Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Lawan Depresi dengan Bantuan Realitas Virtual

Huminca Sinaga
VIRTUAL Reality.*/CANVA
VIRTUAL Reality.*/CANVA

NIDIA Silva tidak menyangka mimpinya untuk berenang dengan lumba-lumba bisa tercapai hingga sebuah LSM di Miami memberinya kacamata VR (realitas virtual). Dilansir AFP, Selasa, 6 Agustus 2019,  pemberian kacamata tersebut sebagai bagian dari perawatan eksperimental untuk depresi dan isolasi terhadap lansia.

Silva sedang duduk di Taman Domino di lingkungan Little Havana Miami. Taman ini merupakan tempat yang populer bagi penduduk Kuba, terutama yang untuk lansia. Mereka datang setiap hari dan bermain domino. Alexandra Ivanovitch pun memberikan kesempatan kepada Silva untuk mencoba kacamata VR.

Ivanovitch memberikan demonstrasi VR kepada para pensiunan dari Kuba. Dia membawa mereka bertualang ke Malecon di Havana, ke luar angkasa, ke dasar laut dan ke puncak gunung.

Proyek miliknya ini diberi nama “VR Genie”. Proyek ini dirancang untuk menangkal “kesepian dan isolasi sosial” yang sering mempengaruhi lansia, terutama mereka yang tinggal sendiri atau di panti jompo di mana mereka hampir tidak memiliki kegiatan sama sekali.

"Kami menggunakan realitas virtual untuk memenuhi keinginan para lansia,” kata Ivanovitch.

Melalui VR, para lansia dapat pergi ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi dan tempat yang ingin mereka kunjungi. VR Genie dijalankan oleh organisasi bernama Equality Lab yang didanai oleh Miami-Dade County.

Tujuannya adalah untuk menyediakan rumah perawatan dengan helm VR segera setelah Ivanovitch menyusun “perpustakaan impian” yang lebih luas. Banyak lansia yang bekerja dengannya tidak lagi dapat bepergian sendiri baik secara fisik maupun finansial.

VR untuk Kesehatan Mental

Studi terbaru menunjukkan bahwa realitas virtual dapat membantu orang menghadapi depresi, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Aldrich Chan, seorang ahli saraf dan peneliti di  Universitas Miami berkata “Kami tahu bahwa hal-hal seperti citra dan meditasi yang dipandu bisa sangat bermanfaat bagi kognisi dan hal-hal yang bersifat alami.”

Chan, yang juga berkonsultasi untuk Equality Lab, bertanggung jawab untuk mengukur efek potensial dari penggunaan VR dalam perawatan lansia, khususnya efek dari pemberian harapan terakhir.

Sebuah tim dari University of California, Los Angeles, mempelajari penggunaan VR untuk mengobati anhedonia, yaitu gejala depresi yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mengalami kesenangan ataupun keinginan dalam berbagai kegiatan.

Peneliti masalah kejiawaan, Michelle Craske dan timnya fokus pada memberikan pengalaman positif untuk pasiennya,  dan meditasi untuk mengobati anhedonia.
Craske berpendapat bahwa perawatan yang ada saat ini sudah cukup baik dalam mengirangi gejala depresi, namun belum bisa membuat para pasien untuk menjadi positif.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh Craske awal tahun ini dalam Journal of Consulting dan Clinical Psychology, orang yang berpartisipasi dalam perawatan yang berbasis “pengalaman positif” cenderung memiliki tingkat depresi, kecemasan dan stres yang lebih rendah daripada mereka yang berpartisipasi dalam perawatan standar, dimana perawatan-perawatn ini hanya berfokus pada mengatasi gejala negatifnya saja.***

Bagikan: