Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Ukuran Burung Nuri Purba Lebih Tinggi dari Seorang Manusia

Huminca Sinaga
ILUSTRASI burung.*/IFLSCIENCE
ILUSTRASI burung.*/IFLSCIENCE

WELLINGTON, (PR).- Seekor burung nuri raksasa yang menjelajahi Selandia Baru sekitar 19 juta tahun lalu memiliki tinggi sekitar 1 meter – lebih dari separuh rata-rata tinggi seorang manusia pada umumnya. Demikian hasil studi terbaru, sepertil dilansir BBC News,  Kamis, 8 Agustus 2019.

Sisa-sisa burung nuri lainnya ditemukan di dekat St Bathans di Selandia Baru sebelah selatan wilayah Otago.

Dengan ukuran Nuri yang besar itu, burung ini di masa lalu diyakini tak dapat terbang dan juga merupakan pemakan daging, tidak seperti burung kebanyakan saat ini.

Studi tentang burung ini telah diterbitkan di jurnal Biology Letters awal pekan ini.

Memiliki berat badan seberat 7 kilogram, burung tersebut dua kali lebih berat dari burung kakapo, yang sebelumnya diketahui sebagai beo terbesar.

“Tidak ada burung beo raksasa lainnya di dunia,” kata Professor Trevor Worthy, seorang ahli palaeontologi di Universitas Flinders di Australia dan penulis utama studi ini, kepada BBC. “Menemukan fakta terbaru soal nuri purba ini sangatlah penting.”

Ahli palaeontologi telah menjuluki spesies baru ini dengan nama Heracles inexpectatus karena dikenal dengan ukuran yang tidak biasa dan kekuatannya.

Tulang-tulang itu – awalnya diyakini milik elang atau bebek – disimpan dalam penyimpanan selama 11 tahun hingga awal tahun ini, ketika tim ahli palaeontologi menganalisisnya kembali.

Secara kebetulan

Professor Worthy mengatakan,  salah satu dari muridnya menemukan tulang nuri secara kebetulan di laboratoriumnya selama proyek penelitian.

Mengomentari paruh dari burung nuri yang begitu besar, Mike Archer dari Universitas NSW Palaeontology mengatakan bahwa itu “dapat membuka apapun yang diinginkan.”

Sang professor mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa burung nuri tersebut “mungkin saja makan lebih banyak dari makanan nuri konvensional, bahkan mungkin nuri lainnya”.

Namun, kata Professor Worthy kepada BBC, burung nuri tidak memiliki predator yang mengintainya, sehingga tidak mungkin mereka menjadi agresif, 

“Kemungkinan mereka duduk di tanah, berjalan-jalan dan memakan biji-bijian dan kacang, kebanyakan seperti itu,” kata Professor Worthy.

Paul Scofield, kurator senior sejarah alam di Canterbury Museum, mengatakan kepada AFP bahwa para peneliti “bertaruh jika burung itu tidak dapat terbang.”

Penemuan burung besar tidak jarang di Selandia Baru, pernah menjadi rumah bagi moa, spesies yang saat ini sudah punah yang tingginya mencapai sekitar 3,6 meter.

St. Bathans, tempat tulang kaki burung nuri raksasa digali, merupakan sebuah daerah dengan fossil yang melimpah dari zaman Miosen, yang berasal dari 23 juta sampai 5,3 juta tahun yang lalu.

“Tetapi sampai saat ini, tidak ada yang telah menemukan eksistensi dari burung nuri raksasa – dimanapun,” ujar Professor Worthy kepada AFP.

“Kami telah menggali fosil-fosil ini selama 20 tahun, dan setiap tahunnya mengungkap burung baru dan hewan lainnya… tidak diragukan lagi bahwa ada banyak lagi spesies yang tidak terduga yang belum ditemukan di kawasan yang paling menarik ini.” ***

Bagikan: