Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Ebola Kini Bisa Disembuhkan

Huminca Sinaga
SEORANG perempuan bereaksi saat tenaga medis menyuntikkan vaksin Ebola ke dalam tubuhnya di Goma, Republik Demokratik Kongo, 5 Agustus 2019.*/REUTERS
SEORANG perempuan bereaksi saat tenaga medis menyuntikkan vaksin Ebola ke dalam tubuhnya di Goma, Republik Demokratik Kongo, 5 Agustus 2019.*/REUTERS

HASIL penelitian di Kongo menunjukan tingkat kesembuhan pasien Ebola meningkat dengan antibodi. Oleh karena itu, seperti dilaporkan The Guardian, Selasa, 13 Agustus 2019, Ebola tidak bisa disebut sebagai penyakit yang tak tersembuhkan lagi. 

Para peneliti mengatakan, dua dari empat obat yang diujikan di Republik Demokratik Kongo mempunyai signifikasi dalam mengurangi kematian.

ZMapp yang digunakan selama wabah Ebola besar di Sierra Leone, Liberia, dan Guinea telah dihentikan penggunannya bersama dengan Remdesivir, setelah dua antibodi monoklonal lain yang mencegah virus telah memberi efek substansial secara efektif. Hal itu diungkapkan oleh World Health Organization dan US National Institute of Allergy and Infectious Diseases (US NIAID) yang merupakan sponsor dari percobaan tersebut.

Profesor Jean-Jacques Muyembe selaku Direktur Utama Institut National de Recherche Biomédicale di Kongo mengatakan bahwa percobaan yang dimulai pada November telah dihentikan saat ini. Semua unit perawatan Ebola saat ini akan menggunakan obat antibodi monoklonal. Ia juga menambahkan bahwa percobaan ini akan menyelamatkan ribuan nyawa.

Salah satu tantangan terbesar adalah memerangi wabah yang panjang di Kongo, dan yang sekarang terjadi adalah keengganan dari 2,800 pasien untuk mencari perawatan.

Hal itu tidak membantu ketika kesempatan hidup bagi para penderitanya telah turun. Sebanyak 70% dari mereka yang terinfeksi di Kongo telah meninggal. 

Muyembe mengatakan, banyak orang melihat anggota keluarganya pergi ke pusat perawatan Ebola, lalu keluar dalam keadaan yang tidak bernyawa.

“Saat ini, 90% dari pasien mereka bisa pergi ke pusat perawatan dan keluar dalam keadaan yang sembuh total. Mereka akan mulai mempercayai hal itu dan membangun kepercayaan di tengah masyarakat nantinya,” tutur Muyembe.

Menurunkan kematian

Sementara itu Anthony Fauci, direktur US NIAID mengatakan, kematian secara keseluruhan dari mereka yang diberi ZMapp dalam uji coba di empat pusat adalah 40%. Sedangkan untuk Remdesivir adalah 53%.

Obat antibodi monoklonal yang dibuat oleh Regeneron telah menurunkan tingkat kematian pada 29%, dimana antibodi monoklonal 114 yang dibuat oleh Ridgeback Biotherapeutics menurunkan tingkat kematian jadi 34%.

Akan tetapi, hasil pada pasien yang segera datang ke pusat perawatan lebih mengesankan. Mereka memiliki tingkat kematian 24% pada ZMapp, 33% dengan Remdesivir dan 11% untuk 114 serta hanya 6% untuk obat dari Regeneron.

Dokter dari WHO Michael Ryan mengungkapkan, rata- rata orang yang jatuh sakit tidak menyegerakan untuk datang ke pusat perawatan. Hal ini mengurangi kesempatan mereka untuk bertahan hidup dan memungkinkan virus itu untuk menyebar dan menular.

Tantangan uji klinis

Lebih lanjut, Fauci mengungkapkan, jumlahnya mungkin berubah karena tidak semua data terakumulasi. Saat ini kedua antibodi monoklonal baru akan digunakan di setiap pusat perawatan di Kongo.

Fauci pun memberikan penghormatan pada semua yang terlibat dalam percobaan di empat kota: Beni, Katwa, Butembo, dan Mangina. 

Lembaga Swadaya Masyarakat termasuk Korps Medis Internasional dan Médecins Sans Frontières mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari untuk merawat pasien dalam kondisi yang sangat sulit di daerah di mana wabah terjadi.

Uji klinis dalam kondisi adanya wabah ini menjadi sulit. Bahkan staf medis pun harus mengenakan pakaian pelindung dan semua pasien harus diisolasi.

“Uji coba ini merupakan uji coba multi-obat acak pertama kali untuk Ebola dan telah terjadi, meskipun dalam keadaan yang sangat kompleks dan menantang," ucap Direktur Wellcome dan Wakil Ketua WHO untuk grup terapi Ebola, Jeremy Farrar.

Ia juga menambahkan bahwa wabah yang berkepanjangan seperti ini sangat merugikan masyarakat yang terkena dampaknya. Ini juga merupakan tanda betapa sulitnya wabah ini dikontrol.

"Saat ini, sudah ada cukup banyak pasien yang dirawat dan memberitahu kami terkait kemanjuran keempat obat ini. Percobaan itu akan menyelamatkan nyawa," katanya.

Fase selanjutnya harus mengungkapkan lebih banyak tentang obat mana yang paling berhasil. Semakin banyak perawatan itu dipelajari tentang bagaimana mereka dapat melengkapi respon kesehatan masyarakat -termasuk pelacakan kontak dan vaksinasi, semakin dekat kita dengan perubahan.

Ebola pun, dari penyakit yang mengerikan, akan berubah menjadi penyakit yang bisa dicegah dan diobati. Farrar mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah bisa menyingkirkan Ebola, tetapi mereka harus mampu menghentikan wabah ini agar tidak menjadi wabah baik nasional maupun regional.***

Bagikan: