Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Pencemaran Mikroplastik Sebarkan Zat Kimia Beracun

Huminca Sinaga
FOTO ilustrasi limbah plastik.*/ANTARA
FOTO ilustrasi limbah plastik.*/ANTARA

BREMEN, (PR).- Tingkat pencemaran mikroplastik yang tinggi telah ditemukan di salju Arktik hingga Pegunungan Alpen. Hal ini menuntut para peneliti untuk melakukan penelitian yang mendesak terkait potensi adanya dampak pada kesehatan manusia.

Salju menangkap partikel udara ketika jatuh dan sampel dari es yang mengapung di lautan antara Greenland dan Svalbard mengandung rata- rata 1.760 partikel mikroplastik per liternya. Bahkan, penelitian menemukan lebih banyak partikel, dengan rata- rata 24.600 per liter yang ditemukan di beberapa lokasi di Eropa. Temuan ini juga menunjukan bahwa perpindahan oleh angin merupakan kunci utama dari kontaminasi mikroplastik di seluruh dunia.

Seperti dilansir The Guardian, Kamis 15 Agustus 2019, para ilmuwan pun diharuskan untuk melakukan penelitian terkait dampak mikroplastik yang tersebar di udara bagi kesehatan manusia. Hal tersebut merujuk pada penelitian sebelumnya yang menemukan partikel dalam jaringan paru- paru manusia yang kanker. Pada bulan Juni, penelitian lain menunjukan orang- orang memakan setidaknyya 50.000 partikel mikroplastik setiap tahunnya.

Jutaan ton plastik dibuang ke lingkungan setiap tahun dan mereka terpecah menjadi partikel kecil dan serat yang tidak terurai. Partikel- partikel ini dikenal dengan mikroplastik dan telah ditemukan dimana- mana mulai dari pegunungan tinggi hingga lautan dalam. Mereka bisa membawa zat kimia yang beracun dan mikroba yang berbahaya.

Aspek kesehatan

Penelitian terbaru dipimpin oleh Dr. Melanie Bergmann dari Alfred Wegener Institute for Polar and Marine Research di Jerman. Ia mengatakan bahwa kita memerlukan penelitian pada aspek kesehatan manusia. Ada banyak penelitian yang sudah diterbitkan terkait dengan mikroplastik, tetapi tidak dengan kesehatan manusia. Hal ini sangat mengherankan. Bergmann juga menambahkan bahwa mikroplastik harus dimasukkan dalam skema pemantauan polutan udara.

Sebelumnya Bergmann menemukan 12.000 partikel mikroplastik dalam sample es di laut Arktik. Ia pun bertanya- tanya darimana datangnya partikel partikel itu. Beberapa dibawa oleh arus laut dari wilayah yang berpopulasi, tetapi analisis menunjukan bahwa sebagian besarnya tertiup oleh angin.

Penelitian yang dipublikasikan dalan jurnal Science Advance menyimpulkan bahwa konsetrasi mikroplastik dalam salju sangatlah tinggi dan menunjukan kontaminasi atmosfer yang signifikan.

“Pada dasarnya, mereka ada dimana- mana karena angin,” tutur Bergmann seperti dilaporkan The Guardian. Selain dari es yang mengapung di laut Arktik, ada juga 22 sampel salju yang diambil dari Svalbard, Jerman, Pegunungan Alpen dan Swiss serta kota Bremen.

Tim itu menemukan bahwa partikel yang kecil adalah yang terbanyak, tetapi peralatan mereka tidak bisa mendeteksi partikel yang lebih kecil dari 11 mikron.

Bergmann yakin, ada lebih banyak partikel yang lebih kecil di luar jangkauan pendeteksi mereka. Yang dikhawatirkan ialah mereka bisa diambil oleh organisme yang lebih besar. Apabila ukurannya sudah mencapai nano, maka partikel- partikel itu bisa menembus membran sel dan mentranslokasi ke dalam organ tubuh dengan mudah.

Mikroplastik dari lapisan pelindung berbasis polimer pada kendaraan, bangunan, dan kapal adalah yang paling umum ditemukan. Lalu, penemuan itu diikuti oleh partikel karet, polietilen, poliamida dan nilon.

Risiko kanker   

Para peneliti mengutip penelitian pada tahun 1998 sebagai satu- satunya pengamatan terhadap mikroplastik dalam paru- paru manusia. Penelitian ini menemukan serat yang dihirup ada pada spesimen kanker paru- paru dan disimpulkan sebagai hal yang berkontribusi terhadap risiko kanker paru- paru.

Kepala penasihat ilmiah Eropa mengatakan, dalam sebuah laporan di bulan April bahwa bukti (dari risiko pada lingkungan dan kesehatan karena mikroplastik) memberikan dasar kepedulian yang tulus dan keharusan dalam melakukan tindak pencegahan. Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru ini, menunjukan keprihatinan dengan fakta bahwa ekosistem yang semula murni seperti Arktik menjadi terkontaminasi.

“Penelitian ini sangatlah penting karena bisa menguatkan argumen untuk peraturan yang jauh lebih ketat bagi industri plastik dam memaksa pemerintah dunia untuk mengatasi masalah polusi plastik,” ujar Steve Allen di lembaga penelian EcoLab Perancis.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Allen pada April lalu juga menemukan kuantitas mikroplastik yang signifikan di udara wilayah Pyrenees yang juga melibatkan angin sebagai mekanisme perpindahannya. Sementara, penelitian yang dipimpin Bergmann melihat kontaminasi yang ada pada salju.

Hanya ada dua penelitian yang sebelumnya mengamati mikroplastik. Yang pertama ada di Paris, Perancis dan yang ke dua di Dongguan, Tiongkok.  Kedua kajian  tersebut menunjukkan adanya jatuhan partikel yang stabil. Penelitian terbaru lainnya menemukan mikroplastik menghujani Rockies di Amerika Utara dan di wilayah pertanian dekat Shanghai, Tiongkok.***

Bagikan: