Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Di Australia, Bunuh Diri Akibat Utang Diprediksi Meningkat 40%

Huminca Sinaga
ILUSTRASI bunuh diri.*/CANVA
ILUSTRASI bunuh diri.*/CANVA

SYDNEY, (PR).- Tingkat kasus bunuh diri di Australia diperkirakan meningkat 40% jika faktor pemicu utang di kalangan warga tidak dibenahi.

Menurut otoritas lembaga audit dan konsultan internasional KPMG, tumbuhnya performa ekonomi, meningkatnya utang, dan banyaknya orang yang tinggal sendiri adalah faktor risiko seseorang melakukan bunuh diri.

Dalam sebuah makalah penelitian yang dilakukan oleh KPMG dan disponsori Suicide Prevention Australia untuk Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, disebutkan bahwa tingkat bunuh diri Australia akan naik 40% dalam dekade berikutnya. Kecuali, jika faktor-faktor risiko seperti utang, isolasi dan kesepian ditangani. 

Di dalam hasil kajian tersebut diperingatkan pula bahwa jika tingkat bunuh diri Australia terus memburuk, maka pada tahun 2030 akan ada 1.300 dan akan lebih banyak kasus bunuh diri. 

Pada tahun 2006 di Australia, kasus itu mencapai titik terendahnya yaitu 10,2 per 100.000 orang, turun dari 15,4 pada tahun 1971. Namun, persentasenya kembali naik menjadi 12,5 per 100.000 orang pada tahun 2017, atau 3.128 orang. 

Hasil penelitian  ini juga memperingatkan bahwa dalam satu dekade (2030) ke depan, jika tanpa adanya pencegahan dan intervensi yang lebih baik, angka ini dapat tumbuh hingga 40% atau 4.430 kematian akibat bunuh diri (atau 14,8 per 100.000). Untuk saat ini, estimasinya diperkirakan akan menjadi 3.801 pada tahun 2030 (12,7 per 100.000). 

Sementara jika pemerintah membenahi sejumlah faktor risiko tersebut di atas, maka jumlah kematian akibat bunuh diri diprediksi menjadi 3.113 kasus pada tahun 2030, atau tingkat rasionya 10,4 per 100.000 kematian. 

Dalam makalahnya, KPMG juga memperkirakan, investasi pemerintah federal sebesar 15 juta dolar Australia untuk pengumpulan data kesehatan mental, akan mengungkap jumlah resmi kasus bunuh diri akan tercatat lebih tinggi ketimbang jumlah yang ada saat ini. 

Terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat mempengaruhi tingkatan kasus bunuh diri, diantaranya, kesulitan keuangan seperti berutang dan meningkatnya layanan beli-sekarang-bayar-nanti. Pembayaran sistem berutang seperti ini kerap kali gagal menilai kapasitas orang untuk membayar. 

Dalam sebuah pertanyaan, Direktur KPMG yang juga  pimpinan kesehatan mental nasional, Andrew Dempster, mengatakan bahwa seseorang harus memiliki pandangan yang lebih luas tentang faktor-faktor risiko potensial untuk bunuh diri di Australia. 

“Ini dapat dilihat telah melampaui penanda standar yang akan memperingatkan seseorang dalam bahaya. Pemicu stres yang muncul seperti meningkatnya utang rumah tangga, meningkatnya isolasi sosial dan kesepian, dan meningkatnya jumlah tenaga kerja musiman adalah faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kesejahteraan mental seseorang, ” ujarnya seperti dilansir The Guardian.***

Bagikan: