Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Bom Meledak, Puluhan Jenazah Tergeletak di Pesta Pernikahan

Tim Pikiran Rakyat
PENAMPAKAN aula pernikahan yang terdampak ledakan bom bunuh diri di Kabul, Minggu 18 Agustus 2019.*/REUTERS
PENAMPAKAN aula pernikahan yang terdampak ledakan bom bunuh diri di Kabul, Minggu 18 Agustus 2019.*/REUTERS

KABUL, (PR).- Sebuah bom meledak di sebuah pesta pernikahan di ibu kota Afghanistan, Kabul, menewaskan 63 orang dan mencederai lebih dari 180 lainnya.

Sejumlah saksi mata mengatakan kepada BBC bahwa seseorang meledakkan dirinya pada Sabtu 17 Agustus pukul 22.40 waktu setempat di bagian barat kota yang banyak dihuni kaum Muslim Syiah.

Kelompok Taliban menyanggah mereka berada di balik peristiwa itu. Tiada kelompok lain yang mengaku bertanggung jawab.

Dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, kelompok milisi Islam Sunni, termasuk Taliban dan ISIS, berulang kali menargetkan kelompok minoritas Syiah Hazara di Afghanistan dan Pakistan.

Insiden di pesta pernikahan itu terjadi 10 hari setelah sebuah ledakan besar berlangsung di luar kantor polisi Kabul yang menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai hampir 150 lainnya.

Dalam kejadian tersebut, Taliban mengklaim melakoninya.

Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengonfirmasi jumlah korban tewas beberapa jam setelah pengeboman.

Foto-foto di media sosial menampilkan sejumlah jenazah terbaring di aula pernikahan.

Pernikahan di Afghanistan umumnya dihadiri ratusan tamu yang berkumpul di aula besar. Biasanya tamu pria dipisahkan dari tamu perempuan dan anak-anak.

Ledakan keras

Seorang tamu pernikahan, Mohammad Farhag, mengatakan dirinya berada di ruang perempuan saat mendengar ledakan keras di ruang pria.

"Semuanya berlari keluar sambil menjerit dan menangis," tuturnya.

"Sekitar 20 menit aula penuh asap. Hampir semua yang berada di bagian pria tewas atau luka. Dua jam setelah ledakan mereka masih mengangkut jenazah keluar dari aula," sambungnya.

Juru bicara Taliban mengatakan pihaknya "mengecam keras" serangan itu.

"Tidak ada pembenaran atas pembunuhan sengaja dan brutal yang menargetkan perempuan dan anak-anak," tulis Zabiullah Mujaheed dalam pesan kepada media yang dikutip BBC.

Kelompok Taliban dan perwakilan pemerintah AS menggelar perundingan damai di ibu kota Qatar, Doha. Kedua belah pihak melaporkan terjadi kemajuan.

Pada Jumat (16/8/2019), Presiden AS, Donald Trump, mencuit kedua pihak "mencari kesepakatan-jika memungkinkan".

Kesepakatan mencakup penarikan mundur pasukan AS secara bertahap dan jaminan Taliban bahwa Afghanistan tidak akan dipakai oleh kelompok ekstrem untuk menyerang kepentingan AS.

Taliban juga akan memulai perundingan dengan seorang delegasi Afghanistan mengenai kerangka perdamaian, termasuk gencatan senjata.

Kelompok tersebut menolak berunding dengan pemerintah Afghanistan sampai ada kepastian kapan AS menarik mundur pasukannya.

Taliban kini menguasai wilayah yang jauh lebih besar ketimbang saat kekuasaan mereka dilucuti pada 2001.***

Bagikan: