Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Perempuan Pemeluk Hindu Siap Menantang Donald Trump

Huminca Sinaga
SENATOR Hawaii Tulsi Gillbard.*/REUTERS
SENATOR Hawaii Tulsi Gillbard.*/REUTERS

WASHINGTON, (PR).- Pemilihan Presiden AS 2020 akan digelar pada 3 November 2020. Kubu oposisi, Partai Demokrat pun telah menyiapkan sejumlah kandidatnya untuk memenangi pemilu tahun depan.

Sejauh ini ada sekitar 20 kandidat capres dari Partai Demokrat, termasuk tujuh srikandi yang ingin berjuang menantang Donald Trump, yang berniat maju untuk periode kedua tahun depan.

Dari tujuh srikandi asal partai oposisi, dua orang di antaranya berdarah campuran, yakni Senator Hawaii Tulsi Gillbard (38) yang merupakan pemeluk Hindu keturunan Samoa dan  Kamala Harris (54) yang berdarah India.

Pada awal tahun ini mereka resmi mengajukan diri dalam bursa bakal calon presiden Amerika Serikat pada Pilpres 2020 mendatang.

Namun, untuk terpilih menjadi capres di AS bukan hal yang mudah. Banyak proses harus dilalui. Begitu juga sejumlah persyaratan harus dipenuhi, di antaranya mendapat dukungan suara dari konstituen minimal dua persen.

Persyaratan lainnya, kandidat juga harus dijagokan oleh sedikitnya empat lembaga sigi level nasional yang terakreditasi oleh Partai Demokrat. Selain itu, para kandidat juga harus mendapatkan dukungan dari sedikitnya 400 donor berbeda yang tersebar di minimal 20 negara bagian, dengan  jumlah dana yang terkumpul minimal 130.000 dolar AS.

Semua ini merupakan persyaratan yang tidak mudah untuk dipenuhi, bahkan oleh kandidat terpopuler sekali pun, seperti politisi yang juga peselancar asal Hawaii, Tulsi Galbbard.

Tulsi yang dianggap terpopuler dari segi pencarian via Google, punya banyak hal yang menarik untuk dijadikan modal memenangi Pilpres 2020. Termasuk bakatnya sebagai surfer piawai, pengalamannya menjadi anggota kongres AS selama empat periode dan juga pengalaman sebagai tentara AS yang mendapat banyak penghargaan dan pernah ditempatkan di daerah-daerah konflik, seperti Irak dan Libia.

Peluang menipis

Namun, ini semua ternyata tak cukup untuk memuluskan jalan Tulsi menuju kursi nomor satu di Gedung Putih.

Melansir laman Washington Times dan laman fivethirtyeight, Selasa (27/8/2019), peluang Tulsi menipis untuk bisa lolos menjadi kandidat capres AS dari Partai Demokrat. Pasalnya, berdasarkan hasil dua debat nasional yang diikuti Tulsi, termasuk debat terbaru, tanggal 26 Agustus 2019, Tulsi berada di peringkat ke-12 dari 20 kandidat capres yang berjuang untuk terpilih menjadi penantang Trump pada 3 November 2020.

Dalam hal ini, seperti dilansir laman fivethirtyeight, Tulsi masih belum memenuhi syarat untuk kategori jumlah lembaga sigi yang menjagokannya.
Sampai tanggal 27 Agustus 2019, baru 2 lembaga sigi yang menjagokan Tulsi. Padahal, syaratnya harus empat lembaga survei skala nasional.

Sementara sejumlah kandidat 10 besar Partai Demokrat, termasuk Joe Biden, Bernie Sanders dan Kamala Harris, sudah memenuhi persyaratan tersebut. Ketiganya didukung 14 lembaga sigi nasional.

Apakah masih ada waktu bagi Tulsi untuk mengejar ketertinggalannya itu?
Jawabannya, ya. Tapi, butuh kerja keras. Pasalnya deadline semakin mendekat. Sebelum tanggal 13 September 2019 yang bersamaan dengan digelarnya debat primer kandidat capres Partai Demokrat, Tulsi harus melengkapi semua persyaratan tersebut.

Jika gagal, peluangnya untuk menuju Gedung Putih akan kandas di tengah jalan.

Sejauh ini calon terkuat dari Partai Demokrat untuk melawan Trump tahun depan adalah Joe Biden yang juga mantan wakil presiden AS di era Barrack Obama.

Banyak talenta

Bicara soal pencalonan Tulsi, wanita berdarah Samoa ini, meski memiliki banyak talenta, dia juga punya sejumlah kontroversi. Di antaranya, jelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS pada 2016 lalu, Tulsi pernah menemui sang presiden terpilih. Selain itu, yang tak kalah kontroversial, warga Hindu pertama yang menjadi anggota Kongres AS tersebut juga pernah mengunjungi Suriah secara rahasia untuk bertemu Presiden Bashar al-Assad yang merupakan pelaku kejahatan genosida.

Dalam pertemuan tersebut, Tulsi  bertanya apakah Assad adalah sosok yang bertanggung jawab atas serangan kimia terhadap warga sipil. Ia juga menanyakan soal tuduhan penyerangan pangkalan udara AS di Suriah yang dilakukan Assad.

Saat publik akhirnya mengetahui kunjungan tersebut, Tulsi menegaskan, dirinya tidak menyesali perjalanan itu dan menganggap pertemuan dengan musuh adalah hal yang penting jika serius mengejar perdamaian.

Tulsi selama ini dikenal sebagai veteran antiperang. Dia juga sangat mendukung pembatasan penggunaan senjata, serta mendukung hak untuk aborsi. 
Di luar itu, Tulsi juga terkenal sebagai peselancar ternama yang membuat namanya dikenal di AS.
Banyak foto-fotonya di dunia maya menunjukkan kelihaiannya menaklukkan ombak di pantai. Sosoknya sebagai peselancar ini pula yang membuat wanita yang terjun pertama kali ke dunia politik di usia 21 tahun itu, sering dimintai foto bareng oleh para penggemarnya.***
 

Bagikan: