Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 26.5 ° C

Gandeng ISBI, Provinsi Bocas del toro Panama Latih Warganya Manfaatkan Bambu

Yusuf Adji
null
null

PROVINSI Bocas del toro Panama memberikan pelatihan bagi warganya memanfaatkan tanaman bambu. Mereka belajar ke Indonesia, menggandeng Institut seni budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Pasalnya tanaman bambu banyak tumbuh di Panama, tetapi masyarakatnya menganggap tanaman itu tak memberikan manfaat.

Melalui kerjasama Universidad De Panama dengan Kedutaan besar RI untuk Panama, Costarica, Nicaragua dan Honduras, digelar pelatihan dan pengenalan memanfaatkan bambu bagi masyarakat di provinsi Bocas del toro daerah Changuinola, wilayah dekat Costarica. Mereka mendatangkan istruktur dari ISBI. Rektor ISBI Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sn.,M.Hum menunjuk Dr. M. Zaini Alif.,S.Sn.,M.Ds dosen FSRD (fakultas Seni Rupa dan desain) prodi Kriya, dan Iyon Supiyono, S.Kar, M.Sn. dosen FSP (Fakultas Seni Pertunjukan) Prodi Musik Bambu untuk melatih dan mengenalkan manfaat bambu.

Melalui kegiatan "Workshop Bambu Indonesia" diselenggarakan pada 23-27 Juli 2019 di Changuinola, Provinsi Bocas del Toro, Panama. Acara dibuka oleh Dubes RI untuk Panama Marsekal Madya TNI (Purn) Budhy Santoso diawali dengan memaparkan kekayaan budaya dan keragaman bambu di Indonesia. "Indonesia merupakan salah satu negara penghasil bambu terbesar di dunia. Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki tanaman bambu. Tanaman tersebut dimanfaatkan menjadi instrumen musik, mebel, aksesoris, makanan, hingga berbagai produk lainnya," kata Dubes dalam realese yang diterima PR.

Dia menyampaikan bambu sangat bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat Indonesia. Kegiatan ini merupakan ajang berbagi kebudayaan Indonesia, khususnya  memanfaatkan bambu dan diharapkan mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Ketua tim Zaini Alif menyampaikan paparan “Bambú Uniendo Naciones” atau Bambu Pengikat Bangsa, dilanjutkan dengan diskusi pemetaan keinginan dan harapan peserta pelatihan. Setelah itu Diskusi tentang varietas bambu di daerah Changuinola, dan dasar tata cara pengawetan bambu.

"Pelatihan berlangsung lebih dari enam hari, banyak hal yang kami berikan kepada peserta, seperti craft, furniture, instrumen music bambu hingga kuliner," ujar Ketua Tim Zaini Alif saat dihubungi PR. Dia mengatakan intinya pelatihan dasarnya, Wilayah dan alam  Panama menyerupai Indonesia termasuk beragam tanaman dan tumbuhannya. Tanaman bambu juga banyak tumbuh di panama. Namun masyarakatnya menganggap tanaman bambu tak memberikan manfaat. "Jadi pelatihan diberikan guna memberikan pemahaman dan memanfaatkan tanaman bambu," katanya.

Zaini mengungkapkan hari kedua, diawali dengan Mencari bambu ke daerah yang disebut Finca lokasinya sekitar 15 menit dari Universitas Panama. "Kami mulai dari ke kebun bambu bersama sama, mulai cara memilih bambu, menebang bambu, memelihara hutan bambu dan sedikit pengantar penanaman bambu dan teknik sederhana mengawetkan bambu.  Peserta menebang dan memotong memilih dan membawa sendiri pohon bambu yang mereka pilih," ujarnya.

Dikatakannya pada hari ke tiga peserta mulai mencoba membelah, memilah, meraut dan “ngahua” bambu. Kemudian membuat anyaman dasar dari bambu yaitu anyaman sasag, mereka menyebut juga anyaman sasag sebagai jalan mengenal budaya bambu Indonesia. Anyaman tersebut memberi banyak peluang pengembangan bentuk dan desain. Dalam satu hari mengerjakan bentuk yang berbeda-beda sesuai ide desainnya.

Di hari ke empat peserta membuat bambu yang menghasilkan suara, dari bilah yang menyerupai bilah angklung dan kohkol (kul-kul atau tong-tong) serta sedikit pengenalan cara melaras bambu. Pemilihan bambu dan pengenalan cara menghasilkan bunyi menjadi bagian focus pada workshop hari itu. 

Hari kelima peserta Workshop furnitur bambu, dasar-dasar pembuatan furniture, menyambung bambu, mengikat dan membuat struktur bambu. Kemudian bersama mengenal pengolahan rebung bambu, dari merendam membersihkan dan memasaknya.  

Hari selanjutnya, bersama Universidad de panama, membuat pameran hasil karya masing-masing peserta, mulai dari craft, furniture, instrumen music bambu. Kemudian ditutup dengan makan bersama hasil memasak rebung dengan bumbu ala panama serta presentasi bantuan modal microbisnis, pembagian sertifikat untuk peserta.

Setelah pelatihan beberapa peserta menyampaikan bagaimana mereka mulai terbuka pemikiran dan motivasinya mengembangkan bambu di panama dari mulai ide pembuatan craft dll. Menurut mereka pelatihan harus dilanjutkan ke tahapan selanjutnya dengan program workshop lanjutan. Zaini menyarankan peserta membentuk komunitas bambu panama Indonesia yang diberi nama Familia Bambú Panamá Indonesia di bawah Universidad de panama dan KBRI termasuk penguatan kerjasama antara Universidad de panama dengan ISBI. Acara "Workshop Bambu Indonesia" tersebut rencananya akan diselenggarakan dua kali, pada 2019 dan 2020.***

Bagikan: