Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Dunia yang Kecanduan Plastik Mewariskan Segunung Masalah Lingkungan

Huminca Sinaga
SAMPAH plastik di Desa Bangun, Mojokerto, 30 Juli 2019.*/REUTERS
SAMPAH plastik di Desa Bangun, Mojokerto, 30 Juli 2019.*/REUTERS

DENVER, (PR).- Para siswa di Westmeade Elementary School Amerika Serikat bekerja keras membuat kotak dengan ornamen naga dari plastik. Naga yang dicat hijau dan diberi taring putih serta tulisan “Beri saya makan” itu memenangi kontes mendekorasi kotak daur ulang yang bertujuan membantu mengatasi pencemaran lingkungan.

The Intert melaporkan, kontes itu disponsori kelompok A Bag’s Life yang merupakan bagian dari American Progressive Bag Alliance, Organisasi yang berjuang melawan pembatasan plastik.

Ketika A Bag’s Life menyerukan untuk mengurangi penggunaan plastik, induk organisasinya, American Progressive Bag Alliance mendukung rancangan undang-undang yang mengilegalkan aturan pembatasan plastik yang telah ditandatangani gubernur.

Di Amerika Serikat, proses daur ulang plastik sudah tidak mengalami peningkatan. Sebagian besar plastik yang diproduksi berakhir di tempat pembuangan sampah atau tersebar di seluruh dunia.

Pada 2017, Tiongkok telah memutuskan menghentikan penerimaan limbah plastik dari negara lain.  Ketika kebijakan yang disebut “Pedang Nasional” itu diumumkan, Amerika Serikat mengirimkan 931 juta kilogram limbah plastiik ke Tiongkok dan Hong Kong.

PENGOLAHAN sampah plastik di Nairobi, Kenya.*/REUTERS

Pada kenyataannya, banyak dari potongan plastik “daur ulang” itu tampak telah dibakar atau dikubur alih-alih dibuat menjadi produk- produk baru. Saat ini, sampah plastik sudah mulai menumpuk di Tiongkok.

Sementara di Amerika Serikat, beberapa kota telah menghentikan proses daur ulang. Tanpa alternatif yang baik, kini Amerika Serikat membakar enam kali lipat plastik yang didaur ulang dan melepaskan polutan penyebab kanker serta abu beracun.

Secara global, masalah plastik itu ditimpakan kepada negara yang kurang beruntung dan kurang kuat daya tawar globalnya. Limbah plastik itu dikirimkan ke Turki, Senegal, Thailand, India, termasuk Indonesia.

Plastik di lautan

Fakta terkait polusi plastik yang mengerikan memang tak terhindarkan lagi. Studi menemukan adanya “mikroplastik” yang tersebar di udara, termasuk dalam tubuh manusia.

Saat ini, sekira 150 juta ton sampah plastik membanjiri lautan dan diperkirakan akan melampaui berat semua ikan di laut. Saat ini, adanya limbah plastik dipercaya sebagai kontributor utama terhadap perubahan iklim, kepunahan spesies, kerusakan ekologis, dan masalah kesehatan manusia.

PLASTIK di lautan.*/REUTERS

Menurut laporan dari Pusat Hukum Lingkungan Internasional, sejumlah upaya ekstraksi, penyulingan, pengelolaan limbah, produksi, atau mungkin pembakaran plastik, menambah lebih dari 850 juta ton gas rumah kaca ke atmosfer. Hal itu setara dengan emisi dari 189.500 megawatt pembangkit listrik batu bara.

Banyak ilmuwan menemukan bahwa plastik daur ulang memiliki zat kimia yang bisa membahayakan tubuh manusia, khususnya di bidang neurologi, reproduksi, dan perkembangan.

Selain itu, ahli kimia Ingrris Andrew Turner menemukan bahwa kandungan bahan kimia yang terdapat di beberapa jenis plastik 30 kali lebih tinggi dari batas aman.

Kejahatan industri plastik

Para pemilik sejumlah pabrik plastik besar bergulat keras tentang peran mereka dalam krisis plastik. Patty Long selaku presiden sementara dan kepala Asosiasi Industri Plastik mengakui bahwa tahun ini merupakan tahun yang sulit karena adanya tagihan antiplastik yang berjumlah sekitar 376 serta persepsi tentang industri plastik yang terus “menurun secara eksponensial”.

Meski telah banyak kasus yang terjadi, para pelaku industri plastik tidak berniat melambatkan usahanya atau bahkan berhenti. Mereka malah bersiap memperjuangkan hidup mereka agar industri plastik tetap ada.

Daur ulang kimia

Kini berkembang mitos terkait “daur ulang kimia” yang menawarkan solusi terbaru untuk limbah plastik. Menurut American Chemistry Council, perluasan pemulihan plastik ke ranah itu dapat menghasilkan miliaran dollar dari sisi ekonomi.

Akan tetapi, para pendukung teknologi tersebut mengakui belum ada yang mengetahui bagaimana cara yang efisien dan ekonimis untuk mengubah plastik dan bagian- bagiannya untuk kemudian dijadikan bahan bakar.

Direktur Chevron Phillips, Rick Wagner, dalam artikel di Majalah Pembaruan Daur Ulang Plastik, baru- baru ini berpendapat bahwa jika semua plastik nondaur ulang di Amerika Serikat dikonversi menjadi bahan bakar, jumlahnya akan cukup untuk memberi daya 9 juta mobil setiap tahunnya.

Akan tetapi, hal itu belum bisa dibuktikan kebenarannya. Wagner mengatakan bahwa kemampuan daur ulang secara kimia itu sama seperti peluang manusia pergi ke Mars.

Artinya, kita masih belum bisa memastikan kebenarannya. Gagasan bahwa plastik bisa dipecah dan dijadikan bahan bakar telah ada selama beberapa dekade. Namun, proses itu tidak pernah terbukti layak secara ekonomi dan lingkungan.***

Bagikan: