Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 23.5 ° C

Ilmuwan Temukan Organ Baru Perasa Sakit

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/THE GUARDIAN
ILUSTRASI.*/THE GUARDIAN

STOCKHOLM, (PR).- Para peneliti menemukan organ baru berkaitan dengan rasa sakit. Seperti dilaporkan The Guardian, Minggu, 18 Agustus 2019, sebuah organ baru yang berkaitan rasa sakit telah ditemukan oleh para ilmuwan. 

Penemuan ini memberi harapan bahwa langkah tersebut nantinya akan menghasilkan obat penghilang rasa sakit baru. Para peneliti mengatakan, mereka telah menemukan sel-sel khusus yang mengelilingi sel-sel saraf rasa sakit yang meluas ke lapisan luar kulit, yang tampaknya berkaitan dalam merasakan nyeri. Menurut mereka, temuan ini memberi wawasan baru tentang rasa nyeri dan dapat membantu menjawab pertanyaan yang sudah lama.

Prof Patrik Ernfors, salah satu penulis penelitian dari Karolinska Institute di Swedia, berkata kepada The Guardian:  “Pertanyaan utama bagi kami adalah apakah sel-sel ini sebenarnya penyebab beberapa jenis gangguan nyeri kronis.”

Para peneliti mengungkapkan bagaimana mereka meneliti perilaku sel di kulit, yang mereka bilang, sebagian besar telah diabaikan. Ini adalah jenis sel Schwann, yang membungkus dan menelan sel-sel saraf dan membantu mempertahankannya.

Penelitian telah mengungkapkan bahwa sel Schwann ini memiliki bentuk seperti gurita. Setelah memeriksa jaringan, tim menemukan tubuh sel-sel duduk di bawah lapisan luar kulit, tetapi sel-sel memiliki ekstensi panjang yang membungkus ujung-ujung sel-sel saraf penginderaan rasa sakit yang membentang hingga ke lapisan luar  kulit (epidermis). Para ilmuwan terkejut dengan temuan itu karena telah lama dipercayai bahwa ujung sel saraf pada epidermis tidaklah terbuka.

Temuan terbesar dari tim ialah sel-sel Schwann ini dapat merasakan nyeri. Penemuan ini dilakukan dengan menggunakan optogenetika, dimana para peneliti memodifikasi genetik tikus sehingga sel-sel Schwann di kulit kaki mereka menghasilkan protein yang dapat menyerap cahaya.

Ketika cahaya menyinari sel, proteinnya berubah, memengaruhi membran, dan menghasilkan pergeseran muatan listrik pada sel, dengan kata lain, sel terstimulasi. Saat cahaya menyinari sel-sel ini, tikus-tikus yang diuji mengangkat kaki mereka. 

Mereka juga menunjukkan perilaku seperti menjilat, gemetar dan memeluk kaki mereka, menandakan bahwa merangsang sel Schwann ini menyebabkan rasa sakit. Ketika pulsa cahaya meningkat sesuai durasi, jumlah sel-sel saraf di dekatnya meningkat, mendukung gagasan bahwa sel-sel Schwann ini mengirimkan sinyal ke otak melalui sel-sel saraf.

Untuk mengetahui hal apa lagi yang bisa mengaktifkan sel-sel Schwann ini, tim memanaskan, mendinginkan dan menusuk kaki tikus lalu melihat respon mereka. Mereka kemudian membandingkan perilaku itu dengan respons hewan ketika cahaya digunakan untuk  mengaktifkan sel Schwann ini, membuatnya lebih sensitif, atau malah menonaktifkannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk ketiga rangsangan, tikus-tikus menunjukkan respon nyeri yang lebih kuat setelah sel diaktifkan oleh cahaya. Namun, ketika ditusuk, respon melemah setelah sel dinonaktifkan. Penelitian ini belum dilakukan pada manusia.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sel Schwann memiliki peran penting dalam merasakan nyeri. Dengan sel-sel Schwann khusus dan syaraf-syaraf yang ditelannya membentuk jaringan seperti jaring, para peneliti mengatakan merek pada dasarnya, mereka telah menemukan organ rasa sakit yang baru.

Prof Peter McNaughton, seorang ahli dalam sistem sensorik dari King's College London, mengatakan bahwa penelitian ini sangatlah menarik dan radikal.

Dia mengatakan, masih ada beberapa pertanyaan dari penelitian ini, salah satunya yaitu bagaimana sel Schwann mentransmisikan sinyal ke sel saraf yang peka terhadap rasa sakit.***

Bagikan: