Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Umumnya cerah, 21.2 ° C

Panda Bernama Hong dan Kong Memicu Perdebatan

Huminca Sinaga

INDUK panda bernama Meng Meng.*/REUTERS
INDUK panda bernama Meng Meng.*/REUTERS

BERLIN, (PR).- Kelahiran dua anak panda kembar di kebun binatang Berlin beberapa hari yang lalu memicu debat nasional. Khususnya terkait apakah diplomasi panda membutakan Jerman pada catatan hak asasi manusia pemerintah Tiongkok.

Ketika para pengunjung dan jurnalis mengantre di pinggiran kebun binatang untuk melihat anak-anak panda dari Meng Meng dan Jiao Qing, sebuah perdebatan terjadi lantaran kedua anak Panda tersebut dinamai Hong dan Kong. 

Pemberian nama ini dinilai akan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Jerman. Kanselir Jerman Angela Merkel sendiri saat ini sedang berada di Beijing untuk membahas masalah ekonomi dengan mitranya, Xi Jinping.

Tabloid Jerman Bild yang dikutip The Guardian telah meminta warga Berlin untuk memilih nama bagi dua bayi panda tersebut.

Hasilnya, mayoritas pembaca ingin kedua bayi hewan lucu itu diberi nama Hong dan Kong. Pemberian nama ini juga menjadi bentuk keprihatinan warga Berlin atas protes yang telah berlangsung di Hong Kong selama tiga bulan terakhir.

Simbol politik

Surat kabar Der Tagesspiegel  melaporkan bahwa para pembaca Bild menyukai nama Hong dan Kong tersebut.

“Bild memilih untuk memberikan nama anak-anak panda tersebut Hong dan Kong karena nama tersebut menjadi simbol politik brutal Tiongkok yang ada di balik bayi panda ini," tulis Bild dalam berita utama pada hari Kamis. "Bild menuntut pemerintah Jerman agar bereaksi secara politis atas kelahiran kedua beruang kecil ini."

Aktivis Hong Kong Joshua Wong juga ikut meramaikan perdebatan soal pemberian nama Hong dan Kong tersebut. Menurut Wong, untuk memberi peringatan buat Tiongkok atas sikap represif terhadap demonstran, sebaiknya kebun binatang menamai bayi kembar panda tersebut dengan sebutan Democracy dan Freedom. Setidaknya, bagi Wong, nama ini mengingatkan warga dunia bawa kebebasan dan demokrasi di Hong Kong sedang diberangus.

Sementara itu, kelompok aktivis kesejahteraan hewan, PETA menyayangkan sikap kebun binatang di Berlin yang memanfaatkan hewan untuk menyampaikan pesan politis.

Menurut PETA, tindakan otoritas kebun binatang tersebut merupakan bagian dari eksploitasi panda. “Bayi-bayi panda menghadapi kehidupan yang menyedihkan, dijadikan sebagai daya tarik publik. Mereka tidak akan pernah mengenal habitat alami mereka di hutan pegunungan Tiongkok, ”kata juru bicara PETA. "Mereka hanya dibesarkan di tempat ini hanya karena politik, prestise, dan keuntungan," tambahnya.

Perjanjian 15 tahun

Jerman telah menyewa dua panda yaitu Meng Meng yang berusia enam tahun dan temannya, Jiao Qing yang berusia sembilan tahun dari pemerintah Tiongkok sebesar 1 juta euro atau sekitar 15 miliar rupiah pada tahun 2017, di bawah perjanjian yang berlaku selama 15 tahun.

Saat itu, Merkel dan presiden Tiongkok, Xi Jinping, membuka kandang kedua panda tersebut bersama-sama sebagai ungkapan persahabatan di antara dua kekuatan industri besar dunia tersebut.

Panda-panda itu telah terbukti menjadi daya tarik pengunjung, sesuai ekspektasi. Rekor 5 juta pengunjung tahun lalu itu menunjukkan bahwa keberadaan panda tersebut telah membuat kebun binatang menjadi tempat terpopuler yang dikunjungi warga setempat.

Sejauh ini, belum ada informasi resmi tentang masa depan anak-anak panda tersebut. Akan tetapi, menurut perjanjian yang dibuat antara Berlin dan Beijing, anak-anak panda itu secara resmi milik Tiongkok, yang memungkinkan mereka berhak untuk menamai anak-anak panda tersebut. Anak-anak panda tersebut kemungkinan akan dikirim ke Tiongkok dalam waktu sekitar tiga atau empat tahun ketika mereka sudah bisa mandiri.

Dokter hewan dan pengasuh dari Tiongkok telah diterbangkan ke Berlin untuk merawat anak-anak panda itu. Mereka tidak disusui oleh ibu mereka, tetapi ditempatkan di inkubator yang dipinjam unit neonatal rumah sakit Charite. Otoritas Kebun binatang mengatakan bahwa masyarakat baru bisa melihat bayi-bayi panda tersebut pada bulan November mendatang.***
 

Bagikan: