Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Penembakan Massal Berkaitan dengan Video Game?

Huminca Sinaga
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump.*/ EVAN VUCCI/AP
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump.*/ EVAN VUCCI/AP

WASHINGTON, (PR).- Presiden Donald Trump menilai  penembakan massal yang menyebabkan 31 orang tewas di dua kota AS pada akhir pekan kaitannya dengan kebencian, kekerasan video game, dan gangguan mental.

Namun, dilansir laman USA Today dan AFP,  dengan 255 peristiwa penembakan massal yang terjadi tahun ini di Amerika Serikat, Gun Violence Archive, para analis mengatakan faktor-faktor itu tidak berkaitan dengan kekerasan.

Tidak semua penembak massal selalu berkaitan dengan masalah kesehatan mental, atau bermain video game kekerasan, atau memiliki dendam politik.

Namun, faktor yang paling jelas adalah kemudahan mendapatkan senjata.

Beberapa pelaku penembakan massal memang terobsesi bermain video game yang bertemakan “kekerasan”

Contoh kasus, Adam Lanza, yang membunuh 26 anak sekolah dan pegawai sekolah di Sekolah Dasar Sandy Hook di Connecticut pada tahun 2012 lalu. Dia dilaporkan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk memainkan beberapa video game yang bertema kekerasan.

Nikolas Cruz, yang membunuh 17 orang di Marjory Stoneman Douglas High School di Florida pada tahun 2018, dilaporkan memainkan video game bertemakan kekerasan hingga 15 jam sehari.

Dibantah

Namun, Chris Ferguson, seorang profesor psikologi di Universitas Stetson yang telah mempelajari masalah ini, mengatakan bahwa hal ini tidak memiliki hubungan langsung dengan penembakan.

Ratusan juta orang di seluruh dunia memainkan video game yang familiar dengan sebutan “First Person Shooter” (genre video game yang berbasis persenjataan) seperti "Call of Duty” dan “Fortnite” namun bukan berarti mereka akan menjadi penembak di dunia nyata.

Ferguson berkata “Video game kekerasan tidak berkontribusi pada penembakan massal, tidak secara keseluruhan maupun sebagian.”

American Psychological Association telah menemukan hubungan antara permainan dan film kekerasan dan peningkatan agresi di antara anak-anak, tetapi mengatakan itu hanya satu faktor risiko.

Jeffrey Swanson, seorang profesor psikiatri di Sekolah Kedokteran Universitas Duke berkata “Faktanya, seseorang yang  membantai sekelompok orang asing sudah bukanlah tindak pikiran yang sehat.”

Dia juga mengatakan bahwa ada sekitar 10 juta orang Amerika yang menderita gangguan mental yang serius, dan mayoritas dari mereka tidak terlibat dalam tindak kekerasan.

Swanson berpendapat bahwa kebanyakan penembak massal, tidak memiliki penyakit mental serius yang dapat diidentifikasi seperti skizofrenia, yaitu terbatasnya kemampuan otak untuk berpikir atau melihat kenyataan, atau gangguan bipolar.

Beberapa serangan juga dikaitkan dengan politik, yang didiskusikan secara online, terutama di situs web bernama 8chan.

Salah satu kasus adalah ketika seorang pria membunuh 22 orang di Walmart Texas pada hari Sabtu lalu, yang diidentifikasi dalam laporan media bernama Patrick Crusius yang berusia 21 tahun,  sebelumnya sempat merilis “Manifesto” pada web 8chan, menyerang “Invasi Hispanik” dari Meksiko.

Menurut seorang jurnalis, Robert Evans, 8chan telah mengubah penembakan massal menjadi kompetisi seperti di video game, di mana jumlah orang tewas dihitung sebagai “skor tinggi”

Namun tetap saja, bukti dari semua penembakan massal adalah kemudahan mendapatkan senjata.***

Bagikan: