Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Mengurangi Anak Bisa Mencegah Perubahan Iklim

Huminca Sinaga
ILUSTRASI dampak perubahan iklim.*/ANTARA
ILUSTRASI dampak perubahan iklim.*/ANTARA

SINGAPURA, (PR).- Dalam rangka perlawanan terhadap perubahan iklim, para ahli lingkungan telah mendesak setiap orang untuk memperhatikan plastik sekali pakai dan membuat beberapa perubahan besar dalam kehidupan sehari- hari. Hal itu bisa dilakukan dengan mengurangi berkendara dan mengubah hal yang kita beli dan makan.

Dilansir CNA, Kamis 8 Agustus 2019, lektor kepala di Singapore Management University, Winston Chow mengatakan bahwa sebagian besar tindakan yang dilakukan orang- orang kurang terlihat. Oleh karena itu, upaya untuk mengubah perilaku dalam jangka panjang sangat diperlukan.

Beberapa langkah bisa saja mengurangi jumlah konsumsi barang, bahan- bahan dan jasa yang menghasilkan emisi karbon.

Survey Mediacorp yang dirilis pada Rabu lalu menunjukan bahwa 9 dari 10 warga Singapura setuju untuk ikut andil dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Sebagian besar dari jejak emisi karbon individu berkembang dari penggunaan energi baik di rumah maupun transportasi, pembuatan barang yang kita beli atau makanan yang kita konsumsi.

Tindakan yang sangat berpengaruh di antaranya adalah menghindari penerbangan yang panjang, penggunaan mobil atau taksi, dan konsumsi daging sapi. Langkah-langkah yang efektif tersebut tampaknya akan sulit dilakukan mengingat budaya yang telah ada.

Kurangi waktu berkendara

Sebuah penelitian pada tahun 2017 memberi peringkat pada 148 tindakan individu yang bisa mengurangi perubahan iklim. Bebas dari mobil merupakan cara paling efektif ke dua di samping tidak memiliki anak.

Penelitian itu juga mengatakan bahwa langkah tersebut bisa mengurangi 2,4 ton emisi rumah kaca dalam setahun.

Menurut National Climate Change Secretariat, di Singapura, mobil pribadi menyumbangkan lebih dari sepertiga emisi untuk sektor transportasi selain dari kendaraan umum, taksi, bus, MRT / LRT dan motor.

Terkait dengan penerbangan, penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa perjalanan pulang- pergi menggunakan pesawat bisa menghasilkan emisi rumah kaca sekitar 1,6 ton, sama seperti yang dihasilkan oleh satu orang di India per tahunnya. Di Singapura sendiri, satu orangnya ikut menyumbangkan rata- rata 10,3 ton gas emisi setiap tahunnya.

Yang bisa kita lakukan ialah membeli pengimbang karbon dari agensi terkemuka untuk mengurangi satu dari dampak- dampak penggunaan transportasi udara. Hal lain yang perlu diperhatian yaitu dampak transpotasi udara yang digunakan untuk keperluan berbelanja bagi lingkungan, ujar Aarti Giri selaku pendiri Plastic- Lite Singapore kepada CNA.

Oleh karena itu, lebih baik jika produk-produk impor yang dibeli berasal dari negara- negara tetangga daripada yang jauh.

Diluar itu, Giri mengatakan bahwa kita harus mulai menghindari kepuasan instan dan harus berbelanja sesuai dengan kebutuhan kita. Hal itu merupakan salah satu langkah yang penting jika kita ingin mencegah perubahan iklim.

Limbah tekstil

Penelitian YouGoy pada 2017 juga menemukan bahwa sepertiga penduduk Singapura membuang pakaian mereka setelah sekali menggunakannya. Pada 2018, Singapura menghasilkan 219.800 ton limbah tekstil atau kulit yang hanya terdaur ulang sebanyak 6% saja.

Jen Teo, direktur utama dari Singapore Environment Council (SEC) juga mengatakan kepada CNA, gaya hidup seperti itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mengubahnya dalam rangka perlindungan lingkungan.

Di samping itu, Giri mengatakan,  perusaahan daging dan susu adalah salah satu kontributor terbesar terhadap perubahan iklim, setelah bahan bakar fosil. Ia pun mengatakan bahwa setiap orang dapat menerapkan diet rendah karbon dengan mengkonsumsi makanan nabati sebanyak mungkin.

Walaupun demikian, limbah makanan masih menjadi masalah di Singapura. Pada 2018 saja, Singapura menghasilkan 763,100 ton limbah makanan dimana 17% nya sudah didaur ulang.

Survey dari SEC baru- baru ini juga menunjukan bahwa kurang dari seperempatnya, dari 1,002 respondennya dapat dikatakan sebagai “konsumen pintar”. Hal ini mengacu pada bagaimana mereka bisa mengatur konsumsi makanan tanpa membuatnya menjadi sia- sia dan terbuang.

Kenaikan suhu

Langkah- langkah ini akan sangat membantu danam memerangi perubahan iklim. Laporan PBB mengatakan tindakan yang ada saat ini masih belum cukup untuk menjaga kenaikan suhu bumi hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra industri.

Karena target ini, pembicaraan di Paris terkait iklim global pada 2015 lalu pun dikatakan akan memiliki manfaat yang jelas bagi manusia dan ekosistem alami. Hal itu dungkapkan oleh Intergovernmental Panel untuk perubahan iklim PBB.

Akan tetapi, Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air, Masagos Zulkifli memperingatkan pada 17 Juli lalu bahwa “waktu kita hampir habis” dan peningkatan suhu ini bisa saja terjadi awal 2030.

Sementara itu, asisten profesor Cheah mengatakan, lebih baik untuk mempertimbangkan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim pada tingkat individual terlebih dahulu . Hal ini dikarenakan dari situlah awal dari aksi terkait iklim dimulai, terlepas dari banyaknya tantangan yang ada.

Beberapa hal yang bisa kita mulai adalah dengan membeli barang- barang bekas layak pakai, pemantauan penggunaan listrik, dan mengadaan pertemuan virtual bagi perusahaan.***

Bagikan: