Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 24.4 ° C

Vape Diduga Picu Kanker Paru-paru

Huminca Sinaga
ROKOK elektrik.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ROKOK elektrik.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

WASHINGTON, (PR).- Pejabat kesehatan AS sedang menyelidiki kasus sejumlah warga, terutama remaja, yang dirawat di rumah sakit akibat cedera paru-paru yang cukup parah dalam beberapa pekan terakhir setelah melakukan aktivitas vaping.

Meskipun demikian, seperti dilansir AFP, Senin, 19 Agustus 2019, penyebab pasti penyakit mereka masih menjadi misteri.

Departemen kesehatan di Illinois, Minnesota dan Wisconsin telah mengatakan bahwa pasien-pasien yang dirawat menderita batuk, sesak napas, pusing dan kelelahan, karenanya mereka perlu diintubasi.

Para pejabat di tiga negara bagian tersebut telah melaporkan sedikitnya 30 kasus yang telah dikonfirmasi dan 22 yang sedang diselidiki. Mereka mengatakan masih terlalu dini untuk menyatakan apakah penyakit tersebut berhubungan dengan vaping. 

Para pejabat terkait dan lembaga Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini bekerja sama untuk penyelidikan lebih lanjut.

Beberapa dari remaja yang dirawat diketahui sempat melakukan dabbing, yakni vaping produk ganja. Media AS menyebutkan bahwa beberapa negara bagian lain juga melaporkan kasus yang sama.

Thomas Haupt, seorang ahli epidemiologi penyakit pernapasan bersama dengan Departemen Layanan Kesehatan Wisconsin, mengatakan kepada AFP pekan lalu bahwa pihaknya masih melakukan kajian terkait kasus tersebut.

 “Kami sedang dalam proses mewawancarai semua pasien kami, untuk mencoba mencari tahu hubungannya (vaping dengan penyakit mereka)," ujarnya.

Membingungkan

Temuan soal dugaan vaping picu kanker ini membingungkan para ahli. Pasalnya, rokok elektrik telah ada di Amerika sejak tahun 2006, dan penelitian ilmiah sejauh ini menunjukkan bahwa mereka mungkin merupakan alternatif rokok yang tidak terlalu beracun.

Menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention, penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja telah meroket dalam beberapa tahun terakhir. Sekitar 3,6 juta siswa sekolah menengah dan menengah atas menggunakan produk vaping pada tahun 2018, meningkat 1,5 juta pada tahun sebelumnya.

Kepada AFP, Haupt mengatakan bahwa bukan hanya para remaja saja yang terkait dengan kasus-kasus di Wisconsin. Dari kasus yang telah dikonfirmasi, kebanyakan dari mereka berusia 30 tahun-an. 

Sejauh ini setelah dirawat, mereka merespon dengan baik terhadap pengobatan steroid dan sebagian besar sudah dipulangkan. Mereka akan menerima scan lanjutan beberapa minggu dari sekarang untuk melihat apakah ada kerusakan permanen.

“Ini adalah penyelidikan yang tak terduga bagi kami, mengindikasikan bahwa para pasien tidak memiliki penyakit yang akan menempatkan mereka pada risiko komplikasi," ujar Haupt.***

Bagikan: