Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Unggahan Video Porno Balas Dendam Makin Marak

Tim Pikiran Rakyat
UNGGAHAN video porno berlatar balas dendam makin marak.*/ANTARA
UNGGAHAN video porno berlatar balas dendam makin marak.*/ANTARA

LONDON, (PR).- Maraknya video-video porno yang dilatari balas dendam, cuma menguntungkan situs cabul. Para pemilik situs porno menarik keuntungan besar dari pendapatan iklan.

Seperti situs Pornhub mendapat untung dari "porn revenge" (pornografi balas dendam) dan lupa menghapus video-video yang telah dilaporkan, kata sebuah grup kampanye kepada BBC News.

Seorang perempuan Inggris, "Sophie", mengatakan ia merasa "ternodai" setelah sebuah video yang menampilkan dirinya - diunggah oleh mantan pacarnya - ditonton ratusan ribu kali.

Grup kampanye #NotYourPorn mengatakan konten seperti itu memungkinkan pemilik Pornhub, MindGeek, untuk mendulang profit yang lebih besar dari iklan.

Pornhub mengatakan bahwa mereka "sangat mengutuk" pornografi berdasarkan motif balas dendam.

Situs tersebut menambahkan bahwa mereka memiliki "kebijakan anti-revenge porn yang paling progresif di industri [pornografi]".

Pornhub mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat menemukan "catatan email apa pun" dari Sophie yang meminta video-video yang menampilkan dirinya dihapus, tapi telah berbicara dengan perempuan itu dan "berharap untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama".

Rangkin 10 besar

Sophie – bukan nama sebenarnya – mengatakan kepada program BBC Victoria Derbyshire bahwa ia sedang berjalan-jalan bersama keluarganya 18 bulan lalu tatkala memeriksa telefonnya dan menemukan deretan panggilan dan pesan yang tidak terjawab.

Saudara perempuan pacarnya telah menemukan sejumlah video yang menampilkan dirinya di Pornhub — situs porno terbesar di dunia.

Salah satu video tersebut berada di ranking sepuluh besar dan telah ditonton ratusan ribu kali.

"Saya merasa kaget, malu, dan ternodai," katanya.

Saat menjalin hubungan dengan pacar, Sophie membuat enam video bersamanya.

Mereka putus sekitar empat tahun yang lalu dan ia belum memberinya izin untuk mengunggah video-video tersebut ke dunia maya.

Segera setelah Sophie mengetahui hal tersebut, ia menelefon pacarnya untuk protes, ujarnya.

Dalam sepekan, video-video itu dihapus.

Tidak responsif

Namun, berdasarkan enam video tersebut, seseorang telah membuat sekitar 100 klip pendek, dan mengunggahnya kembali ke Pornhub.

Tapi ketika Sophie melaporkan ini ke Pornhub, tanggapan dari pihak Pornhub "tidak cukup membantu", katanya.

Sophie dihubungkan dengan perusahaan lain, yang menangani permintaan Pornhub untuk menghapus video, tapi ia mengatakan perusahaan itu juga tidak responsif.

Perempuan itu juga melapor ke polisi. Hingga saat ini, belum ada yang dijerat dengan dakwaan.

Kate Isaacs, dari grup kampanye #NotYourPorn, mengatakan video-video revenge porn kerap dilabeli di Pornhub sebagai konten "amatir" atau "buatan rumah" — dua istilah pencarian populer yang membuat situs tersebut semakin berharga bagi pihak pengiklan.

Sophie kini ingin Pornhub berusaha lebih keras untuk menghapus konten seperti itu langsung setelah mereka menyadarinya, dan mencegahnya diunggah kembali setelah dihapus.

Jadi olok-olok

Pada saat Sophie menemukan video-videonya, ia sedang berada dalam hubungan baru — dan temuan tersebut menimbulkan ketegangan dengan pasangannya.

Teman-teman pacar barunya itu mengolok-olok dirinya karena video di Pornhub, ujarnya.

Sophie juga memiliki seorang putri remaja, dan hubungan mereka "tak lagi sama sejak itu".

Vice-president Pornhub, Corey Price mengatakan, "Konten yang diunggah ke Pornhub yang terang-terangan melanggar persyaratan layanan kami dihapus segera setelah kami menyadarinya, dan ini termasuk konten non-konsensual (dibuat tanpa persetujuan pihak yang terlibat -red).

"Pada 2015, untuk lebih memastikan keamanan semua penggemar kami, kami secara resmi mengambil tindakan keras terhadap revenge porn, yang kami yakini merupakan bentuk kejahatan seksual, dan mulai memberlakukan formulir pengajuan untuk memudahkan penghapusan konten non-konsensual.

"Kami juga menggunakan perangkat lunak sidik jari digital yang canggih dari pihak ketiga, yang memindai setiap unggahan baru untuk kesesuaian dengan materi yang tidak sah dan memastikan video yang asli tidak kembali pada platform."***

Bagikan: