minuman manis untuk mengurangi konsumsi minuman ringan berkalori. Kebijakan ini telah berhasil mengurangi konsumsi dan angka obesitas di negara tersebut.

WHO menyatakan lebih dari 2 miliar orang di dunia memiliki berat badan yang berlebih. 650 juta orang diantaranya menderita obesitas. Dengan jumlah penderita yang meningkat setiap tahunnya, WHO mendesak pemerintah dan organisasi internasional untuk segera mengambil tindakan dalam menangani penyakit berbahaya ini.

Tidak hanya pemerintah yang harus mengambil tindakan, masyarakat juga harus segera beralih ke pola hidup sehat. Beberapa cara yang bisa dilakukan ialah dengan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga secara teratur. Jika kedua pihak sudah berhasil memainkan perannya, maka jumlah penderita obesitas dan diabetes di Afrika dapat berkurang. (DN-Job)***
 

Bagikan: