Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Dituduh Bunuh Pejabat, Dua Warga Rohingya Ditembak Mati

Huminca Sinaga
RUMAH tempat kediaman dua warga Rohingya yang dituduh membunuh pejabat politik, setelah diamuk warga lokal. Polisi telah menembak mati dua warga tersebut pada Sabtu, 24 Agustus 2019.*/GETTY IMAGES
RUMAH tempat kediaman dua warga Rohingya yang dituduh membunuh pejabat politik, setelah diamuk warga lokal. Polisi telah menembak mati dua warga tersebut pada Sabtu, 24 Agustus 2019.*/GETTY IMAGES

DHAKA, (PR).- Dua warga Rohingya ditembak mati aparat kepolisian Bangladesh di kamp pengungsian setempat, Sabtu, 24 Agustus 2019. Seperti dilansir The Guardian, Minggu, 25 Agustus 2019, aksi kekerasan tersebut terjadi setelah kedua warga Rohingya dituduh membunuh seorang pejabat partai yang berkuasa Bangladesh.

Hampir satu juta penduduk Rohingya tinggal di kamp-kamp kumuh yang terletak di Bangladesh bagian tenggara. Pada 2017 lalu, sebanyak 740.000 penduduk Rohingya melarikan diri dari serangan militer yang dilakukan aparat kepolisian terhadap minoritas Muslim di Myanmar. 

Aktivis HAM yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, mereka percaya kedua pria Rohingya itu dibunuh polisi Bangladesh dalam pertemuan bertahap.

Itu terjadi dua hari setelah upaya Bangladesh dan sejumlah LSM gagal untuk memulangkan para pengungsi. Tidak satu pun penduduk Rohingya kembali ke Rakhine.

"Kedua pria itu meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit," kata seorang inspektur polisi setempat, Rasel Ahmad.

Ahmad mengatakan, dua pria Rohingya itu ditembak dan terluka parah di kamp pengungsi Jadimura di distrik Cox's Bazar setelah seorang pejabat yang bernama Omar Faruk dari partai Liga Awami terbunuh. Mereka menduga bahwa dua pria Rohingya yang menembaknya.

Omar Faruk ditembak pada kepalanya oleh pria bersenjata pada hari Kamis di sebuah pemukiman di dekat kota perbatasan Teknaf, kata Ahmad.

Pembunuhan itu telah memicu amarah di kalangan penduduk setempat. Ratusan orang memblokir jalan raya utama sampai menuju ke kamp selama berjam-jam, membakar ban, dan merusak toko yang dikunjungi oleh para pengungsi.

Tersangka utama

Ahmad mengatakan, kedua pria yang ditembak mati pada hari Sabtu lalu telah diidentifikasi sebagai tersangka utama dalam pembunuhan Faruk.

"itu merupakan kesalahan para pengungsi," kata Abdul Matin, seorang teman politisi yang meninggal itu.

"Kami menginginkan keadilan dalam waktu secepat mungkin," ujarnya.

Mohammad Saber, salah seorang pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kerumunan massa mengatakan, sejumlah warga Bangladesh telah melakukan aksi kekerasan kepada para pengungsi.

"Mereka mengancam kami, mengatakan kami harus pergi atau mereka akan membunuh kami. Mengapa kami harus dihukum jika mereka sendiri juga melakukan sesuatu yang buruk?" katanya.

Penduduk ketakutan

Pengungsi lain mengatakan, pertumpahan darah baru-baru ini telah membuat para penduduk di kamp ketakutan. Keamanan diperketat dan juga kamp yang biasanya pada Sabtu malam itu sibuk sekarang menjadi sunyi, lantaran jalan dan toko ditutup.

Ikbal Hossain, wakil kepala polisi dari distrik Bazar Cox mengatakan, mereka akan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.

“Kami telah mengidentifikasi beberapa dari mereka. Kami akan membawa mereka ke pengadilan dengan cara apa pun,” katanya.

Pembunuhan itu terjadi ketika Rohingya sedang memperingati dua tahun kepindahan mereka ke Bangladesh dari Rakhine setelah aksi militer yang brutal.

Penyelidik PBB mengatakan, kekerasan pada tahun 2017 lalu menyeret sejumlah jenderal penting Myanmar yang dianggap telah melakukan "genosida".

Penyelidik PBB menjamin akan menuntut jenderal-jenderal penting Myanmar yang telah melakukan aksi “genosida” pada tahun 2017 lalu.

Upaya kedua Bangladesh pada hari Kamis untuk mulai memulangkan Rohingya ke Myanmar gagal setelah para pengungsi mengatakan, mereka tidak akan kembali kecuali keamanan mereka dipastikan dan mereka diberikan kewarganegaraan di tanah air mereka.***

Bagikan: