Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

Cahaya Biru Ternyata Bermanfaat untuk Pekerja Malam

Huminca Sinaga
ILUSTRASI cahaya biru yang dipancarkan oleh telefon pintar.*/DAILY MAIL
ILUSTRASI cahaya biru yang dipancarkan oleh telefon pintar.*/DAILY MAIL

ILLINOIS - ,(PR).-Tim ilmuwan Amerika mengamati bagaimana otak bereaksi terhadap paparan cahaya biru yang singkat tetapi intens, untuk melihat jika hal ini memberi efek pada tidur manusia.

Seperti dilansir AFP, Sabtu, 27 Juli 2019,  ponsel pintar sekarang sudah menjadi bagian penting bagi kehidupan sehari-hari sehingga sejumlah orang membawanya ke tempat tidur. Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa cahaya biru yang mereka pancarkan memiliki efek negatif pada kesehatan, terutama tidur. 

Sebuah studi baru yang muncul dalam jurnal eLife menganalisis efek kulatan cahaya biru yang memengaruhi siklus tidur.

Tiffany Schmidt, Profesor Neurobiologi di Universitas Northwestern di Illinois sekaligus pemimpin penelitian, mengatakan bahwa penting untuk memahami bagaimana efek cahaya biru itu pada otak manusia. 

“Kita semua memiliki smartphone, dan mereka menghasilkan cahaya yang amat cerah. Kita semua terkena cahaya pada waktu yang salah. Jadi, penting bagi kita untuk memahami bagaimana berbagai cahaya ini berefek pada otak kita," ucapnya.

Untuk lebih memahami apa yang terjadi pada otak saat mata terfokus pada layar smartphone di waktu tidur, tim dari Profesor Schmidt menggunakan tikus yang telah dimodifikasi secara genetik di sel-sel retinanya.

Tikus merupakan hewan yang nokturnal, mereka akan tidur jika disinari oleh cahaya. Namun, tikus-tikus yang diuji di penilitian ini tetap terjaga saat mereka terkena kilatan cahaya pendek di malam hari.

Suhu tubuh tikus juga tidak merespon cahaya yang minim, menunjukkan bahwa ritme sirkadian keseluruhan mereka tetap utuh.  Ini membantu menjelaskan mengapa menggunakan smartphone pada waktu tidur, dapat meningkatkan rasa lelah pada hari berikutnya, meskipun tidak memberi efek dalam jangka panjang pada silkus tidur manusia.

Untuk saat ini, penelitian menunjukkan bahwa sistem yang merespon cahaya  masih belum jelas, masih belum jelas manakah wilayah otak yang sebenarnya dapat menangani kilatan cahaya.

Oleh karena itu, peneliti menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk melihat berbagai cara bagaimana otak kita bereaksi terhadap cahaya.
Menurut tim penelitian, hal ini dapat membantu orang yang bekerja semalaman untuk tetap terjaga melalui penggunaan cahaya, sambil mengurangi risiko kesehatan yang terkait dengan masalah kurang tidur seperti depresi, diabetes, dan kanker.***

Bagikan: