Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Fenomena Baru, Terjadi Hujan Plastik

Huminca Sinaga
MIKROPLASTIK yang terkandung dalam air hujan di Amerika Serikat.*/DUNCAN CLARK/REUTERS
MIKROPLASTIK yang terkandung dalam air hujan di Amerika Serikat.*/DUNCAN CLARK/REUTERS

WASHINGTON, (PR).- Gregory Wetherbee, peneliti Geological Survey dari AS, tidak menyangka akan menemukan serat-serat plastik kecil warna-warni ketika dia menganalisis sampel air hujan yang dia dapatkan dari Pegunungan Rocky.

Dilansir The Guardian pekan lalu, penemuan yang diterbitkan dalam penelitian berjudul “Hujan plastik” memicu pertanyaan baru tentang jumlah sampah plastik yang merembes ke udara, air, dan tanah.

Sampel air hujan yang dikumpulkan di Colorado dianalisis menggunakan mikroskop, berisikan serat plastik dengan banyak variasi warna, serta manik-manik dan juga pecahan. 

Wetherbee, yang telah mengumpulkan sampel untuk mempelajari polusi nitrogen, sangat terkejut akan temuan ini.

Wetherbee berkata “Temuan ini merupakan hal yang kebetulan” meskipun mereka konsisten dengan penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa partikel plastik dapat menempuh perjalanan dengan angin selama ratusan sampai ribuan kilometer.  

Studi-studi lainnya telah menemukan serat-serat plastik kecil di bagian terdalam samudera, di danau dan sungai Inggris dan di sumber air AS.
Sherri Mason, peneliti mikroplastik dan koordinator keberlanjutan di Penn State Behrend mengatakan bahwa kondributor utamanya adalah sampah. Lebih dari 90% limbah plastik tidak didaur ulang, dan karena mereka perlahan-lahan terdegradasi, sampah tersebut pecah menjadi potongan-potongan kecil. Dia menambahkan “Serat plastik juga merusak pakaian kita setiap kali kita mencucinya.”

Mason mengatakan bahwa sangatlah mustahil untuk melacak sumber dari serat-serat plastik kecil, tetapi hampir semua hal yang terbuat dari plastik dapat menemukan jalan mereka ke atmosfer. Mereka masuk kedalam tetesan air hujan, lalu ke sungai, danau, teluk dan lautan dan tersaring ke sumber air.

Hanya 1 persen

Meskipun para ilmuwan telah mempelajari polusi plastik di lautan selama lebih dari satu dekade, mereka hanya dapat mempelajari 1% dari semua itu. Stefan Krause, dari University of Birmingham mengatakan bahwa para peneliti bahkan tak tahu banyak tentang jumlah plastik di air tawar dan di udara.

Hal lain masih menjadi misteri adalah apakah mungkin secara teori untuk melenyapkan semua plastik dari dunia, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Krause menambahkan “Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang plastik yang ditemukan di sumber air, dan terakumulasi di sungai, akan membutuhkan waktu berabad-abad.”

Hewan dan manusia mengonsumsi mikroplastik melalui air dan makanan, dan kita mungkin menghirup partikel mikro dan nanoplastik di udara, meskipun para ilmuwan belum memahami efek pada kesehatan. Mikroplastik juga dapat menempel pada logam seperti merkuri dan bahan kimia berbahaya lainnya, serta bakteri beracun.
Sherri Mason mengatakan bahwa kita semua diberikan ratusan bahan kimia segera setelah kita lahir, kita tidak tahu berapa lama kita hidup jika kita tidak diberikan bahan-bahan kimia tersebut.***

Bagikan: