Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

AS-Tiongkok Saling Ancam, Perang Dagang Mengeskalasi

Huminca Sinaga
PERANG dagang Amerika Serikat-Tiongkok.*/REUTERS
PERANG dagang Amerika Serikat-Tiongkok.*/REUTERS

BEIJING, (PR).- Perang dagang AS dan Tiongkok mengeskalasi belakangan ini. Beijing mendevaluasi yuan (menurunkan nilai yuan terhadap mata uang negara lain) setelah pemerintahan Trump mengancam akan menaikkan tarif pada hampir setiap ekspor Tiongkok. 

Seperti dilaporkan CNN Business, Amerika Serikat menyebut Tiongkok sebagai “manipulator mata uang”. Pertukaran telah mengguncang pasar global dan mengancam ekonomi global. 

Tiongkok mengatakan bahwa mereka siap untuk berperang jika perlu. Tiongkok juga mengatakan bahwa mereka memiliki senjata yang kuat.

Secara teori, Beijing dapat memicu kekacauan di pasar obligasi dengan membuang sebagian dari $ 1,1 trilyun dari Departemen Keuangan AS yang dimilikinya. Jika mereka melakukan itu, harga akan jatuh yang kemudian memicu naiknya suku bunga. Akibatnya, nilai pinjaman Amerika melonjak.

Akan tetapi, ada juga alasan mengapa Tiongkok tidak akan melakukan hal tersebut.  Pertama, bisa jadi mereka memang tidak menginginkannya.  Kedua, melakukan hal ini dapat memberi efek buruk juga kepada ekonomi Tiongkok sendiri.

Belakangan ini, Tiongkok telah melakukan langkah untuk menopang nilai mata uang mereka. Hal ini menunjukkan bahwa langkah Tiongkok menurunkan nilai yuan hanyalah sebagai peringatan. Namun, Presiden Donald Trump masih bisa membalas, meskipun pemerintahnya tetap akan melakukan perdagangan pada bulan September.

Jika Tiongkok benar-benar ingin menyerang Amerika Serikat, mereka bisa melakukannya dengan membuat dolar bergejolak atau tak stabil di pasar.

Dengan ini, tolak ukur untuk kredit bisnis dan konsumen, harga utang perusahaan, dan kredit mobil kemudian akan naik, sehingga menghentikan pertumbuhan ekonomi AS.  

Michael Hirson, pakar Tiongkok di konsultan Eurasia Group yang sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala perwakilan Departemen Keuangan AS di Beijing, berpendapat bahwa hal tersebut sangatlah berisiko tinggi. Lagipula, tindakan itu tidak sejalan dengan strategi Tiongkok yang sebenarnya.

Hirson mengatakan bahwa tujuan utama Tiongkok dalam perang perdagangan ini adalah untuk menahan tekanan dari Donald Trump. Jika Tiongkok merusak hubungan dengan Departemen Keuangan AS, maka kata Hirson, itu akan menjadi hal yang kontraproduktif.

Simpanan dolar tetap dibutuhkan untuk mempertahankan mata uangnya. Para ahli berpikir Tiongkok akan mencoba merekayasa penurunan yuan dalam beberapa bulan mendatang, yang memungkinkan mereka untuk menyerap beberapa tekanan pada ekonomi tanpa memicu keluarnya dana investor dari Tiongkok.***

Bagikan: