Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Zona Aman Suriah Hanya Impian

Huminca Sinaga
PEJALAN kaki di Suriah bagian utara.*/AFP
PEJALAN kaki di Suriah bagian utara.*/AFP

PENGUMUMAN yang disampaikan oleh Turki dan Amerika Serikat tentang pendirian zona aman di timur laut Suriah yang rencananya akan dikelola Kurdi, menghilangkan kekhawatiran terjadinya serangan ke Suriah. Akan tetapi, hal itu akan mempersulit hubungan Washington dengan pasukan yang membantu mengalahkan ISIS.

Pengumuman itu muncul ketika Ankara sedang menyelesaikan penumpukan pasukan di sepanjang perbatasan selatan yang bersebelahan dengan Kurdi-Suriah. Pada hari Minggu lalu, presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan mengancam untuk menyerang dalam dua minggu ke depan serta membuat teka teki bagi Washington yang memandang Turki sebagai sekutu. Oleh karena itu, Washington pun semakin berjuang untuk menghindarkan konflik dengan Turki.

Meskipun detailnya ringan, perjanjian itu menunjukan bahwa zona aman di timur laut Kurdi akan dijalankan oleh pasukan Turki dan AS. Tidak ada hal spesifik yang ditawarkan tentang rute itu dan seberapa jauh itu akan masuk ke wilayah Suriah.

Kurangnya kejelasan membuat beberapa pengamat, termasuk mantan pejabat AS mengatakan bahwa pada dasarnya, ini adalah perjanjian untuk terus bernegosiasi. 

Walaupun ini hal yang bagus, Trump tidak memiliki komitmen terhadap Suriah. Saat ini, pasukan AS pun sedang terpuruk, dan hanya ada sedikit yang bisa mereka lakukan untuk medukung zona aman. Jadi, zona aman itu banyak angan- angan.

Turki mengatakan bahwa zona itu akan digunakan untuk mengembalikan para pengungsi Suriah ke perbatasan mereka karena para pejabatnya pun telah kembali ke Suriah beberapa pekan terakhir. 

Ubah demografi

Pejabat senior Kurdi mengatakan, langkah tersebut sama dengan membentuk kembali perbatasan secara demografis yang didominasi oleh Kurdi dan ingin diubah menjadi kubu Arab oleh Ankara.

“Kami menyadari niat pemerintah Turki, yaitu mengubah demografi Suriah seperti yang dilakukan rezim Ba’ath di tahun 1960- an dengan membangun sabuk Arab,” kata Jihad Omar, Ketua Kantor Hubungan Diplomatik Dewan Demokratik Suriah kepada The Guardian.

 Ia pun menambahkan bahwa hal ini merupakan hal yang mereka lawan karena itu adalah genosida terhadap Kurdi.

Pengumuman itu juga gagal menjelaskan implikasi kedua kamp penahanan besar dan dua penjara yag menahan lebih dari 130.000 orang yang dicurigai anggota atau pendukung ISIS.

Meskipun ISIS tidak lagi berkuasa di Suriah, ada kekhawatiran yang berkembang dan kuat bahwa mereka telah menggunakan kamp untuk berkumpul kembali dan melakukan regenerasi. Para pejabat senior pun khawatir bahwa anggota ISIS dapat mencoba pelarian yang terorganisir jika pasukan Kurdi yang menjaga mereka terganggu oleh perang Turki.

Untuk sebagian besar perang Suriah, Turki telah mendukung penuh oposisi anti- Assad. Selain itu, Turki juga mempersenjatai beberapa kelompok pemberontak dan menawarkan tempat berlindung pada 14 juta warga Suriah yang menghindari pertempuran. 

Prioritas pertama Ankara adalah mencoba memastikan bahwa kelompok- kelompok Kurdi yang bersekutu dengan partai Pekerja Kurdistan (PKK)  tidak muncul lagi dengan berani.

Turki juga menegaskan pada para pemimpin Kurdi yang bersekutu dengan AS untuk memerangi ISIS di bawah panji Syrian Democratic Forces (SDF) yang secara ideologi dan militer, bersekutu dengan PKK.

Bukan rekonsiliasi

Aaron Stein selaku direktur program Timur Tengah di Foreign Policy Research Institute mengatakan bahwa masalah mendasar adalah AS mendukung SDF yang dianggap Turki sebagai  kelompok teroris. Ia pun melihat bahwa pengumuman yang disampaikan itu tidak merekonsiliasi masalah ini serta tidak membahas mengenai perbedaan inti tentang suatu zona. 

Namun, Stein tidak melihat langkah pemecahan akan masalah itu.

Masalah kedua untuk Ankara adalah pengungsi Suriah yang telah menjadi penangkal bagi para pemimpin di kedua sisi dari spectrum politik yang terpecah. Soner Cagaptay, Direktur Program Turki di Washington Institute mengatakan, hal ini menjadi perubahan demografis yang paling signifikan sejak tahun 1920- an. Turki Selatan telah menjadi 10 hingga 15% Suriah dan dengan ekonomi yang melambat, kebencian terhadap pengungsi pun meningkat.

Oleh karena itu, Erdoğan ingin masalah ini hilang. Dia pun mendesak keras untuk pembentukan zona aman tidak hanya untuk menekan YPG dan PKK yang dianggap sebagai organisasi terror, tetapi juga untuk memindahkan sejumlah besar pengungsi kembali ke Suriah. 

Dewan Demokrat Suriah, Omar juga mengatakan bahwa gelombang masuknya warga Arab Suriah tidak akan ditoleransi.

“Posisi kami sudah sangat jelas sejak hari pertama. Setiap pergerakan dari pasukan Turki dan sekutunya ke Suriah tidak akan ditoleransi. Perjanjian baru- baru ini antara AS dan Turki untuk membangun zona aman tidak akan mengubah posisi kami,” tuturnya.***

Bagikan: