Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 23.5 ° C

Pemadaman Listrik Bisa Menjadi Bencana Besar

Huminca Sinaga
FOTO ilustrasi petugas sedang melakukan perawatan jaringan listrik.*/ANTARA
FOTO ilustrasi petugas sedang melakukan perawatan jaringan listrik.*/ANTARA

PETAK-petak tanah bisa segera menjadi tidak layak huni di tengah perubahan cuaca yang sangat dahsyat. Menurut para ilmuwan, suhu udara dunia yang ekstrim mendorong tubuh manusia “mendekati batas termal”.

Dilansir laman Independent, gelombang panas telah menyapu wilayah Eropa beberapa waktu lalu dengan suhu lebih dari 40° C di beberapa negara.

Sementara di beberapa tempat seperti Asia Selatan dan Teluk Persia, suhu udaranya telah mencapai 54° C.

Terlepas dari semua efisiensi termal tubuh, wilayah-wilayah ini bisa menjadi tidak layak huni di masa yang akan datang, menurut ilmuwan cuaca di Loughborough University, Dr Tom Matthews.

Saat suhu udara lebih dari 35° C, tubuh mengeluarkan keringat untuk menjaga agar tubuh berada dalam kondisi aman. Namun, saat suhu pada “termometer bola basah” yang menunjukan kemampuan uap air untuk menguap mencapai 35° C, sistem ini tidak lagi berfungsi.

Dr Matthews menulis bahwa suhu pada bola basah biasanya lebih rendah dari suhu normal.

Setelah batas suhu dari bola basah ini dilewati, maka udaranya penuh dengan uap air sehingga keringat tidak lagi menguap. Hal ini berarti tubuh manusia tidak bisa mendinginkan dirinya sendiri untuk bertahan hidup lebih dari beberapa jam.

Tidak layak huni

Selain itu, Dr Matthews juga menambahkan bahwa tanpa sarana untuk menghilangkan panas, suhu inti tubuh kita akan naik, terlepas dari berapa banyak air yang kita minum, berapa banyak tempat teduh yang kita cari, atau berapa banyak istirahat yang kita dapatkan.

Menurut Dr Matthews, beberapa daerah, yang termasuk paling padat penduduknya di bumi akan bisa melewati ambang batas ini pada akhir abad ini.
Sudah ada bukti terkait suhu bola basah yang terjadi di Barat Daya Asia.

Dengan adanya perubahan perubahan iklim yang mulai mengubah sistem cuaca, kenaikan suhu bisa saja membuat beberapa bagian dari bumi menjadi tidak layak huni di masa yang akan datang.

Jika aliran listrik dapat terus dipertahankan tanpa gangguan, maka hidup dalam kondisi stres akibat suhu panas kronis, masih bisa dijalani. 
Akan tetapi, pemadaman listrik bisa menjadi bencana yang besar.

Dalam sebuah makalah yang baru- baru ini diterbitkan di Nature Climate Change, Dr Matthews dan tim nya melihat pada peristiwa yang disebut “grey swan” dalam kasus panas ekstrim yang bertepatan dengan pemadaman listrik besar-besaran.

Pemadaman besar- besaran terkadang mengikuti adanya angin topan tropis yang kuat. Para peneliti menemukan bahwa suhu panas berbahaya selama periode pemadaman listrik bisa memiliki konsekuensi yang besar.

Berbulan-bulan

Salah satu contohnya ialah pemadaman selama berbulan-bulan di Puerto Rico setelah badai Maria. Hal itu disebabkan oleh adanya angin topan tropis dan efeknya pun menjadi hal yang paling serius.

Mereka juga menemukan bahwa ketika iklim memanas, semakin besar kemungkinannya bagi angin topan kuat semacam ini akan diikuti oleh panas yang berbahaya. Hal tersebut akan terjadi setiap tahun jika pemanasan global mencapai suhu 4° C.

Selama proses tanggap darurat terhadap angin topan tropis, menjaga agar suhu tubuh tetap dingin harus menjadi prioritas utama, sama seperti menyediakan air minum yang bersih.

Negara- negara yang memiliki suhu panas cenderung memiliki tingkat kesiapan yang rendah untuk menghadapi bahaya yang mungkin terjadi kedepannya. Hal ini bisa menorong terjadinya migrasi masal yang akan membuat panas menjadi masalah di seluruh dunia, bahkan untuk negara- negara yang tidak mengalami suhu panas.

Matthwes pun menulis “Tantangan kedepannya akan sangat berat. Adaptasi pun memiliki batasnya sendiri. Oleh karena itu, manusia harus mempertahankan perspektif global tentang panas dan mengejar respon global, memangkas emisi gas rumah kaca agar tetap bertahan pada batas suhu yang seharusnya.”
“Dengan cara ini, kita memiliki peluang terbesar untuk mencegah panas yang mematikan, baik di rumah kita, maupun di luar,” tambahnya.***

Bagikan: