Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Pengobatan Terbaru Ini Turunkan Risiko Kanker Payudara

Huminca Sinaga
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

NEW YORK, (PR) - Wanita yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara dapat menurunkan risiko tersebut dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Demikian rekomendasi terbaru dari lembaga USPSTF (Satuan Tugas Layanan Pencegahan Penyakit di AS).

"Kami menganjurkan wanita untuk berbicara tentang manfaat dan bahaya pengobatan dengan dokter mereka sehingga mereka dapat membuat pilihan terbaik untuk diri mereka sendiri, berdasarkan preferensi pribadi mereka," kata anggota USPSTF Dr. Michael Barry dari Harvard Medical School Boston, kepada Reuters Health melalui surel.

Hasil penelitian terhadap lebih dari 5 juta wanita yang berpartisipasi dalam 46 studi, USPSTF mengeluarkan dua rekomendasi utama dalam pernyataan yang diperbarui pada tahun 2019.

Pertama, wanita yang tidak memiliki riwayat kanker payudara tetapi berisiko tinggi terkena kanker payudara dianjurkan meminum obat untuk mengurangi risiko tersebut.

Kedua, USPSTF menganjurkan kepada wanita dibawah umur 60 tahun yang tidak memiliki peningkatan risiko kanker payudara untuk tidak menggunakan obat-obatan tersebut, karena kemungkinan efek samping yang terjadi dari obat itu ialah terjadinya penggumpalan darah, kanker endometrium, dan katarak.

Rekomendasi pada tahun 2013, terhitung ada dua obat untuk mengurangi risiko kanker payudara yaitu obat tamoxifen dan raloxifene. Memasuki tahun 2019,  terdapat penambahan  dua obat baru, yakni exemestane dan anastrozole.  Kedua obat tersebut diyakini bisa mengurangi risiko kanker payudara atau juga disebut aromatese inhibitor  (berfungsi untuk menghentikan produksi estrogen pada wanita yang mengalami fase menopause).

Belum disetujui

Akan tetapi, penggunaan kedua obat baru itu untuk mengurangi risiko kanker payudara, sampai saat ini masih belum disetujui oleh FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS).

Otoritas USPSTF mengakui bahwa wanita dengan mutasi pada gen kanker payudara BRCA1, BRCA2 dan wanita yang sebelumnya melakukan pemeriksaan radiasi dada akan berisiko terkena kanker payudara. Namun, tidak ada bukti yang cukup untuk mengetahui manfaat dan bahaya obat-obatan ini untuk para wanita.

"Selain itu, kita juga membutuhkan lebih banyak bukti untuk lebih mengetahui manfaat dan bahaya dari obat-obatan ini dan bagaimana cara obat-obatan tersebut mengurangi risiko kanker payudara agar tidak terjadi kejadian seperti wanita Afrika-Amerika yang meninggal karena kanker payudara," Kata Dr. Barry.

Dr. Barry juga menjelaskan bahwa, "USPSTF terus menganjurkan kepada wanita yang khawatir akan pengembangan kanker payudara mereka untuk berbicara dengan dokter mereka untuk memutuskan apa obat pencegahan yang tepat untuk mereka.”

Dr. Heidi D. Nelson dari Universitas Kesehatan dan Sains Oregon, Portland, Oregon, yang ikut menulis ulasan bukti yang mendukung rekomendasi tersebut, dia mengatakan kepada Reuters Health bahwa, "Berbagai kriteria risiko digunakan untuk mendaftarkan wanita ke dalam uji coba obat penurunan risiko kanker payudara. Kriteria ini biasanya termasuk riwayat keluarga kanker payudara dan biopsi payudara jinak sebelumnya, terutama hiperplasia atipikal. Hasil uji coba mungkin paling berlaku untuk wanita dengan risiko yang sama dengan peserta uji coba."

Lydia E. Pace dari Brigham yang juga dokter rumah sakit wanita di Boston, mengatakan kepada Reuters Health melalui surel, "Saya telah merawat beberapa pasien dengan obat penurunan risiko kanker payudara ini dan saya merasa senang dengan keputusan mereka untuk meminumnya. Saya memiliki pasien lain yang meminum obat ini tetapi berhenti meminumnya dalam waktu yang singkat. Dan saya memiliki pasien yang sangat tidak ingin minum obat baru ini karena merasa manfaatnya tidak sepadan."

“Keputusan tentang obat-obatan ini masih belum jelas, tetapi saya mencoba menyampaikan bahwa, obat ini tidak berbahaya," katanya. "Penting juga bagi wanita untuk mengingat bahwa ada cara penting lain bagi mereka untuk dapat mengurangi risiko kanker payudara, termasuk mengurangi asupan alkohol dan mempertahankan berat badan yang sehat."***

Bagikan: