Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 29.1 ° C

Suhu Perairan Jepang Memanas, Perenang Internasional Resah

Endah Asih Lestari
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

TOKYO, (PR).- Perenang internasional menyuarakan keresahan mereka atas kualitas air dan suhu di ajang uji renang maraton untuk Olimpiade Tokyo 2020. Ofisial pertandingan berjanji akan memantau situasi dengan seksama menjelang waktu pertandingan.

"Ini adalah kompetisi terhangat yang pernah saya ikuti," kata peraih medali emas Olimpiade tiga kali Oussama Mellouli asal Tunisia setelah menyelesaikan kompetisi renang maraton 5 km putra, seperti dilaporkan Antara, Minggu, 11 Agustus 2019. 

"Rasanya masih nyaman untuk 2 km pertama, tapi kemudian saya menjadi sangat panas," ujar perenang berusia 35 tahun, yang memenangkan emas nomor 10 km renang di Olimpiade London 2012 itu.

Kompetisi itu dimulai pukul 07.00 pagi waktu setempat, dengan suhu udara sudah lebih dari 30 derajat ketika ibu kota Jepang dilewati gelombang panas yang mematikan.

"Suhu airnya tinggi, jadi saya agak khawatir," kata perenang Jepang Yumi Kida. Dia mengaku harus minum air es sebelum perlombaan, sebagai upaya mengurangi panas tubuhnya.

Federasi Renang Internasional (FINA) menetapkan bahwa atlet tidak boleh berlomba ketika suhu air melebihi 31 derajat. Direktur Eksekutif FINA Cornel Marculescu mengatakan, keselamatan para atlet menjadi prioritas utama.

Marculescu mengatakan badan eksternal akan dibentuk bersamaan dengan panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 untuk memantau kualitas air dan suhu menjelang pertandingan. Hasilnya bisa mempengaruhi waktu acara renang maraton.

"Berdasarkan informasi ini, kami akan memutuskan kapan lomba akan dimulai. Bisa jam 5 pagi, bisa jam 5:30 pagi, bisa jam 6 pagi, bisa jam 6:30 pagi - tergantung pada suhu air," katanya kepada AFP.

"Bekerja dengan perusahaan khusus seperti yang akan kita lakukan di Tokyo, kita akan memiliki informasi yang tepat untuk mengambil keputusan yang tepat," ujarnya.
 

Persoalan terbesar

Masalah cuaca panas menjadi persoalan terbesar bagi penyelenggara Olimpiade Tokyo, yang terus berupaya mengubah waktu dimulainya sejumlah lomba termasuk maraton, dalam upaya mengurangi efek panas terik musim panas Jepang.

Panitia ingin menghindari malu, berkaca dari Olimpiade Rio pada tahun 2016 ketika kolam yang akan digunakan untuk lomba menyelam berubah warna menjadi hijau dalam semalam, sehingga meresahkan.

Para pejabat Brasil juga harus berjuang membersihkan perairan teluk tempat berlangsungnya lomba layar dan selancar angin yang terganggu oleh bakteri dari selokan dan kotoran sampah.

Pada bulan Oktober 2017, penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 juga pernah dipermalukan setelah tes mengungkapkan tingkat bakteri e-coli lebih tinggi 20 kali dari standar internasional, sehingga memicu keraguan tentang keselamatan tempat tersebut.***

Bagikan: